Meski begitu, langkah ini menghadirkan tantangan serius bagi sektor industri pertambangan dan alat berat.
Praktisi pengembangan produk pelumas dari PT Pranet Chemicals, Jerry Stamber, mengatakan bahwa biodiesel memiliki sejumlah keunggulan, terutama karena kandungan Fatty Acid Methyl Estermemiliki daya lubrikasi lebih tinggi dibandingkan solar konvensional. Namun, keunggulan ini diiringi peningkatan biaya perawatan.
“Dampak positif FAME adalah memiliki daya lubrikasilebih tinggi daripada solar konvensional, sehingga mengurangi keausan pada komponen pompa bahan bakar dan injektor.
Emisi gas buang juga lebih ramah lingkungan karena menghasilkan emisi gas rumah kaca dan karbon yang lebih rendah, serta bersifat mudah terurai,” ujar Jerry dalam diskusi daring terkait Dampak dan Solusi Pemakaian Biosolar B50, dikutip Rabu, 30 September 2026.
Namun, menurut dia, peningkatan bauran biodiesel juga menimbulkan persoalan teknis yang perlu diantisipasi pelaku usaha, khususnya sektor yang mengoperasikan kendaraan dan alat berat secara intensif.
Jerry mengutip penjelasan Direktur Pengembangan Produk Pelumas Pertamina era awal B30, Mia Krishna, mengenai dampak biofuel terhadap mesin apabila perawatan tidak dilakukan dengan baik.
“Terdapat tantangan terkait BBM biofuel ini. Saya mengutip penjelasan Direktur Pengembangan Produk Pelumas Pertamina saat itu, Ibu Mia Krishna, bahwa efek lain penggunaan biofuel dapat merusak mesin jika tidak dirawat dengan baik.
Kita harus memperhatikan pemeliharaanuntuk seluruh peralatan, dan pemilik kendaraan harus rutin memeriksa unit mereka untuk menjaga performa mesin,” jelas Jerry.
Persoalan lainnya muncul dari karakter FAME yang dapat melarutkan kotoran di dalam tangki bahan bakar sekaligus menyerap airKotoran yang terlepas berpotensi terbawa menuju sistem pembakaran, sedangkan kandungan air memicu pertumbuhan mikroorganisme.
“Kekurangan dari biofuel ini dapat melarutkan kotoran di dalam tangki sehingga ikut masuk ke mesin. Selain itu, sifatnya yang menyerap air memicu pertumbuhan bakteri di dalam tangki,” kata Jerry.
Menurut Jerry, persoalan tersebut menjadi perhatian penting bagi industri pengguna alat berat berskala besar, termasuk sektor pertambangan, konstruksi, transportasi bus dan truk, hingga pelayaran.
Biaya Alat Berat Berpotensi Naik 3–5 Persen
Jerry mengatakan tantangan teknis tersebut sudah dilaporkan pelaku usaha pertambangan ketika Indonesia menerapkan bauran biodiesel B40.
Pelaku usaha melaporkan potensi kenaikan biaya operasional alat berat atau kegiatan penambangan sekitar 3 hingga 5 persen.
“Tantangan BBM biosolar lainnya berkaitan dengan masalah teknis pada kendaraan. Pelaku usaha sektor pertambangan saat penerapan B40 melaporkan potensi kenaikan biaya alat berat atau penambangan sekitar 3 sampai 5 persen,” ujar Jerry.
Ia menjelaskan, salah satu penyebab utamanya berkaitan dengan karakter pembakaran biodiesel yang berbeda dari solar konvensional.
Jerry mengacu pada data dan ilustrasi teknis Chevron Oronite mengenai perbedaan kurva didihantara bahan bakar fosil dan biofuel.
“Secara teknis, mengutip data Chevron Oronite, petrol konvensional memiliki titik nyala atau boiling curve di suhu 100 derajat Celsius dan sudah mengalami pembakaransempurna,” jelasnya.
Menurut Jerry, sebagian besar desain mesin yang digunakan saat ini, mulai dari kendaraan otomotif hingga alat berat, dirancang sesuai karakteristik pembakaran tersebut.
“Hampir 100 persen desain mesinsaat ini, baik otomotif maupun alat berat, masih menggunakan rancangan pembakaran sempurna pada suhu 100 derajat Celsius,” katanya.
Namun, bauran biodiesel yang lebih tinggi membuat proses pembakaran tidak berlangsung sesuai spesifikasi desain mesin. Titik nyala sempurna biodiesel mencapai suhu 300 derajat Celsius, yang memicu masalah teknis berupa trap regeneration.
