Bursa Asia Melaju, Rupiah Layu: Dolar AS Makin Berkuasa

Sebagian indeks saham acuan negara berkembang Asia mampu menguat, tetapi tekanan pada mata uang regional menunjukkan bahwa sentimen investor belum sepenuhnya positif.

Indeks MSCI emerging market Asia naik sekitar 0,5 persen, didukung terutama oleh Taiwan dan Korea Selatan. Taiex Taiwan menguat 1,8 persen dan sempat menyentuh level tertinggi dalam hampir dua bulan. Sementara itu, KOSPI Korea Selatan naik sekitar 0,2 persen.

Pergerakan tersebut berbeda dengan kawasan Asia Tenggara. Indeks MSCI ASEAN turun sekitar 0,3 persen dan berada di level terendah dalam dua pekan.

Bursa Malaysia turun lebih dari 1 persen, sedangkan indeks saham Singapura melemah sekitar 0,8 persen.

Thailand, Filipina, dan Indonesia justru bergerak lebih positif. Hingga pukul 15.30 WIB, IHSG tercatat menguat lebih dari 1 persen.

Perbedaan antara kinerja saham dan mata uang menjadi bagian penting dari kondisi pasar saat ini. Ketika saham masih mampu naik sementara mata uang melemah, penguatan indeks tidak serta-merta menunjukkan bahwa risiko eksternal telah mereda.

Rupiah, Bath, Ringgit Kompak Layu

Di pasar valuta asing, rupiah ditutup di Rp17.744 per dolar AS, melemah 0,12 persen dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.722.

Pelemahan rupiah masih lebih kecil dibandingkan won Korea Selatan yang turun 0,44 persen, ringgit Malaysia 0,25 persen, dan baht Thailand 0,18 persen. Yen Jepang melemah 0,17 persen, sedangkan dolar Singapura turun 0,15 persen.

Di sisi lain, rupee India dan dolar Taiwan justru menguat masing-masing 0,27 persen dan 0,08 persen terhadap dolar AS.

Kondisi tersebut menunjukkan penguatan bursa Asia tidak berlangsung seragam dengan penguatan mata uang. Tekanan terhadap mata uang terutama datang dari kenaikan dolar AS dan perubahan ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga global.

Harga Minyak Jadi Perhatian

Salah satu faktor utama yang membentuk sentimen pasar adalah kenaikan harga minyak. Brent kembali berada di atas USD90 per barel, bahkan Reuters mencatat harga Brent mencapai sekitar USD91,94 per barel pada perdagangan Selasa.

Kenaikan tersebut berkaitan dengan kembali memanasnya konflik di Timur Tengah dan meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi.

Kenaikan harga minyak menjadi persoalan bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi. Biaya energi yang lebih tinggi dapat meningkatkan biaya produksi dan transportasi, sekaligus memberikan tekanan terhadap inflasi.

Dampaknya tidak berhenti pada pasar komoditas. Ketika investor memperkirakan inflasi akan bertahan lebih tinggi, ekspektasi terhadap suku bunga juga dapat berubah.

Kondisi tersebut biasanya meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar AS dan instrumen pendapatan tetap, sementara aset berisiko di negara berkembang menghadapi tekanan.

Situasi tersebut terlihat dari pasar obligasi global. Imbal hasil US Treasury 10 tahun naik ke sekitar 4,78 persen, level tertinggi dalam hampir 20 bulan.

Sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jepang bertenor 10 tahun mendekati 3 persen, level yang tidak terlihat selama beberapa dekade.

Kenaikan yield berarti harga obligasi mengalami tekanan jual. Pada saat yang sama, kenaikan yield acuan global dapat meningkatkan biaya pendanaan dan membuat investor melakukan penyesuaian portofolio.

Mengapa IHSG Masih Menguat?

Dalam kondisi seperti ini, penguatan IHSG menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia memiliki faktor domestik yang masih mampu menopang indeks.

Data yang diberikan menunjukkan IHSG menguat lebih dari 1 persen hingga sore hari, meskipun rupiah melemah. Artinya, pergerakan saham domestik pada hari tersebut tidak sepenuhnya mengikuti tekanan mata uang regional.

Namun, penguatan IHSG perlu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Pelemahan rupiah dapat meningkatkan risiko imported inflation, terutama jika harga komoditas energi global juga meningkat.

Indonesia sendiri baru mencatat inflasi tahunan 3,19 persen pada Agustus 2026, sementara neraca perdagangan Juli hanya surplus sekitar USD0,12 miliar.

Reuters mencatat surplus tersebut merupakan pembalikan dari defisit USD450 juta pada Juni, tetapi impor tumbuh 27 persen dan jauh lebih cepat dibandingkan ekspor yang tumbuh sekitar 6 persen.

Kombinasi rupiah yang melemah, harga minyak yang tinggi, dan surplus perdagangan yang tipis menjadi faktor yang perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan sensitivitas ekonomi Indonesia terhadap perubahan kondisi eksternal.

Pasar Menunggu Data Tenaga Kerja AS

Perhatian berikutnya tertuju pada data nonfarm payrolls Amerika Serikat yang akan dirilis Jumat. Data tersebut penting karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Federal Reserve.

Kenaikan harga energi dan imbal hasil obligasi saat ini membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.

Reuters melaporkan investor meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga AS setelah pernyataan hawkish dari pejabat The Fed.

Jika data tenaga kerja AS menunjukkan ekonomi masih kuat dan tekanan inflasi tetap tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi dapat bertahan lebih lama.

Kondisi tersebut berpotensi menopang dolar AS dan memberikan tekanan terhadap mata uang emerging market.

Sebaliknya, data tenaga kerja yang lebih lemah dapat mengubah ekspektasi tersebut.

Karena itu, pergerakan rupiah dan pasar saham Asia dalam beberapa hari ke depan akan sangat sensitif terhadap data ekonomi AS, harga minyak, serta perkembangan konflik Timur Tengah.

Saham Menguat, Rupiah Melemah

Pergerakan Selasa menunjukkan bahwa kenaikan indeks saham Asia tidak otomatis berarti seluruh aset di kawasan sedang menguat.

Taiwan dan Korea Selatan mampu menopang indeks emerging Asia, sementara sejumlah pasar Asia Tenggara justru mengalami tekanan.

Indonesia berada dalam posisi yang berbeda. IHSG mampu menguat, tetapi rupiah tetap melemah ke Rp17.744 per dolar AS.

Kondisi ini menunjukkan adanya perbedaan respons antara pasar saham dan valuta asing.

Untuk pasar saham, perhatian selanjutnya berada pada kemampuan IHSG mempertahankan penguatan di tengah kenaikan yield global.

Sementara bagi rupiah, perkembangan dolar AS, harga minyak, arus modal asing, dan ekspektasi suku bunga The Fed menjadi faktor utama.

Dengan demikian, penguatan IHSG pada perdagangan Selasa belum menghapus risiko eksternal. Pasar masih menghadapi kombinasi harga minyak tinggi, yield obligasi global meningkat, dolar AS menguat, dan ketidakpastian geopolitik.

Pergerakan beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh apakah tekanan tersebut mereda atau justru berlanjut.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.