IHSG Dibuka Menguat 0,38 Persen, Sektor Teknologi Jadi Penopang Utama

Tekanan Harga Nikel Masih Membayangi, Ifishdeco Siapkan 2 Jurus iniKomit Soal Tambang Berkelanjutan: IFSH Jaminan Reklamasi Rp52 Miliar

Selain itu, sentimen IHSG juga datang dari menurunnya lonjakan harga minyak mentah global setelah komitmen negara-negara G7 menyepakati pelepasan 100 juta barel minyak mentah dan produk BBM dari cadangan darurat selama empat bulan, dengan pelepasan diesel dilakukan lebih awal. Belum lagi, pemulihan ekspor minyak dari Timur Tengah.

“Hal ini tentunya memberikan angin segar bagi pasar keuangan dari emerging markets,” kata Nafan.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent berjangka menyusut 1,89 persen menjadi USD100,32 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS melemah 1,84 persen ke level USD89,43.

Namun kondisi tersebut kontras  pada pasar obligasi.

Nafan mencatat ada aksi jual tajam hingga mendorong kenaikan yield US Treasury tenor 10 tahun (+0,53 persen di 5,308 persen) dan 30 tahun (+0,55 persen di 5,661 persen) menuju level tertinggi sejak 2002.

Ia menjelaskan, peningkatan imbal hasil obligasi dipicu oleh kekhawatiran atas risiko inflasi jangka panjang, defisit fiskal, serta tingginya penerbitan utang korporasi untuk mendanai infrastruktur kecerdasan buatan

“Selain faktor domestik, ketegangan fiskal di Eropa, khususnya lonjakan yield obligasi Prancis akibat lonjakan proyeksi defisit dan utang negara, turut memberikan sentimen negatif pada ekosistem obligasi global,” jelasnya.

Bagi IHSG, Nafan memandang perkembangan tersebut relatif konstruktif apabila ekspektasi kenaikan Fed terus menurun karena dapat mengurangi tekanan terhadap risk appetite, memperbaiki daya tarik emerging-market assets, dan berpotensi membantu aliran dana ke emerging markets.

Adapun para pelaku pasar saat ini fokus terhadap rilis data ekonomi domestik awal bulan, khususnya Cadangan Devisa pada 7 Oktober 2026, dan Indeks Keyakinan Konsumen pada 8 Oktober 2026, yang akan menentukan arah arus modal asing dalam jangka pendek.

“Di sisi lain, para pelaku investor menyambut musim Laporan Keuangan Kuartal III-2026 serta October Effect, dimana secara historis, masuknya kuartal IV-2026 yang dimulai pada Oktober ini sering dimanfaatkan para pelaku investor untuk akumulasi saham-saham berfundamental kuat menjelang rilis kinerja keuangan kuartal III,” ungkapnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.