Perbedaan karakter pembakaran tersebut menyebabkan ukuran butiranbahan bakar menjadi lebih besar, sehingga tidak seluruh bahan bakar terbakar sempurna di ruang bakar
“Seharusnya bahan bakar solar di dalam combustion chamber mengembun sempurna pada suhu 100 derajat Celsius sesuai desain mesin eksisting.
Namun karena membutuhkan titik nyala yang lebih tinggi, ukuran droplet bahan bakar menjadi lebih besar dari seharusnya,” jelas Jerry.
Kondisi tersebut menyebabkan fenomena wall wetting atau pembasahan dinding ruang bakar akibat bahan bakar yang tidak terbakar sempurna. Akibatnya, endapan terbentuk lebih cepat dan mesin harus lebih sering menjalani proses pembersihan
“Dampaknya, terjadi peningkatan wall wetting di ruang bakar karena bahan bakar tidak terbakar seluruhnya.
Akibatnya, seluruh unit di sektor pertambangan, kelautan, maupun transportasi truk dan bus harus lebih sering melakukan pembersihan,” kata Jerry.
Ia membandingkan interval pembersihan ruang bakar sebelum dan setelah penggunaan bauran biodiesel tinggi.
“Sebelumnya, ruang bakarmesin yang menggunakan solar konvensional hanya perlu dibersihkan dalam rentang waktu 1 hingga 2 tahun.
Namun saat ini, rata-rata setiap 3 hingga 4 bulan sekali ruang bakar harus dibongkar dan dibersihkan dari akumulasi endapan lumpur,” ujarnya.
Masalah kian kompleks ketika sisa FAME yang tidak terbakar merembes ke karter dan bercampur dengan oli mesin. FAME memiliki masalah kompatibilitas terhadap aditif pelumas tertentu.
“Ketika terjadi akumulasi sisa bahan bakar, FAME akan merembes masuk ke karter dan bercampur dengan oli. FAME ini tidak kompatibel dengan aditif tertentu pada pelumas,” jelasnya.
Kondisi tersebut mendorong penggunaan pelumas khusus yang dirancang tahan terhadap reaksi FAME, seperti Pertamina Meditran SX 15W-40, Caltex Delo Gold Ultra 15W-40, serta Shell Rimula R5.
Namun, penggunaan pelumas khusus tersebut menambah beban biaya operasional pemilik kendaraan dan armada alat berat.
“Produk pelumas khusus tersebut harganya relatif mahal, sehingga memberatkan pemilik kendaraan seperti pengusaha bus, truk, maupun perusahaan pertambangan karena harus mengeluarkan biaya ekstra,” ujarnya.
Alat Berat Berisiko Kehilangan Waktu Operasi Produktif
Bagi industri pertambangan, dampak negatif tidak hanya terbatas pada biaya perawatan. Frekuensi pembersihan yang lebih tinggi berpotensi menggerus waktu produktifalat berat.
Jerry mengambil contoh dump truck Caterpillar 777 berkapasitas angkut 100 ton, yang utilisasi operasionalnya dihitung ketat berbasis jam kerja
“Sebagai contoh di sektor tambang, unit Caterpillar 777 dengan kapasitas angkut 100 ton dihitung tingkat utilisasinya per jam,” jelas Jerry.
Ketika alat berat harus ditarik ke bengkeluntuk membersihkan ruang bakar, perusahaan kehilangan waktu kerja produktif yang seharusnya digunakan untuk produksi.
“Masalah muncul ketika unit harus sering ditarik ke workshop hanya untuk pembersihan ruang bakar, sehingga banyak waktu produktif yang hilang. Pembersihan ini memakan waktu setengah hingga satu hari penuh,” ujar Jerry.
Oleh karena itu, Jerry menilai persoalan teknis ini perlu menjadi perhatian bersama dalam rencana penerapan B50. Ia menyebut pemerintah telah menyiapkan sejumlah penyesuaian untuk meminimalkan dampak teknis penggunaan biodiesel.
“Ini merupakan tantangan teknis pada biosolar yang harus menjadi perhatian bersama,” tegasnya.
Ancaman ‘Diesel Bug‘ dan Penyumbatan Filter Bahan Bakar
Selain kendala pembakaran, Jerry menyoroti ancaman kontaminasi mikrobiologi yang dikenal di industri sebagai diesel bug, yakni pertumbuhan bakteri, jamur, dan lumut di dalam tangki penyimpanan bahan bakar.
“Salah satu masalah utama biosolar adalah kendala mikrobiologi atau diesel bug, yang terjadi akibat pertumbuhan bakteri, jamur, dan lumut di dalam tangki penyimpanan,” kata Jerry.
