Badan Geologi mencatat Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Erupsi menerus terjadi sejak 4 September pukul 23.07 WIB dan disertai fenomena lava fountain.
Sebaran abu juga terpantau meluas, sementara pemerintah meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas gunung.
Dampak paling terukur sejauh ini terlihat pada sektor penerbangan. Bandara Internasional Soekarno-Hattasempat ditutup setelah hasil paper test menunjukkan indikasi abu vulkanik di area bandara.
Penutupan awal berlaku mulai pukul 01.30 WIB dan kemudian diperpanjang karena hasil pemeriksaan berikutnya masih menunjukkan indikasi sebaran abu.
209 Penerbangan dan 22.798 Penumpang Terdampak
Berdasarkan data pengelola Bandara Soekarno-Hatta, 209 penerbangan terdampak dengan sekitar 22.798 penumpang. Dari jumlah tersebut, 160 merupakan penerbangan domestik, 39 penerbangan internasional dan 10 penerbangan kargo.
Rute internasional yang terdampak antara lain Singapura, Hong Kong, Sydney, Seoul/Incheon, Doha, Amsterdam dan Kuala Lumpur.
Angka tersebut perlu dibedakan dari data gangguan penerbangan secara nasional. Reuters melaporkan dampak lebih luas mencapai 301 penerbangan di lima bandara, karena gangguan tidak hanya terjadi di Soekarno-Hatta.
Lima bandara yang ditutup sementara mencakup Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Budiarto dan Pondok Cabe.
Perbedaan angka ini penting agar dampak ekonomi tidak dihitung dua kali. Angka 209 merupakan dampak di Soekarno-Hatta, sedangkan 301 mencerminkan cakupan yang lebih luas.
Estimasi Rp36,28 Miliar Kerugian
Perhitungan yang menggunakan 22.798 penumpang dan asumsi harga tiket rata-rata Rp1,5 juta menghasilkan nilai sekitar Rp34,20 miliar.
Jika ditambah asumsi biaya operasional Rp10 juta untuk setiap 209 penerbangan, diperoleh sekitar Rp2,09 miliar. Totalnya sekitar Rp36,29 miliar.
Namun, angka tersebut tidak tepat disebut sebagai kerugian ekonomi aktual.
Nilai tiket yang dibatalkan tidak otomatis menjadi kerugian karena sebagian penumpang dapat melakukan reschedule atau refund.
Demikian pula, biaya operasional Rp10 juta per penerbangan merupakan asumsi, bukan angka yang dirilis maskapai, operator bandara atau pemerintah.
Karena itu, angka Rp36,29 miliar lebih tepat disebut simulasi nilai ekonomi penerbangan yang terdampak, bukan nilai kerugian sektor aviasi.
Dampak sebenarnya baru dapat dihitung setelah diketahui jumlah tiket yang direfund, penerbangan yang dijadwalkan ulang, biaya akomodasi dan kompensasi, kehilangan pendapatan maskapai, biaya operasional bandara, kerugian kargo serta dampak terhadap bisnis pendukung penerbangan.
Perikanan Ikut Terkena Dampak
Aktivitas perikanan di sejumlah wilayah pesisir juga mulai terganggu. Di Lampung, aparat mengimbau nelayan di kawasan Teluk Semangka untuk sementara tidak melaut menyusul sebaran abu vulkanik.
Namun, dampaknya belum dapat digeneralisasi ke seluruh wilayah Selat Sunda. Di kawasan Carita, misalnya, laporan pada 6 September menyebut aktivitas wisata dan nelayan masih berjalan normal.
Artinya, dampak ekonomi sektor perikanan sangat bergantung pada lokasi, arah sebaran abu, jarak dari pusat erupsi dan keputusan otoritas setempat.
Potensi kerugiannya terutama berasal dari berkurangnya hari melaut, penurunan volume tangkapan, gangguan distribusi ikan segar serta biaya tambahan apabila nelayan harus mengubah lokasi operasi.
Pariwisata Belum Menunjukkan Kerugian Seragam
Dampak terhadap pariwisata juga perlu dibaca secara hati-hati. Klaim bahwa kawasan Anyer, Carita dan Lampung mengalami penurunan drastis wisatawan belum dapat dianggap sebagai gambaran keseluruhan.
Di Kabupaten Serang, PHRI justru melaporkan okupansi hotel di kawasan Anyer masih tinggi dan tidak terdapat pembatalan reservasi akibat status Gunung Anak Krakatau hingga 5 September.
Dengan demikian, kerugian pariwisata belum bisa dihitung hanya berdasarkan asumsi pembatalan hotel.
Data yang diperlukan mencakup okupansi sebelum dan sesudah erupsi, jumlah pembatalan aktual, transaksi restoran, kunjungan destinasi, serta aktivitas UMKM dan jasa wisata.
Logistik Masih Berjalan
Jalur penyeberangan Merak-Bakauheni belum mengalami penghentian operasi.
Kementerian Perhubungan menyatakan pelayaran tetap berjalan dengan peningkatan kewaspadaan, sementara kapal diminta menjaga jarak minimal 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau.
Karena itu, belum tepat menyebut erupsi telah menyebabkan kelumpuhan logistik antarpulau.
Risiko terhadap logistik memang ada apabila visibilitas, cuaca atau kondisi laut memburuk, tetapi pada 6 September operasi penyeberangan masih berlangsung.
Dampak Kesehatan dan Produktivitas
Abu vulkanik juga menimbulkan biaya ekonomi yang lebih sulit diukur. Paparan abu dapat meningkatkan kebutuhan masker, perlindungan mata dan pemeriksaan kesehatan.
Reuters melaporkan adanya keluhan iritasi mata di sejumlah wilayah terdampak.
Jika paparan berlanjut, dampaknya dapat masuk ke biaya rumah tangga, absensi pekerja dan produktivitas. Namun, sampai 6 September belum tersedia basis data yang cukup untuk menghitung nilai ekonominya secara agregat.
Kerugian Terbesar Bergantung Pada Durasi Erupsi
Untuk sementara, sektor penerbangan merupakan sumber dampak ekonomi yang paling mudah diukur, karena tersedia data penerbangan dan jumlah penumpang. Sektor perikanan, pariwisata, kesehatan dan logistik masih membutuhkan data lanjutan.
Dengan status Anak Krakatau yang tetap Siaga dan aktivitas erupsi yang masih dipantau, besarnya dampak ekonomi akan sangat ditentukan oleh durasi erupsi, arah sebaran abu dan lamanya gangguan transportasi.
Karena itu, angka Rp36,29 miliar sebaiknya ditempatkan sebagai simulasi awal nilai aktivitas penerbangan yang terdampak, bukan sebagai total kerugian akibat erupsi.
Sampai 6 September 2026, belum tersedia angka resmi yang dapat menggambarkan total kerugian ekonomi lintas sektor secara nasional.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.