China Ikut Pusing, Iran Diminta Redam Houthi yang bikin Jalur Minyak Terancam

E50 Mulai Disiapkan, Prabowo Minta Bahlil Tiru Strategi B50MUI Minta Suahasil Integrasikan Ekonomi Syariah ke dalam Kebijakan Fiskal Negara

Kondisi tersebut membuat ancaman terhadap pelayaran Laut Merah menjadi persoalan yang tidak bisa dianggap sebagai urusan Saudi, Iran, atau Yaman saja. Bagi China, jalur tersebut adalah urat nadi.

Alex Vatanka, Direktur Program Iran di Middle East Institute, mengatakan kepentingan China di Timur Tengah jauh lebih luas daripada hubungannya dengan Iran.

Sekitar separuh impor minyak China berasal dari kawasan tersebut, sementara nilai perdagangan China dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk atau Gulf Cooperation Council mencapai sekitar USD300 miliar per tahun atau sekitar Rp5.370 triliun dengan kurs Rp17.900 per USD.

“Iran bisa mengganggu Hormuz. Namun pada titik tertentu, pengaruh itu mulai merugikan kekuatan yang semakin bergantung pada Iran,” kata Vatanka kepada Reuters.

Kalimat itu barangkali menjadi inti dilema Teheran. Iran memang memiliki kartu strategis berupa kemampuan mengganggu jalur energi.

Tetapi semakin lama kartu itu dimainkan, semakin besar pula risiko bahwa pihak yang ikut terkena dampaknya justru negara yang selama ini menjadi salah satu mitra ekonomi terpenting Iran.

Beijing dan Teheran saling membutuhkan

Hubungan China dan Iran memang memiliki bobot ekonomi dan strategis yang besar.

China menjadi salah satu negara yang memiliki kapasitas finansial untuk membantu investasi yang dibutuhkan Iran guna mempertahankan industri minyaknya sekaligus meringankan tekanan ekonomi akibat perang dan sanksi.

Beijing juga pernah menunjukkan bahwa pengaruh diplomatiknya di Timur Tengah bukan sekadar pajangan.

Pada 2023, China menjadi mediator kesepakatan yang memulihkan hubungan diplomatik Iran dan Arab Saudi setelah bertahun-tahun kedua negara berada dalam hubungan yang tegang. Namun, pengaruh tersebut juga punya batas.

Sejumlah pengkritik di Iran menilai perdagangan dan investasi nonminyak China di Iran masih relatif kecil sejak kedua negara menandatangani pakta kerja sama 25 tahun pada 2021.

Kondisi tersebut semakin terlihat jika dibandingkan dengan komitmen investasi China yang terus berkembang di negara-negara Arab Teluk.

Jadi, meskipun China penting bagi Iran, Beijing tidak memegang seluruh remote control kebijakan Teheran.

Tiga sumber Iran yang berbicara kepada Reuters juga menegaskan bahwa kepentingan China hanyalah salah satu faktor dalam pengambilan keputusan Iran.

Teheran harus mempertimbangkan kepentingan strategis, ekonomi, dan politik yang saling bertabrakan.

Seorang diplomat Barat tersebut menggambarkan hubungan itu dengan sederhana. “Teheran dan Beijing saling membutuhkan.”

Iran membutuhkan China sebagai mitra ekonomi dan salah satu pembeli utama minyaknya. China membutuhkan stabilitas jalur energi dan perdagangan yang melewati kawasan tersebut.

Masalahnya tinggal satu. Seberapa jauh masing-masing negara bersedia menggunakan pengaruhnya untuk menjaga kepentingan tersebut?

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.