Harga Batu Bara Melonjak 9, Dua Saham Tambang Ini Siap Cuan!

Saham AADI Melesat 4,89 Persen di Midday Usai Bukukan Laba USD474 JutaPendapatan dan Laba Tumbuh di Semester I 2026, Bagaimana Proyeksi Saham AADI?

Kondisi tersebut terjadi meskipun belum terdapat dampak langsung dari tambahan kuota RKAB. Berdasarkan channel check hingga Agustus 2026, belum ada penambang yang secara resmi menerima tambahan kuota RKAB.

Namun, pasar masih menghadapi sejumlah isu pasokan. Salah satunya adalah pembicaraan mengenai potensi kekurangan air yang dapat memengaruhi produksi.

Selain itu, terdapat potensi pengurangan produksi mixed hydroxide precipitatekarena tingkat profitabilitas yang semakin tertekan.

Profitabilitas MHP disebut telah berada di sekitar titik impas atau bahkan mengalami kerugian apabila biaya bunga diperhitungkan. Kondisi tersebut dapat memengaruhi keputusan produsen terkait tingkat produksi.

Produk Hilir Nikel Masih Bertahan

Meskipun harga bijih nikel tertekan menuju HPM, harga produk hilir seperti nickel pig irondan MHP masih relatif bertahan.

Sepanjang Agustus 2026, harga NPI dan MHP tercatat relatif datar secara bulanan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan di sisi bijih belum sepenuhnya diteruskan ke seluruh produk hilir.

Pasar kini menunggu perkembangan revisi HPM serta kepastian tambahan kuota RKAB. Apabila tambahan kuota produksi disetujui, potensi peningkatan pasokan bijih menjadi faktor yang perlu diperhatikan terhadap harga nikel.

Hal tersebut menjadi alasan mengapa sektor base metals ditempatkan sebagai pilihan dengan tingkat preferensi paling rendah dalam analisis tersebut.

Thermal Coal Lebih Diunggulkan

Dari tiga kelompok komoditas yang dianalisis, urutannya adalah batu bara termal, emas, kemudian logam dasar atau base metals.

Batu bara termal menjadi pilihan utama dengan AADI dan PTBA sebagai saham pilihan.

Faktor pendukungnya berasal dari kondisi pasokan yang masih ketat, potensi peningkatan permintaan menjelang musim dingin, serta posisi kedua perusahaan yang relatif lebih terlindungi dari gangguan kekeringan sungai.

Emas berada di urutan berikutnya dengan EMAS dan MDKA sebagai saham pilihan. Sementara itu, base metals menjadi kelompok terakhir karena terdapat potensi koreksi harga setelah tambahan kuota RKAB memperoleh persetujuan.

Dengan demikian, perkembangan pasar komoditas saat ini memperlihatkan perbedaan antara masing-masing sektor.

Batu bara mendapatkan dukungan utama dari pembatasan pasokan, nikel masih menunggu perubahan kebijakan HPM dan RKAB, sedangkan emas tetap menjadi alternatif di tengah kondisi pasar komoditas global.

Untuk sektor batu bara, AADI dan PTBA menjadi emiten yang disebut paling siap menghadapi risiko logistik akibat kekeringan sungai.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.