Pergerakan ini terjadi saat Wall Street bersiap menutup bulan yang menguntungkan, disokong oleh dorongan kuat dari sektor teknologi.
Seperti dilansir CNBC, kontrak berjangka Dow Jones Industrial Average terkoreksi 66 poin atau 0,1 persen. Sementara itu, futures S&P 500 dan Nasdaq-100 turut melemah tipis sebesar 0,1 persen.
Pelemahan ini menyusul penutupan perdagangan pada Jumat lalu, di mana S&P 500 melandai 0,25 persen ke level 7.711,76 dan Nasdaq Composite merosot 0,52 persen ke posisi 26.402,42 akibat tekanan pada saham semikonduktor seperti Nvidia dan Intel.
Sementara itu, Dow Jones mengakhiri pekan lalu dengan koreksi tipis 9,45 poin atau 0,02 persen di level 53.559,99.
Meski demikian, secara mingguan S&P 500 tetap mampu mencatatkan penguatan 0,5 persen bersama Dow Jones yang mengakhiri tren penurunan tiga minggunya. Nasdaq Composite juga mencatatkan kenaikan mingguan sebesar 0,9 persen.
Sepanjang Agustus, Dow Jones telah menguat 2,1 persen dan berada di jalur kenaikan bulanan selama lima bulan berturut-turut.
Di sisi lain, S&P 500 dan Nasdaq Composite mencatatkan kenaikan bulanan pertama mereka sejak Mei, masing-masing naik 3 persen dan 4 persen.
Baik S&P 500 maupun Dow Jones sempat menembus rekor tertinggi sepanjang masapada awal bulan ini.
Sektor teknologi menjadi penggerak utama pasar sepanjang Agustus, dipimpin oleh lonjakan pada saham-saham berbasis kecerdasan buatanSektor teknologi pada Indeks S&P 500 melesat hampir 6 persen dalam sebulan.
Saham Nvidia menguat lebih dari 8 persen, sedangkan Microsoft dan Micron Technology masing-masing melompat 11 persen dan 13 persen.
Kendati mencatatkan penguatan, pergerakan pasar di bulan Agustus diwarnai volatilitas tinggi akibat kekhawatiran inflasi yang mengerek imbal hasilobligasi ASke level tertinggi dalam beberapa tahun.
Kementerian Keuangan AS memitigasi tekanan tersebut dengan berencana meningkatkan aksi buyback obligasi. Namun, yield tenor jangka panjang terpantau masih tertahan di level tinggi.
Ketua Federal Reserve Kevin Warsh pada hari Jumat dalam simposium tahunan di Jackson Hole, Wyoming, mengutarakan kekhawatirannya terhadap inflasi.
Ia menilai data PCE dan CPI sepanjang musim panas yang melandai belum menunjukkan perbaikan tren secara mendasar.
Warsh menegaskan bahwa bank sentral harus memastikan inflasi inti benar-benar bergerak menuju target dengan kecepatan yang cukup, atau Fed wajib bertindak.
Pernyataan hawkish tersebut langsung merespons pasar moneter.
Berdasarkan data CME FedWatch Tool, spekulasi pedagang terhadap kenaikan suku bunga Fed pada September melonjak drastis menjadi 57,5 persen pada Jumat, dari sebelumnya hanya 35,4 persen sehari sebelumnya.
Imbal hasil obligasi Treasury tenor pendek juga langsung melonjak pasca pidato tersebut.
Ekonom Barclays, Jonathan Millar, menilai pernyataan hawkish tersebut memperbesar peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada September mendatang, yang berpotensi berlanjut hingga Desember.
Mengomentari pidato tersebut, Managing Director REX Financial Bill Birmingham menilai Warsh memberikan pesan kuat bahwa Fed tidak lagi melakukan pendekatan sebalok 40 tahun terakhir yang dinilai kurang ketat.
Ia melihat Warsh sedang mencari konsensus internal untuk menaikkan suku bunga.
Di sisi lain, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah menambah kehati-hatian pelaku pasar. Komando Pusat ASmengonfirmasi serangan terhadap dua peluncur roket di Pulau Larak, Iran.
Pasca insiden tersebut, harga minyak mentah AS naik 2,1 persen menjadi USD 85,14 per barel, sementara minyak Brent menguat 2 persen ke level USD 89,90 per barel.
Selain faktor makro, investor juga mencerna rilis laporan keuangan emiten. Saham Gap melonjak sekitar 13 persen meskipun laporan kuartalannya bercampur, didorong oleh pengangkatan CEO baru untuk merek Old Navy.
Sebaliknya, saham Marvell Technology merosot lebih dari 10 persen akibat panduan margin kotor non-GAAP kuartal berjalan yang mengecewakan pasar.
Pekan ini, fokus investor tertuju pada rilis data ekonomi penting, termasuk laporan tenaga kerja ASperiode Agustus yang dijadwalkan terbit Jumat pagi, serta data manufaktur dan sektor jasa.
Meskipun yield obligasi berada di level tertinggi dan volatilitas saham meningkat, Chief Market Strategist Jefferies, David Zervos, mengaku tetap optimistis terhadap pergerakan pasar.
Ia menilai Kementerian Keuangan AS kini menjadi aktor kunci dalam menjaga kondisi keuangan tetap stabil.
Langkah intervensi Treasury, termasuk potensi operasi curve-twisting dan buyback, dinilai mampu meredam gejolak pasar obligasi, menekan imbal hasil tenor panjang, serta menopang pergerakan aset berisiko.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.