Harga Minyak Naik Hampir Empat Persen, Iran Tolak Menyerah di Tengah Ancaman Trump

The Telkom Hub Capai Net Zero Emisi, 66 PoP Telkom Kini Gunakan 21 Persen Energi TerbarukanHarga Emas Anjlok 1,7 Persen, Sinyal Hawkish The Fed dan Dolar AS Jadi Biang Kerok

Pipa itu sebelumnya ditutup setelah serangan drone yang menurut Arab Saudi dilakukan oleh milisi Irak. Penutupan pada 11 September tersebut membuat pengiriman minyak mentah dari pelabuhan Yanbu ikut terhenti.

Saudi kemudian kembali memainkan kartu pasokannya. Pada Selasa, Riyadh menawarkan tambahan minyak kepada para penyuling di Asia untuk pengambilan dari lokasi yang berada di luar Selat Hormuz.

Irak juga menyatakan ekspor minyaknya telah menembus lebih dari 3 juta barel per hari. Menteri Perminyakan Irak mengatakan negaranya berharap dapat meningkatkan ekspor melalui Turki menjadi lebih dari 600.000 barel per hari.

Di sisi lain, Iran memberikan sinyal bahwa pintu Selat Hormuz sebenarnya masih mungkin dibuka.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan selat tersebut dapat dibuka kembali dalam waktu tujuh hari apabila Amerika Serikat mengurangi tekanan militer dan mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sementara itu, drama geopolitik belum berhenti di Timur Tengah. Amerika Serikat, Rusia, dan Ukraina juga mulai membicarakan kemungkinan gencatan senjata terbatas yang mencakup sasaran terkait perdagangan gandum dan energi.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan hal tersebut setelah bertemu Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di New York pada Rabu kemarin.

Dengan begitu, harga minyak dunia kini seperti sedang ditarik dari dua arah. Di satu sisi, pasokan dari kawasan Teluk mulai berusaha kembali normal dan diplomasi memberi harapan bahwa konflik bisa mereda.

Di sisi lain, ancaman Trump, sikap keras Iran, dan nasib Selat Hormuz membuat pasar tetap memasang harga untuk kemungkinan terburuk.

Dan seperti biasa dalam urusan minyak, pasar tidak perlu menunggu perang benar-benar meledak untuk ikut panik. Cukup satu ancaman, satu blokade, atau satu selat strategis yang ditutup, harga sudah bisa ikut berlari lebih dulu.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.