Data Impor Asia Ungkap Arus Minyak Timur Tengah belum Normal

Harga Minyak Turun, Pasar Pantau Pembicaraan Iran-Oman soal Selat HormuzKlaim Trump soal Perundingan AS-Iran Belum Terbukti, Nasib Selat Hormuz Masih Menggantung

“India adalah negara pengimpor utama yang paling dekat dengan Timur Tengah, sehingga setiap kenaikan tajam ekspor dari kawasan Teluk akan pertama kali terlihat dalam kedatangan di pelabuhan India,” tulis Russell.

Namun, data India justru memperlihatkan hal sebaliknya. Kedatangan minyak dari Timur Tengah belum menunjukkan lonjakan yang seharusnya muncul apabila ekspor kawasan tersebut sudah kembali mendekati kondisi normal.

“Apa yang ditunjukkan data impor adalah bahwa jika memang terjadi pemulihan kuat dalam ekspor dari Timur Tengah, minyak tersebut tidak menuju India,” tulis Russell.

Di tingkat Asia, memang terdapat sedikit pemulihan. Kpler mencatat impor minyak mentah dari Timur Tengah yang dibongkar di pelabuhan Asia mencapai 11,11 juta barel per hari pada Agustus, naik dari 10,76 juta barel per hari pada Juli.

Namun, angka itu masih jauh di bawah rata-rata 15,82 juta barel per hari pada tiga bulan sebelum konflik. Artinya, pemulihan yang terjadi belum cukup untuk mengembalikan aliran minyak ke level sebelumnya.

Kenaikan tersebut juga perlu dibaca dengan hati-hati.

Sebagian kargo yang tiba pada Juli dan Agustus kemungkinan telah meninggalkan Timur Tengah ketika terjadi gencatan senjata singkat antara Amerika Serikat dan Iran pada pertengahan Juni hingga awal Juli.

Dengan demikian, kenaikan kedatangan minyak Asia dalam dua bulan terakhir belum tentu menunjukkan bahwa arus ekspor sudah kembali normal.

Bisa jadi sebagian merupakan efek tertunda dari kargo yang berangkat ketika jalur pelayaran sempat lebih longgar.

Kpler mencatat kondisi terendah terjadi pada April ketika impor minyak Asia dari Timur Tengah hanya mencapai 7,01 juta barel per hari. Angka tersebut merupakan level terendah dalam catatan Kpler sejak 2013.

Sejak itu, volume memang meningkat, tetapi masih belum kembali ke tingkat sebelum konflik.

Russell menilai faktor waktu perjalanan kapal menjadi alasan mengapa data Agustus belum dapat menjadi penutup perdebatan.

Namun, sampai saat ini belum ada bukti kuat bahwa impor minyak Asia dari Timur Tengah sudah mendekati kondisi sebelum konflik.

“Sejauh ini belum ada bukti bahwa impor minyak mentah Asia dari Timur Tengah bahkan mendekati level sebelum konflik Iran,” tulis Russell.

Artinya, pasar minyak masih menghadapi satu teka-teki. Washington mengatakan aliran minyak melalui Selat Hormuz mulai pulih, tetapi data pelacakan kapal dan kedatangan minyak di Asia belum menunjukkan pemulihan dengan skala yang sama.

Kalau memang sekitar 15 juta barel minyak per hari sudah keluar dari Timur Tengah, pasar kini tinggal menunggu kapan tanker-tanker tersebut muncul dalam statistik kedatangan Asia.

Jika volume itu belum terlihat pada September, pertanyaan mengenai ke mana minyak tersebut mengalir akan menjadi semakin sulit dihindari.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.