DRMA Gandeng Minth Group, Bisnis Komponen EV Masuk Babak Baru

Bentuk Usaha Patungan Bersama Minth Group, Laba Bersih DRMA Tergerus 15,6 Persen

DRMA menyebut kerja sama ini diharapkan memberikan dua manfaat, yakni transfer teknologi dan pembentukan sumber pertumbuhan pendapatan baru.

“Kami optimis, setidaknya kerja sama ini akan memberikan dua manfaat positif bagi Dharma Group, yaitu transfer teknologi dan terbentuknya mesin pertumbuhan pendapatan yang baru,” ujar Irianto.

Kinerja Keuangan Masih Tumbuh

Ekspansi ke komponen EV juga dilakukan ketika kinerja keuangan DRMA masih menunjukkan pertumbuhan.

Berdasarkan data hingga kuartal II 2026, pendapatan perseroan secara trailing twelve monthsmencapai Rp6,32 triliun, naik dari Rp5,94 triliun pada 2025.

Laba bersih TTM juga meningkat menjadi Rp695 miliar dari Rp653 miliar pada 2025. Perseroan mencatat EBITDA Rp1,17 triliun dan laba kotor Rp1,14 triliun.

Dari sisi neraca, DRMA memiliki kas Rp539 miliar dengan total utang Rp362 miliar. Sementara itu, belanja modal atau capital expenditureTTM mencapai Rp316 miliar dan free cash flow tercatat Rp562 miliar.

Data tersebut menunjukkan ekspansi melalui Dharma Minth Indonesia dilakukan saat DRMA masih memiliki arus kas operasional yang positif.

Namun, kontribusi bisnis baru tersebut terhadap pendapatan dan laba perseroan belum dapat diukur sebelum pabrik mulai beroperasi dan kontrak pelanggan direalisasikan.

Apa Dampaknya bagi Bisnis DRMA?

Ekspansi tersebut menempatkan komponen EV sebagai salah satu ruang pertumbuhan baru bagi Dharma Group. Selama ini, perusahaan yang berdiri sejak 1989 tersebut bergerak dalam bisnis komponen otomotif untuk sepeda motor dan mobil.

Masuknya DRMA ke Battery Housing, struktur bodi dan sasis berbasis aluminum extrusion, serta komponen plastik melalui JV dengan Minth memperluas jenis produk yang dapat ditawarkan perseroan.

Namun, berdasarkan bahan perusahaan, belum terdapat informasi mengenai nilai kontrak, kapasitas produksi, target penjualan, kontribusi pendapatan, maupun proyeksi laba Dharma Minth Indonesia setelah mulai beroperasi.

Karena itu, dampak finansial terhadap kinerja DRMA belum dapat dihitung dari nilai investasi awal Rp45 miliar saja.

Faktor yang perlu diperhatikan investor berikutnya adalah realisasi pabrik pada 2027, kapasitas produksi, perolehan pelanggan, serta seberapa besar pendapatan baru yang dapat dihasilkan dari portofolio komponen EV tersebut.

Bagi DRMA, pembentukan Dharma Minth Indonesia pada akhirnya bukan hanya penambahan produk, tetapi upaya membangun pijakan baru di rantai pasok kendaraan listrik melalui kombinasi akses teknologi dan jaringan pelanggan Minth Group.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.