Pergerakan konsolidasi ini terjadi di tengah kecemasan para investor pasar modal atas lonjakan imbal hasilobligasi pemerintah ASyang terus melambung tinggi.
Di saat yang sama, pelaku pasar tengah bersiap menanti rilis notula rapat kebijakan moneter terbaru dari bank sentral AS, Federal Reserve, guna membaca petunjuk pergerakan suku bunga acuan selanjutnya.
Chief Market Strategist Osaic, Phil Blancato, menilai bahwa pelemahan data tenaga kerja AS pekan lalu justru menjadi penahan gejolak suku bunga di pasar keuangan.
Rilis laporan tenaga kerja non-pertanianmemperlihatkan penambahan lapangan kerja yang melambat tajam, sehingga memberikan kelegaan bagi Wall Street yang sebelumnya tertekan oleh lonjakan yield obligasi.
“Ini adalah jenis angka tepat yang diinginkan pasar dari sudut pandang tenaga kerja.
Angkanya tidak terlalu panas, tidak terlalu dingin, tidak sangat bagus, dan tidak juga melemah secara drastis,” ujar Chief Market Strategist Osaic, Phil Blancato, dalam analisis pasar.
Kontrak berjangka yang terikat dengan indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan tipis sebesar 53 poin atau 0,1 persen.
Kenaikan serupa juga terjadi pada kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 yang masing-masing menguat sebesar 0,1 persen.
Pergerakan stagnan ini melanjutkan penguatan tipis yang terjadi pada perdagangan Jumat lalu, di mana indeks Dow Jones naik 250 poin atau 0,5 persen ke posisi 51.176,46, sedangkan S&P 500 menguat 0,7 persen menuju level 7.722,72.
Saham Sektor Teknologi Mendorong Reli Wall Street
Indeks berbasis teknologi Nasdaq Composite memimpin penguatan pada akhir pekan lalu dengan melonjak 1,2 persen ke level 27.190,86 setelah sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa
Reli saham teknologi dipicu oleh kembalinya minat risikopara investor bursa, di mana harga saham Nvidia sempat menembus rekor harga tertinggi baru.
Kenaikan saham teknologi juga ditopang oleh lonjakan harga saham perusahaan keamanan siber CrowdStrike, Palo Alto Networks, serta pembuat chip AMD yang melonjak hampir 3 persen.
Secara mingguan, pergerakan tiga indeks utama Wall Street bergerak bervariasi di tengah tekanan pasar obligasi global. Indeks Dow Jones tercatat merosot sekitar 1,3 persen dalam sepekan, sementara S&P 500 terkikis tipis 0,3 persen.
Sebaliknya, Nasdaq menjadi satu-satunya indeks utama yang membukukan kenaikan mingguan sebesar 0,6 persen berkat reli berturut-turut pada akhir pekan.
Melambatnya penambahan lapangan kerja sektor non-pertanian AS yang hanya bertambah 29.000 pekerjaan pada bulan lalu, dengan tingkat pengangguran naik ke 4,2 persen, mengubah ekspektasi suku bunga para pelaku bursa.
Angka tersebut jauh di bawah estimasi konsensus Dow Jones yang memproyeksikan pertumbuhan 84.000 pekerjaan.
Berdasarkan indikator CME FedWatch Tool, para pedagang kini memperhitungkan probabilitas sebesar 77 persen bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan bulan ini.
Chief Investment Officer Nuveen, Saira Malik, memperkirakan bahwa kondisi ekonomi saat ini bakal menopang kinerja bursa sebelum memasuki musim laporan keuangan emiten.
Musim rilis kinerja keuangan kuartal ketiga diproyeksikan bakal memberikan dorongan fundamental yang cukup kuat bagi pasar saham.
“Saya pikir ini bisa menjadi awal dari Santa Claus rally yang telah kita semua harapkan,” kata Chief Investment Officer Nuveen, Saira Malik, dalam wawancara di acara Squawk Box CNBC.
Pelaku Pasar Menantikan Rilis The Fed dan Kinerja Perbankan
Fokus utama investor pada pekan ini tetap tertuju pada pergerakan yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang merangkak ke posisi tertinggi dalam lebih dari dua dekade.
Lonjakan imbal hasil obligasi memicu kekhawatiran bahwa tingginya biaya pinjaman dapat membebani pergerakan harga saham, meskipun The Fed menahan suku bunga dalam jangka pendek.
Di sisi lain, harga minyak mentah mengalami penurunan seiring laporan adanya pembahasan pelepasan cadangan bahan bakar strategis oleh negara-negara Eropa.
Global Strategist Wells Fargo Investment Institute, Gary Schlossberg, menyebutkan bahwa minimnya rilis data ekonomi pekan ini membuat investor sangat peka terhadap isu geopolitik.
Investor bakal merespons dinamika pasar sebelum pembukaan tak resmi musim laporan keuangan yang akan diawali oleh laporan kinerja JP Morgan pada 13 Oktober mendatang.
“Minimnya kalender data ekonomi berarti investor akan merespons pasang surut perkembangan geopolitik dan dinamika spesifik pasar, dihadapkan dengan kumpulan laporan ekonomi terbaru yang cukup mendukung, sebelum dimulainya musim laporan keuangan,” tutur Global Strategist Wells Fargo Investment Institute, Gary Schlossberg.
Pada pekan ini, investor akan mencermati laporan aktivitas jasa dari Institute for Supply Managementpada hari Senin, notula rapat The Fed bulan September pada hari Rabu, serta data awal sentimen konsumen dari Universitas Michigan pada hari Jumat.
Di samping itu, jajaran emiten besar seperti Constellation Brands, Levi Strauss, PepsiCo, dan Delta Air Lines juga dijadwalkan bakal merilis laporan keuangan mereka di tengah penantian pasar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.