Harga Emas Terpukul Minyak, Kilau Safe Haven Mulai Meredup

Merdeka BatterySiapkan Rp1,38 Triliun untuk Buyback, Apa Dampaknya ke EPS?B50 Mulai Dominasi SPBU, ESDM Minta Industri Otomotif Uji Mesin 100.000 Km

Kenaikan tersebut membuat persoalan inflasi kembali menjadi perhatian. Pembicaraan Amerika Serikat dan Iran yang mandek ikut menjaga kekhawatiran terhadap pasokan dan harga energi.

Reuters mencatat pasar produk bahan bakar AS juga masih ketat, dengan persediaan bensin turun 1,7 juta barel dan stok distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, berkurang 2,3 juta barel dalam sepekan.

Buat emas, persoalannya bukan semata-mata harga minyak yang mahal. Energi yang mahal dapat membuat inflasi lebih sulit turun.

Kalau tekanan inflasi bertahan, ruang bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga ikut menyempit. Di titik inilah emas harus berhadapan dengan aset berbunga.

Pasar obligasi AS juga memberi sinyal serupa. Data Departemen Keuangan AS menunjukkan imbal hasil Treasury 10 tahun berada di 5,26 persen pada 29 September dan naik menjadi 5,27 persen pada 30 September.

Sementara yield Treasury 30 tahun berada di 5,64 persen pada 29 September dan 5,63 persen sehari setelahnya.

Reuters mencatat yield Treasury 10 tahun bahkan telah naik sekitar 81 basis poin sepanjang kuartal Juli hingga September, menjadi kenaikan kuartalan terbesar sejak 2022.

Kenaikan tersebut membawa biaya pinjaman AS ke level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan emas sulit mempertahankan momentumnya. Emas tidak memberikan bunga atau kupon.

Ketika imbal hasil obligasi pemerintah AS berada di level tinggi, investor memiliki alternatif aset yang menawarkan pendapatan secara langsung.

Namun, cerita emas tidak berhenti di sana. Justru ada data yang menunjukkan investor masih menyimpan selera besar terhadap logam mulia.

World Gold Council mencatat ETF berbasis emas global menerima arus dana masuk sebesar USD18 miliar atau sekitar Rp322,2 triliun sepanjang Agustus 2026. Angka tersebut menjadi arus masuk bulanan terbesar kedua sepanjang sejarah.

Arus dana tersebut ikut mengerek total aset kelolaan ETF emas global sebesar 16 persen secara bulanan menjadi USD615 miliar atau sekitar Rp11,01 kuadriliun.

Kepemilikan emas fisik yang mendukung produk-produk ETF tersebut juga bertambah 121 ton menjadi 4.189 ton, sekaligus mencatat rekor tertinggi.

Jadi, kalau September memperlihatkan harga emas yang melemah, data Agustus justru memperlihatkan cerita yang berbeda. Investor ETF belum sedang beramai-ramai meninggalkan emas.

Bahkan, arus dana yang masuk menunjukkan permintaan investasi masih sangat kuat.

Perbedaan antara harga dan arus dana tersebut menjadi penting untuk membaca posisi emas saat ini. Tekanan jangka pendek datang dari kombinasi harga energi yang tinggi dan imbal hasil obligasi yang meningkat.

Namun, pada saat yang sama, permintaan melalui ETF masih menunjukkan bahwa emas tetap menjadi bagian penting dari strategi investasi sebagian pelaku pasar.

Dengan kata lain, emas sedang menghadapi dua cerita sekaligus. Di pasar harian, minyak dan yield obligasi menjadi lawan yang cukup berat.

Di pasar investasi, permintaan terhadap emas masih belum kehilangan tenaga.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.