Nilainya kini berpotensi melonjak hingga USD100 miliar, sekaligus membuka arah baru strategi investasi Google di era kecerdasan buatan.
CEO Google Sundar Pichai melihat lonjakan teknologi AI sebagai momentum untuk memperluas penempatan modal ke perusahaan rintisan berpotensi tinggi.
Menurut dia, lanskap investasi kini berubah seiring kebutuhan pendanaan yang makin besar di sektor teknologi.
“Anda tahu SpaceX, Anthropic, dan lainnya, jadi saya pikir sekarang dengan pergeseran AI, ada lebih banyak peluang di mana kami bisa menempatkan modal dengan cara yang baik, dan kami sedang melakukannya,” ujar Pichai, dikutip dari Consumer News and Business Channel, Rabu,8 April 2026.
Alphabet sendiri bukan pemain baru dalam investasi startup. Selama ini mereka aktif melalui GV dan CapitalG.
Namun, gelombang AI membuat kebutuhan investasi melonjak, dari jutaan dolar menjadi ratusan juta hingga miliaran dolar, mendorong Alphabet mulai berinvestasi langsung dari neraca perusahaan.
Langkah ini sejalan dengan strategi perusahaan teknologi besar lain seperti Nvidia, Microsoft, dan Amazon yang kini semakin agresif menanamkan modal dalam skala besar.
Investasi Alphabet di SpaceX menjadi contoh paling nyata.
Pada 2015, Google menanamkan dana USD900 jutasaat valuasi SpaceX masih sekitar USD12 miliarSetelah merger dengan xAI milik Elon Musk dengan valuasi USD1,25 triliun, nilai kepemilikan Alphabet diperkirakan melonjak drastis.
Jika saham tersebut masih dipegang, nilainya kini mendekati USD100 miliar, bahkan berpotensi naik lagi seiring rencana IPO SpaceX yang ditaksir mencapai valuasi USD1,75 triliun
Selain SpaceX, Alphabet juga agresif di sektor AI melalui investasi di Anthropic, pesaing OpenAI. Perusahaan ini tidak hanya bersaing dengan Google, tetapi juga menjadi mitra dalam penggunaan infrastruktur cloud dan chip AI milik Google.
Alphabet pertama kali menanamkan USD300 jutapada 2023, lalu menambah investasi USD2 miliarHingga kini, total investasinya telah melampaui USD3 miliardengan kepemilikan sekitar 14 persen.
Valuasi Anthropic sendiri melonjak tajam menjadi USD380 miliar, mencerminkan besarnya ekspektasi pasar terhadap bisnis AI.
Pichai menegaskan, arah investasi ini bukan sekadar mengejar tren, melainkan bagian dari strategi mengoptimalkan imbal hasil modal.
“Kami ingin menjadi pengelola modal yang baik,” katanya.
Ia menambahkan, selama potensi imbal hasil investasi masih tinggi, perusahaan akan terus mengalokasikan dana secara agresif.
“Sejauh Anda optimistis terhadap pengembalian modal yang diinvestasikan, Anda ingin menanamkan setiap dolar terakhir di sana,” ujarnya.
Strategi serupa juga terlihat dalam investasi Alphabet di Stripe, perusahaan fintech yang kini bernilai USD159 miliarNilai tersebut melonjak lebih dari 17 kali lipat sejak Google ikut dalam pendanaan awal pada 2016.
“Kami merasa investasi kami di Stripe adalah bentuk pengelolaan modal yang baik,” kata Pichai.
Di sektor kendaraan otonom, Alphabet juga mulai mengubah pendekatan. Waymo yang sebelumnya sepenuhnya didanai internal kini membuka pendanaan eksternal, termasuk putaran terbaru sebesar USD16 miliardengan valuasi USD126 miliar
Pichai mengakui, pada tahap awal, perusahaan belum cukup matang untuk menggelontorkan investasi besar seperti sekarang.
“Saya akan senang berinvestasi lebih banyak di Waymo sejak awal, tetapi kami belum berada pada tingkat kematangan untuk melakukannya,” ujarnya.
Dengan kombinasi pengalaman lama dan momentum baru dari AI, Alphabet kini tidak hanya menjadi perusahaan teknologi, tetapi juga pemain besar dalam peta investasi global.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.