Danantara melihat, sport tourism menjadi salah satu sektor yang paling siap dikembangkan karena memiliki potensi ekonomi besar.
Sektor tersebut juga membutuhkan modal relatif ringan dengan dukungan aset dan infrastruktur yang sudah tersedia.
Managing Director Global Business Development, Corporate Finance & Investments Danantara, Djamal Attamimi menyampaikan hal tersebut dalam Global Leadership Forum Indonesia Sports Summit2026.
Di forum bertajuk Financing the Future of Sport: Trust Funds, Strategic Capital, and National Development itu Djamal menyebut olahraga tidak hanya berkaitan dengan pencapaian prestasi atlet.
Menurutnya, olahraga memiliki potensi ekonomi besar yang membutuhkan dukungan modal dan tata kelola. Untuk itu, diperlukan sistem pendanaan berkelanjutan untuk mengembangkan industri olahraga secara optimal.
Djamal mencontohkan, pengembangan sports tourism yang mampu memberikan dampak ekonomi signifikan. Ia menjelaskan, anggaran pengembangan sports tourism mencapai Rp6,5 miliar pada 2025.
Dari anggaran tersebut, tingkat serapannya mencapai 98,88 persen. Anggaran tersebut menghasilkan aktivitas ekonomi sekitar Rp2 triliun di sejumlah provinsi.
“Modal awal Rp6,5 miliar memberikan dampak ekonomi Rp2 triliun. Itu menunjukkan multiplier effect kegiatan yang berhubungan dengan olahraga cukup tinggi,” kata Djamal dalam siaran persnya, Ahad, 13 September 2026.
Menurut Djamal, dampak tersebut menunjukkan olahraga dapat menjadi penggerak penting perekonomian. Potensi itu semakin besar jika pengembangan olahraga dilakukan melalui perencanaan investasi jangka panjang.
Ia menyebut, nilai ekonomi olahraga Indonesia pada 2024 telah mencapai hampir Rp40 triliun. Indonesia juga memiliki basis pasar besar dengan jumlah penduduk sekitar 280 juta jiwa.
Minat masyarakat terhadap berbagai aktivitas olahraga juga dinilai tinggi. Namun, potensi tersebut perlu diikuti kepastian industri agar investor memiliki dasar yang jelas.
Djamal mengidentifikasi tiga aspek yang perlu diperkuat dalam pengembangan industri olahraga. Ketiganya adalah klasifikasi industri olahraga, pengukuran dampak ekonomi, dan kepastian jangka waktu pendanaan.
“Permodalan hanya akan datang kalau identifikasi dan definisi sektornya jelas dalam ekosistem itu sendiri,” ujarnya.
Djamal menjelaskan, karakter industri olahraga membuat kebutuhan pendanaannya berbeda dengan sektor lainnya.
Investasi olahraga tidak selalu menghasilkan dampak secara cepat. Pembangunan atlet, penyelenggaraan kompetisi, dan pembangunan infrastruktur membutuhkan waktu panjang.
Ia menyebut pengembangan seorang atlet dapat membutuhkan waktu sekitar 12 tahun.
Sementara itu, sebuah liga olahraga membutuhkan sekitar 15 tahun untuk mencapai tingkat kematangan. Adapun stadion memiliki umur ekonomis yang dapat mencapai sekitar 40 tahun.
Karena itu, Djamal menilai skema pendanaan jangka pendek kurang sesuai untuk sejumlah proyek olahraga. “Pendanaan jangka pendek sepertinya kurang sesuai untuk sejumlah proyek olahraga.
Pendanaan perlu disesuaikan dengan waktu yang dibutuhkan agar investasi dapat menghasilkan dampak optimal,” paparnya.
Djamal kemudian menempatkan sport tourism sebagai salah satu sektor yang siap dikembangkan. Kebutuhan modal sektor tersebut dinilai relatif ringan dibandingkan sejumlah proyek olahraga lainnya.
Indonesia juga telah memiliki aset dan infrastruktur yang dapat dioptimalkan. Aset tersebut dapat mendukung kegiatan olahraga sekaligus pengembangan sektor pariwisata.
“Peluang yang bisa segera diwujudkan adalah sport tourism. Kebutuhan modalnya relatif ringan dan aset yang kita miliki sudah ada,” tuturnya.
Menurutnya, sport tourism dapat mengintegrasikan olahraga dengan berbagai sektor ekonomi. Sektor tersebut mencakup pariwisata, perhotelan, transportasi, kuliner, hingga ekonomi masyarakat lokal.
Dengan model tersebut, kegiatan olahraga dapat memberikan dampak ekonomi lebih luas.
Djamal juga menilai PON 2028 di Nusa Tenggara Baratdan Nusa Tenggara Timurdapat menjadi momentum strategis. Ajang tersebut dinilai dapat memperkuat ekosistem olahraga di kedua wilayah.
PON 2028 juga dapat memicu pengembangan berbagai infrastruktur pendukung. Infrastruktur tersebut meliputi stadion, hotel, bandara, hingga akses jalan.
Berbagai fasilitas itu selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk olahraga dan pariwisata secara berkelanjutan. Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani menyampaikan apresiasi atas penyelenggaraan ISS 2026.
Menurut Rosan, ISS 2026 menjadi momentum memperkuat kolaborasi untuk memajukan ekosistem olahraga Indonesia.
“Untuk itu olahraga memerlukan dukungan pendanaan yang berkelanjutan, kemitraan yang kuat dan investasi jangka panjang.
Danantara Indonesia siap berkolaborasi bersama seluruh pemangku kepentingan untuk mendukung pengembangan ekosistem olahraga Indonesia semakin kuat dan berdaya saing,” ujar Rosan.
Rosan menegaskan olahraga tidak hanya berkaitan dengan pencapaian prestasi. Menurutnya, olahraga juga berperan dalam pembangunan manusia dan peningkatan aktivitas ekonomi.
Olahraga juga menjadi instrumen untuk meningkatkan daya saing bangsa.
Kolaborasi pemerintah, dunia usaha, lembaga investasi, federasi olahraga, dan pemangku kepentingan menjadi penting. Kolaborasi tersebut diperlukan untuk membangun industri olahraga yang berkelanjutan.
Dengan pasar besar dan aset olahraga yang tersedia, sport tourism memiliki peluang pengembangan yang menjanjikan. Sektor tersebut dapat menjadi pintu masuk investasi olahraga sekaligus memperluas dampak ekonomi daerah.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.