EMAS Genggam Rp 14 Miliar Dana Asing, Modal IPO Hong Kong

Perusahaan tambang emas Indonesia tersebut dikabarkan menargetkan penghimpunan dana sedikitnya USD500 juta melalui skema Hong Kong depositary receipts

Langkah ini menarik perhatian pasar karena instrumen HDR sudah sangat lama jarang digunakan di Hong Kong. Bahkan sejak 2014, hampir tidak ada emiten besar baru yang memakai struktur tersebut.

Rencana EMAS muncul di tengah kebangkitan pasar IPO Hong Kong yang kembali ramai setelah beberapa tahun lesu. Bursa Hong Kong juga mulai aktif menarik perusahaan Asia Tenggara untuk melakukan pencatatan lintas negara.

EMAS disebut ingin memanfaatkan momentum tersebut sekaligus mencari sumber pendanaan baru di tengah tekanan pasar saham domestik.

Menariknya, meski IHSG sempat mengalami tekanan besar tahun ini, saham EMAS justru bergerak cukup agresif sejak IPO di Indonesia pada September 2025.

Naik 151 Persen Sejak IPO

Secara historis, saham EMAS tercatat sudah melonjak sekitar 151 persen sejak IPO dengan kapitalisasi pasar mendekati USD6 miliar. Namun dalam beberapa pekan terakhir, saham mulai bergerak fluktuatif mengikuti pergerakan harga emas global.

Jika melihat data perdagangan sepanjang Mei 2026, saham EMAS sempat mengalami tekanan besar pada awal bulan. Pada 8 Mei 2026, saham anjlok 12,22 persen ke level 7.725.

Tekanan berlanjut pada 19 Mei 2026 ketika saham kembali turun 9,81 persen ke level 7.125. Bahkan pada 21 Mei 2026, saham sempat longsor 10,62 persen ke level 6.100.

Namun menariknya, di tengah volatilitas tersebut, arus dana asing sebenarnya masih menunjukkan akumulasi bersih. Dalam periode 5 Mei hingga 26 Mei 2026, total net foreign buy EMAS tercatat sekitar Rp14,12 miliar.

Akumulasi asing terbesar terjadi pada 20 Mei 2026 dengan net buy mencapai Rp20,64 miliar. Sehari kemudian, asing kembali masuk sekitar Rp21,67 miliar saat saham justru terkoreksi lebih dari 10 persen.

Selain itu, net buy asing juga terlihat pada 13 Mei sebesar Rp19,22 miliar, 12 Mei Rp15,14 miliar, dan 6 Mei Rp18,14 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan investor asing masih mulai melakukan penyerapan bertahap di tengah volatilitas harga saham.

Meski demikian, distribusi asing juga masih cukup besar pada beberapa hari tertentu. Net sell terbesar terjadi pada 8 Mei 2026 sebesar Rp33,13 miliar dan 18 Mei sekitar Rp27,40 miliar.

Pergerakan saham EMAS pada sesi perdagangan 26 Mei 2026 sendiri kembali menunjukkan rebound. Saham ditutup naik 175 poin atau menguat 2,36 persen ke level 7.600.

Saham sempat bergerak di rentang 7.225 hingga 7.675 dengan nilai transaksi mencapai Rp183,97 miliar. Volume perdagangan tercatat sekitar 246,96 ribu lot dengan frekuensi transaksi mencapai 9,42 ribu kali.

Area Support Penting Jangka Pendek

Secara teknikal, area 7.200 hingga 7.300 kini menjadi support penting jangka pendek. Sementara resistance mulai terlihat di area 7.775 hingga 7.900.

Pasar saat ini tampaknya mulai membaca dua cerita besar sekaligus pada EMAS. Di satu sisi, volatilitas harga emas global masih menjadi tekanan utama saham tambang emas.

Namun di sisi lain, rencana IPO sekunder di Hong Kong mulai menciptakan ekspektasi baru terhadap valuasi dan akses pendanaan perusahaan.

Apalagi jika aksi korporasi tersebut benar-benar mampu menarik minat investor global terhadap saham tambang emas Indonesia.

SEO Description:  

SEO Keywords: