IHSG Menguat ke 6.414, Sektor Properti Jadi Penopang Utama Pagi iniWall Street Menguat di Tengah Tekanan Utang AS, Laba Korporasi Jadi Penopang Pasar
Data laporan keuangan ADHI tersebut menunjukkan ruang likuiditas perseroan semakin terbatas.
Kondisi ini menjadi penting bagi perusahaan konstruksi karena pengerjaan proyek membutuhkan modal kerja sebelum perseroan menerima pembayaran dari pemberi kerja.
Tekanan itu juga terlihat dari arus kas. Pada semester I 2026, arus kas operasi ADHI tercatat negatif sekitar Rp751 miliar.
Artinya, meskipun perusahaan masih mampu mencatat laba dan mendapatkan kontrak baru, aktivitas operasionalnya belum menghasilkan arus kas positif.
Situasi tersebut menjelaskan mengapa restrukturisasi keuangan menjadi bagian penting dari transformasi ADHI yang didorong Danantara.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana mendapatkan proyek baru, melainkan bagaimana memastikan proyek tersebut menghasilkan margin, kas, dan kemampuan membayar kewajiban.
Menariknya, kinerja operasional ADHI tidak sepenuhnya buruk. Pada semester I 2026, pendapatan perseroan memang turun 18,35 persen menjadi Rp3,11 triliun.
Namun laba bruto justru naik 22,26 persen menjadi Rp700,42 miliar.
Laba usaha juga meningkat 67,42 persen menjadi Rp316,17 miliar, sementara laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp8,49 miliar, naik 12,57 persen.
Dengan demikian, masalah ADHI tidak bisa disederhanakan menjadi perusahaan yang tidak lagi mampu menghasilkan keuntungan. Ada bisnis yang masih berjalan.
Ada proyek baru yang masuk. Margin bahkan menunjukkan perbaikan.
Tetapi di sisi lain, kas menipis dan arus kas operasi masih negatif.
Kontradiksi inilah yang membuat arahan Danantara untuk mengembalikan ADHI kepada bisnis inti kontraktor menjadi menarik. Perseroan tidak harus mencari mesin pertumbuhan baru dari nol.
Yang perlu dilakukan adalah memastikan mesin yang sudah ada tidak terus terbebani oleh struktur bisnis yang terlalu kompleks dan kebutuhan pendanaan dari berbagai lini usaha.
Dalam paparan kinerja 2025, ADHI mencatat kontrak baru sepanjang tahun mencapai Rp18,1 triliun, dengan sekitar 91 persen berasal dari Engineering & Construction.
Data tersebut semakin memperlihatkan bahwa bisnis konstruksi masih menjadi sumber aktivitas utama perseroan.
Namun, besarnya kontrak baru juga harus dibaca hati-hati. Dalam bisnis konstruksi, nilai kontrak tidak langsung menjadi pendapatan atau kas.
Proyek harus dikerjakan, ditagihkan, dan dibayar terlebih dahulu. Karena itu, pertumbuhan order book belum tentu langsung menyelesaikan persoalan likuiditas.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.