Donald Trump Ingin Kuasai Greenland, Apa Dampaknya ke Indonesia?

Keinginan Trump untuk menguasai Greenland bukan tanpa alasan. BRI Danareksa Sekuritas dalam laporannya menyebut, secara strategis, Greenland bukan cuma hamparan es.

Greenland menyimpan sekitar 25-40 persen cadangan rare earthdunia. Ini adalah bahan baku utama untuk chip, baterai mobil listrik, dan alutsista canggih.

“AS ingin memutus ketergantungan dari China soal ini,” tulis BRI Danareksa dalam riset hariannya, Senin, 19 Januari 2026.

Belakangan, terdapat perubahan iklim yang mengakibatkan es Kutub Utara mencair sehingga membuka jalur pelayaran Arktik yang lebih pendek antara Asia, Eropa, dan Amerika.

“Greenland sangat krusial untuk radar pertahanan dan pangkalan militer guna memantau aktivitas Rusia dan China di kutub utara,” tulis BRI Danareksa.

Disebutlan, Trump mengancam akan mengenakan tarif impor tambahan sebesar 10 persen hingga 25 persen mulai Februari 2026 bagi negara-negara Eropa (seperti Denmark, Jerman, dan Prancis) yang menolak rencana tersebut.

Lalu, apakah isu rencana pengembialihan Greenland oleh AS bisa berdampak terhadap Indonesia?

BRI Danareksa memandang, secara langsung mungkin jauh, akan tetapi secara makroekonomi dampaknya cukup nyata. Menurutnya, isu ini memicu ketegangan AS dengan Uni Eropa (karena Greenland di bawah kedaulatan Denmark).

“Ketidakpastian global sering kali membuat investor lari ke Safe HavenAkibatnya, Rupiah berisiko melemah,” tulis BRI Danareksa.

BRI Danareksa membeberkan, Indonesia sedang gencar hilirisasi nikel dan bahan baterai. Jika AS berhasil menguasai Greenland, peta persaingan mineral global akan berubah.

“Namun, dalam jangka pendek, ketidakpastian ini justru bisa membuat harga komoditas tambang tetap fluktuatif,” sebutnya.

Lebih jauh BRI Danareksa menambahkan, isu Greenland ini adalah bagian dari “Trump’s Volatility” yang harus  diantisipasi di tahun 2026. Dikatakan, pasar cenderung tidak menyukai ketidakpastian.

Jika isu ini berlanjut menjadi perang tarif (seperti ancaman Trump ke Denmark & Eropa baru-baru ini), tambah BRI Danareksa, pasar saham global akan mengalami koreksi.

“Indeks Harga Saham Gabunganmungkin akan tertekan di jangka pendek, namun ini bisa jadi kesempatan akumulasi di saham-saham blue chip jika fundamental ekonomi domestik kita tetap kuat,” tulis BRI Danareksa.