Krisis Hormuz Picu Indonesia Terbitkan Lebih Banyak Kebijakan EBTThe Telkom Hub Capai Net Zero Emisi, 66 PoP Telkom Kini Gunakan 21 Persen Energi Terbarukan
Pasar juga memperkirakan masih ada pengetatan lebih dari 90 basis poin sepanjang siklus ini. Jika dikonversi ke kenaikan seperempat poin, angka tersebut setara dengan hampir empat kali kenaikan suku bunga.
Yield Treasury AS tenor dua tahun berada di level 4,9035 persen. Angka tersebut relatif stabil pada Jumat setelah melonjak 16 basis poin sepanjang pekan dan bertahan di sekitar level tertinggi dalam dua tahun.
Keputusan Federal Reserve kembali menaikkan suku bunga pada pekan lalu mulai terasa di berbagai pasar dunia. Ketika tekanan inflasi meningkat, sejumlah bank sentral negara lain ikut mengambil sikap lebih hawkish.
Bank sentral Norwegia, Norges Bank, menaikkan suku bunga pada Kamis. Bank sentral Swedia, Riksbank, juga memberi sinyal kemungkinan mengikuti langkah tersebut sebelum akhir tahun.
Bank sentral Meksiko, Banxico, memilih mempertahankan suku bunga. Namun, bank tersebut menghapus panduan sebelumnya yang mengisyaratkan bahwa suku bunga akan bertahan dalam periode panjang.
Situasi tersebut ikut membuat dolar AS tetap perkasa. Mata uang tersebut telah menguat 1 persen sepanjang pekan menjadi 101,25 terhadap sejumlah mata uang utama, mendekati level tertinggi sejak akhir Juli.
Di pasar komoditas, minyak Brent turun 0,8 persen menjadi USD105,75 atau sekitar Rp1,89 juta per barel.
Penurunan itu terjadi setelah harga minyak sempat melonjak 3 persen dalam perdagangan sebelumnya menyusul serangan rudal Houthi terhadap Arab Saudi yang kembali memunculkan kekhawatiran soal gangguan pasokan.
Di tengah semua kekacauan tersebut, pasar masih menggenggam secuil harapan bahwa konflik Amerika Serikat dan Iran bisa mereda. Kedua negara dilaporkan tengah mengeksplorasi jalur bertahap untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Bagi pasar global, persoalannya kini menjadi semakin rumit.
Obligasi Amerika Serikat menawarkan imbal hasil yang makin tinggi, minyak kembali mahal, bank sentral mulai bersiap menghadapi inflasi, sementara risiko geopolitik masih berkeliaran di belakang layar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.