IHSG Dibuka Menguat di Awal September 2026, Sektor ini Jadi Penopang

Top 10 Saham Paling Cuan dalam Sepekan, ini PemimpinnyaMengupas CUAN, Emiten yang Sahamnya Merosot 71 Persen Sepanjang 2026

Dari sisi positifnya, pasar saham Indonesia memasuki September dengan peluang normalisasi setelah adanya tekanan mekanis dari rebalancing MSCI yang efektif pada 1 September 2026.

“Sehingga sebenarnya sudah priced-in karena hasil review telah diumumkan sejak pertengahan Agustus lalu,” kata Nafan.

Selain itu, kepastian proses suksesi Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026–2031, stabilnya BI Rate di 5,75 persen, serta fundamental ekonomi Indonesia yang relatif resilien dinilai dapat menjadi penopang sentimen.

Risiko Eksternal

Namun, risiko eksternal masih menjadi pemberat utama.

Nafan mengatakan pernyataan hawkish Ketua The Fed Kevin Warsh mendorong ekspektasi kenaikan Fed Funds Rate 25 bps pada September meningkat menjadi sekitar 64,2 persen berdasarkan CME FedWatch Tool.

Hal tersebut diikuti kenaikan yield US Treasury 10 tahun sebesar 0,68 persen ke 4,754 persen, sementara inflasi PCE AS masih berada di 3,7 persen YoY.

Nafan menilai kondisi itu berpotensi membatasi arus modal ke emerging markets, termasuk Indonesia.

Ditambah lagi eskalasi militer yang ditandai dengan serangan udara balasan antara AS dan Iran di sekitar Selat Hormuz memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi global.

“Kondisi ini mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent hingga sekitar lima persen di kisaran USD90,43 per barel sehingga dapat meningkatkan risk-off sentiment.

Rupiah sendiri pada Senin melemah 0,16 persen ke level Rp17.722/USD, sehingga pergerakannya tetap perlu diperhatikan, ” jelas Nafan.

Nafan memandang saat ini para pelaku pasar akan menantikan rilis data makroekonomi domestik dari Badan Pusat Statistik hingga S&P Global terkait inflasi periode Agustus 2026.

Selain itu, mereka juga menunggu rilis neraca perdagangan periode Juli serta S&P Global Indonesia Manufacturing PMI periode Agustus.

“Yang akan menjadi indikator utama dalam mengukur tingkat stabilitas perekonomian, ketahanan eksternal, serta aktivitas manufaktur nasional,” pungkasnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.