Adang Serbuan Mobil China, Daihatsu Geber Produksi Under Rp300 JutaDaihatsu Sumbang 35 persen Produksi Otomotif Nasional, Ekspor Tembus 85 Ribu Unit
Penurunan perolehan laba bersih tersebut beriringan dengan pendapatan bersih konsolidasian perseroan yang melandai 3 persen menjadi Rp157,9 triliun dari posisi Rp162,9 triliun pada semester I 2025.
Head of Corporate Relations Astra International, Tira Ardianti, menegaskan bahwa struktur operasional perseroan saat ini tetap berfokus pada tiga pilar bisnis utama guna menopang kinerja jangka panjang.
“Tiga bisnis inti ini menyumbang sekitar 90 persen terhadap pendapatan secara konsolidasi, Sedangkan wider businesses, yang terdiri dari beberapa bisnis yang tidak masuk ke dalam tiga bisnis inti, kontribusinya sekitar 10 persen,” ujar Tira Ardianti dalam gelaran Astra Media Day di Menara Astra, di Jakarta, Rabu, 23 September 2026.
Penurunan laba bersih grup secara keseluruhan utamanya dipengaruhi oleh penurunan kontribusi dari bisnis solusi pertambangan dan alat berat.
Sektor solusi pertambangan dan alat berat membukukan laba bersih tanpa memperhitungkan non-recurring items sebesar Rp2,7 triliun pada semester I 2026, atau merosot 46 persen dibandingkan perolehan Rp5 triliun pada semester I 2025.
Koreksi pada sektor pertambangan tersebut dipengaruhi oleh minimnya volume penjualan emas dari tambang emas Martabe, dampak penurunan kuota produksi batu bara nasional akibat alokasi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya, hingga menekan permintaan alat berat Komatsu yang penjualannya turun 27 persen menjadi 1.994 unit.
Sementara itu, penjualan emas dari tambang Martabe hanya mencapai 23.000 ons pada semester 2026 akibat sempat berhentinya operasional sementara di awal tahun, sebelum kembali berproduksi sejak kuartal II 2026.
Kendati demikian, dua lini bisnis utama Astra lainnya mencatatkan pertumbuhan positif. Bisnis otomotif berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp5,9 triliun atau naik 9 persen dibandingkan semester I 2025.
Di sisi lain, lini bisnis jasa keuangan melaju naik 6 persen dengan mengantongi laba bersih mencapai Rp4,6 triliun.
Keyakinan manajemen terhadap ketahanan bisnis otomotif dan jasa keuangan ini menjadi fondasi kuat yang mendorong aksi borong saham oleh para petinggi perseroan secara berkelanjutan.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.