Pada saat yang sama, dana milik penduduk Indonesia yang ditempatkan di luar negeri tercatat mencapai USD25,70 miliar sepanjang 2025 atau lebih besar dibandingkan arus masuk modal asing yang sebesar USD21,68 miliar pada periode yang sama.
Data Neraca Pembayaran Indonesia yang dipublikasikan Bank Indonesia menunjukkan arus masuk bersih modal asing dalam transaksi finansial mencapai USD21,68 miliar sepanjang 2025.
Pada triwulan I-2026, arus masuk modal asing tercatat sebesar USD4,21 miliar.
Sementara itu, arus keluar bersih modal penduduk Indonesia mencapai USD25,70 miliar sepanjang 2025 dan berlanjut sebesar USD9,14 miliar pada triwulan I-2026.
Ekonom Bright Indonesia, Awalil Rizky, mengatakan kondisi tersebut menunjukkan arus keluar modal penduduk Indonesia telah melampaui arus masuk modal asing.
“Modal asing masih enggan masuk sebesar biasanya, bisa dikatakan bersikap ‘wait and see’,” kata Awalil dalam risetnya dikutip Senin, 1 Juni 2026.
Menurut data Bank Indonesia, arus masuk modal asing pada 2025 melanjutkan tren yang telah berlangsung sejak 2020. Nilainya masih jauh di bawah capaian sebelum pandemi ketika arus masuk modal asing sempat mencapai USD51,90 miliar pada 2019.
Pada saat bersamaan, arus keluar modal penduduk Indonesia tercatat lebih besar dibandingkan arus masuk modal asing sepanjang 2025. Dalam dua dekade terakhir, kondisi serupa hanya terjadi pada 2008 dan 2022.
“Pada saat bersamaan, modal penduduk masih mengalir deras keluar,” ujar Awalil.
Dalam transaksi finansial Neraca Pembayaran Indonesia, arus modal dikelompokkan ke dalam investasi langsung, investasi portofolio, dan investasi lainnya.
Pada masing-masing kelompok tersebut dicatat pula transaksi modal asing yang masuk ke Indonesia serta modal penduduk Indonesia yang ditempatkan di luar negeri.
Pada kelompok investasi langsung, arus masuk modal asing mencapai USD22,28 miliar sepanjang 2025 dan sebesar USD3,13 miliar pada triwulan I-2026.
Investasi langsung merupakan jenis investasi yang terkait dengan kepentingan jangka panjang, termasuk pembangunan pabrik baru, penambahan kapasitas produksi, pendirian usaha baru, maupun pembelian saham yang memungkinkan investor turut mengelola perusahaan.
Awalil menyebut arus masuk investasi langsung asing dalam beberapa tahun terakhir masih berada di bawah periode sebelum pandemi.
“Arus masuk modal asing jenis investasi langsung selama beberapa tahun ini sejak 2020 relatif lebih sedikit dibanding era pracovid,” katanya.
Sementara itu, investasi langsung milik penduduk Indonesia yang ditempatkan di luar negeri menunjukkan kecenderungan meningkat sejak 2022 dan masih berlanjut hingga triwulan I-2026.
Pada kelompok investasi portofolio yang mencakup saham, obligasi korporasi, dan Surat Berharga Negara, modal asing mencatat arus keluar bersih sebesar USD6,77 miliar sepanjang 2025.
Kondisi tersebut tergolong tidak biasa karena selama dua dekade terakhir investasi portofolio asing hanya mencatat arus keluar pada 2022 dan 2025.
Pada triwulan I-2026, investasi portofolio asing kembali mencatat arus masuk sebesar USD2,43 miliar.
Sementara itu, investasi portofolio milik penduduk Indonesia yang ditempatkan di luar negeri mencatat arus keluar sebesar USD2,60 miliar sepanjang 2025. Pada triwulan I-2026, nilainya mencapai USD1,70 miliar.
“Nilai keluarnya cenderung meningkat beberapa tahun terakhir,” ujar Awalil.
Kelompok investasi lainnya yang mencakup utang dagang, pinjaman, serta uang dan simpanan pada bank atau lembaga keuangan juga menunjukkan pergerakan yang signifikan.
Pada 2025, investasi lainnya dari modal asing mencatat arus masuk sebesar USD8,27 miliar. Namun pada triwulan I-2026, kelompok ini justru mencatat arus keluar sebesar USD1,05 miliar.
Di sisi lain, investasi lainnya milik penduduk Indonesia yang ditempatkan di luar negeri mencatat arus keluar sebesar USD17,22 miliar sepanjang 2025. Pada triwulan I-2026, nilainya mencapai USD6,75 miliar.
Dengan perkembangan tersebut, arus neto investasi lainnya pada triwulan I-2026 tercatat keluar sebesar USD7,8 miliar. Adapun sepanjang 2025, arus neto investasi lainnya tercatat keluar sebesar USD8,95 miliar.
“Bentuk transaksi terbanyak dalam jenis ini adalah simpanan di lembaga keuangan,” kata Awalil.
Ia menjelaskan data transaksi finansial sepanjang 2025 dan triwulan I-2026 menunjukkan adanya perkembangan yang perlu dicermati dari sisi arus modal.
“Kondisi arus transaksi finansial pada 2025 dan Triwulan I-2026 memberi indikasi yang kurang baik bagi ketahanan eksternal Indonesia,” ujarnya.
Menurut Awalil, kondisi tersebut ditandai oleh arus masuk modal asing yang masih belum kembali seperti sebelum pandemi dan arus keluar modal penduduk yang tetap tinggi.
“Modal asing masih enggan masuk sebesar biasanya, bisa dikatakan bersikap ‘wait and see’. Pada saat bersamaan, modal penduduk masih mengalir deras keluar,” kata dia.
Awalil menambahkan faktor persepsi risiko menjadi salah satu pertimbangan utama pemilik modal dalam menentukan penempatan investasinya.
“Pemilik modal akan menimbang lebih cermat atas keamanan dan keuntungan dalam kondisi yang diwarnai ketidakpastian, termasuk kebijakan pemerintah dan otoritas ekonomi lainnya,” ujar Awalil.