Danantara Pangkas Pelindo Jadi 24 Perusahaan, Model Bisnis Diubah

ESDM Utamakan Pengusaha Lokal, Penggunaan Afiliasi Jasa Tambang DibatasiBEI Ubah Aturan ARB Mulai 28 September, Apa Dampaknya bagi Investor?

Angka tersebut penting dibaca ketika Danantara sedang membongkar struktur bisnis PT Pelabuhan Indonesia atau Pelindo.

Perusahaan pelat merah ini tidak sekadar mengurus dermaga dan bongkar muat, tetapi berada di salah satu simpul utama pergerakan barang dalam rantai pasok nasional.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian juga mencatat tingginya biaya logistik dapat menekan daya saing produk nasional, menghambat efisiensi rantai pasok, serta meningkatkan disparitas harga antarwilayah.

Karena itu, efisiensi pelabuhan menjadi bagian dari persoalan yang lebih besar daripada sekadar urusan struktur anak perusahaan.

Skala persoalannya semakin terlihat jika dibandingkan dengan besarnya aktivitas perdagangan Indonesia. Badan Pusat Statistik mencatat nilai ekspor Indonesia sepanjang 2025 mencapai USD282,91 miliar atau sekitar Rp5.063,1 triliun.

Sementara nilai impor mencapai USD241,86 miliar atau sekitar Rp4.330,3 triliun.

Jika keduanya dijumlahkan, nilai perdagangan barang Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai sekitar USD524,77 miliar atau setara Rp9.393,4 triliun dengan kurs Rp17.900 per USD.

Angka tersebut tentu tidak berarti seluruh aktivitas ekspor dan impor itu melewati pelabuhan yang dioperasikan Pelindo.

Namun, besarnya nilai perdagangan tersebut menunjukkan skala ekonomi yang membutuhkan konektivitas logistik dan pelabuhan yang efisien.

Di tengah kebutuhan tersebut, Pelindo sendiri memiliki skala operasi yang tidak kecil. Berdasarkan Laporan Tahunan 2025, perusahaan menangani arus peti kemas sebesar 19,79 juta TEUs sepanjang tahun lalu, tumbuh 5 persen dibandingkan 2024.

Arus kapal mencapai 1,42 miliar GT, sedangkan arus barang nonpetikemas mencapai 195,17 juta ton.

Dari sisi keuangan, Pelindo membukukan pendapatan operasi Rp35,48 triliun pada 2025, meningkat 9 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Total aset perusahaan juga mencapai Rp126,05 triliun.

Artinya, perusahaan yang sekarang sedang dipangkas struktur korporasinya bukan pemain kecil dalam ekosistem logistik nasional.

Justru sebaliknya, volume bisnisnya sangat besar dan perannya bersinggungan langsung dengan pergerakan barang dalam negeri maupun perdagangan internasional.

Kinerja tersebut bahkan masih berlanjut pada 2026. Pelindo mencatat arus peti kemas sekitar 9,96 juta TEUs hingga semester I 2026, tumbuh 7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, laba periode berjalan Pelindo mencapai Rp2,57 triliun, naik 60,44 persen secara tahunan.

Karena itu, pernyataan COO Danantara Dony Oskaria mengenai perubahan Pelindo dari perusahaan yang lebih banyak menjalankan fungsi landlord menjadi operator pelabuhan menjadi bagian penting dari restrukturisasi tersebut.

Danantara tidak hanya memangkas jumlah entitas dari 41 menjadi 24. Model bisnisnya juga sedang dibongkar untuk menentukan apakah Pelindo harus mengambil porsi lebih besar dalam pengoperasian pelabuhan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.