Ia menjelaskan, pertumbuhan mikroorganisme dipicu oleh sifat higroskopis FAME yang mampu menarik dan mengikat molekul air dari udara.
“Kandungan FAME dari minyak kelapa sawit memiliki kemampuan alami menarik dan mengikat molekul air dari udara sekitar,” ujarnya.
Saat terjadi kondensasi, air terpisah dan terakumulasi di dasar tangki, menciptakan lingkungan ideal bagi pertumbuhan mikroorganisme.
“Uap air hasil kondensasi akan terpisah dan terakumulasi di dasar tangki. Perbatasan antara lapisan air dan minyak inilah yang menjadi lingkungan ideal bagi pertumbuhan bakteri dan jamur,” jelas Jerry.
Di lapangan, fenomena ini dikenal luas di sektor pertambangan dan konstruksi sebagai istilah “solar busuk”.
“Fenomena ini sangat umum di industri pertambangan dan konstruksi untuk unit yang sering dalam posisi standby. Bahan bakar di dalam tangki membusuk hingga harus dikuras secara menyeluruh dengan proses yang cukup rumit,” katanya.
Pertumbuhan mikroorganisme menghasilkan lendir dan endapan menyerupai gel yang menyumbat saringan bahan bakarAkibatnya, perusahaan tambang harus mengganti filter jauh lebih cepat dari usia pakai normal.
“Filter solar menjadi cepat tersumbat. Sejumlah perusahaan tambang besar rata-rata harus mengganti filter solar setiap 125 jam kerja, padahal usia pakai normal filter dirancang untuk 500 hingga 1.000 jam kerja,” ujar Jerry.
Kondisi tersebut terjadi bukan karena kualitas filter yang buruk, melainkan karakter endapan biofuel yang berbentuk gel atau jelly.
“Endapan solar konvensional berbentuk abu atau debu halus sehingga cairan bahan bakar masih dapat mengalir.
Sementara pada biofuel, endapannya berupa gel atau jelly yang langsung menyumbat seluruh pori-pori filter, sehingga menjadi beban biaya ekstra bagi pelaku industri pertambangan, konstruksi, pelayaran, hingga transportasi,” jelasnya.
Risiko Korosi hingga Konsumsi BBM Lebih Boros
Jerry juga menyoroti risiko korosi pada sistem bahan bakar akibat mikroorganisme yang menghasilkan asam organik selama siklus hidupnya.
“Mikroorganisme tertentu menghasilkan asam organik yang bersama kandungan air meningkatkan risiko karat atau korosi pada tangki dan komponen presisi tinggi seperti pompa injeksi serta injektor,” jelas Jerry.
Selain penyumbatan filter dan korosi, bauran biodiesel yang lebih tinggi juga berpotensi menurunkan efisiensi bahan bakar sekitar 1 hingga 3 persen.
“Sifat higroskopis memicu endapanyang mempercepat penyumbatan filter, memicu karat pada komponen logam, serta membuat konsumsi bahan bakar sedikit lebih boros.
Efisiensi bahan bakar bauran tinggi cenderung menurun 1 hingga 3 persen dibandingkan solar bauran rendah,” ujar Jerry.
B50 dan Kepentingan Sawit Nasional
Di tengah berbagai tantangan teknis tersebut, Jerry menilai penerapan B50 tetap memiliki nilai strategis nasional untuk mengurangi ketergantungan impor solar dan menyerap produksi sawit domestik.
“Mandatori ini ditujukan untuk kepentingan nasional. Total kebutuhan solar nasional pada 2025 diperkirakan mencapai 111 juta liter per hari,” kata Jerry.
Pada 2025, Indonesia diperkirakan masih mengimpor sekitar 30,39 persen kebutuhan solar atau setara 33,7 juta liter per hari.
Di sisi lain, Indonesia merupakan produsen sawit terbesar dunia dengan total produksi mencapai 56,55 juta ton pada 2025.
“Ini merupakan skema simbiosis mutualisme. Kita membutuhkan tambahan pasokan energi, sementara produksi sawit nasional sangat berlimpah dan penyerapan ekspor sering terkendala hambatan nontarif di pasar global,” ujar Jerry.
Bagi sektor industri, keberhasilan B50 tidak hanya diukur dari penyerapan CPO atau penurunan impor solar, melainkan dari kesiapan teknologi bahan bakar, pelumas, manajemen pemeliharaan, serta penyesuaian mesin agar tidak memicu lonjakan biaya operasional.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.