sedang mengembangkan teknologi baterai kendaraan listrik atau electric vehicledari jenis natrium-ion pada 2026. Langkah ini disinyalir bakal menjadi game changer di industri otomotif di seluruh dunia.
Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai, peluncuran Na-ion CATL Naxtra bakal menjadi jadi game changer yang secara resmi mengakhiri era EV sebagai barang mewah.
Ia memprediksi, inovasi CATL bakal menutup masa depan mobil berbahan bakar konvensional atau Internal Combustion Enginejauh lebih cepat dari perkiraan.
Karena, sebelumnya banyak pihak yang masih pesimis untuk dapat mengakhiri dominasi kendaraan berbahan bakar fosil.
”Dengan rencana penerapan massal di lebih dari 30 model kendaraan pada 2026, teknologi ini meruntuhkan hambatan harga yang selama ini jadi ganjalan utama adopsi EV.
Akademisi dari Institut Teknologi Bandungitu mengungkapkan, secara fundamental, CATL Naxtra bakal hadir dengan harga lebih murah, kualitas lebih unggul di kondisi ekstrem, serta keamanan lebih tinggi dibanding LFP dan NMC.
Ia menjelaskan, harga sel baterainya diprediksi berkisar di bawah USD19/kWh, jauh lebih ekonomis dibanding LFP di kisaran USD55–70/kWh atau NMC yg bisa tembus USD80-100+/kWh.
Lalu, dari sisi teknis, lanjut Yannes, kepadatan energi baterai ini sudah mencapai 175 Wh/kg, menyamai batas bawah LFPdan mulai menekan dominasi NMC
Yannes juga mengklaim, stabilitas termal sodium-ion cukup tinggi, risiko terbakar rendah, proteksi lebih kuat, dan jelas kontras dengan NMC yang lebih rentan thermal runaway.
”EV yang pakai baterai Na-ion CATL Naxtra bakal punya harga beliyang jauh lebih kompetitif karena biaya produksi selnya rendah,” katanya.
Dampak dari teknologi terbaru ini, kata Yannes, bakal membuat harga mobil listrik bisa lebih murah dari mobil ICE di kelas yang sama.
”Biaya operasional harianEV pengguna baterai jenis Na-ion juga terpotong drastis berkat efisiensi energi listrik yang lebih hemat dibanding BBM, ditambah biaya perawatan rutin yang minim karena tidak ada komponen mesin yang kompleks,” jelasnya.