IHSG Dibuka Terperosok 0,55 Persen ke Level 6.552

Pada awal sesi perdagangan, grafik indeks terpantau langsung bergerak melemah dari posisi penutupan sebelumnya yang berada di kisaran 6.590.

Pada sesi I pagi ini, aktivitas perdagangan di seluruh pasar mencatatkan total volume transaksi sebanyak 5,05 juta lot saham.

Nilai transaksi keseluruhan membukukan angka sebesar Rp281,56 miliar dengan frekuensi transaksi mencapai 47,32 ribu kali.

Pelemahan IHSG pada awal perdagangan pagi ini dipicu oleh koreksi yang terjadi secara merata di seluruh indeks sektoral bursa. Sektor barang bakumemimpin penurunan dengan koreksi terbesar hingga 0,88 persen.

Pelemahan signifikan juga dialami oleh sektor barang konsumen primeryang merosot 0,78 persen, disusul sektor industri yang tertekan sebesar 0,63 persen, dan sektor infrastruktur yang melorot 0,59 persen.

Sektor lainnya juga turut berada di zona merah. Sektor properti mencatatkan penurunan sebesar 0,40 persen, disusul sektor energi yang melemah 0,34 persen, serta sektor barang konsumen non-primeryang terkoreksi 0,31 persen.

Sementara itu, sektor keuangan tergerus 0,18 persen, sektor transportasi turun 0,17 persen, serta sektor kesehatan dan sektor teknologi sama-sama mengalami penurunan tipis sebesar 0,11 persen.

Diprediksi Koreksi

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG diprediksi masih rawan terkoreksi pada perdagangan Jumat, 11 September 2026.

Diketahui pada perdagangan kemarin atau Kamis, 10 September 2026, IHSG ditutup melemah hingga 1,33 persen atau turun 88 poin ke level 6.589.

“Berdasarkan indikator, MA20 dan 60 berada dalam kondisi bullish crossover, sementara Stochastics K_D dan RSI menunjukkan sinyal negatif. Walaupun demikian,  volume mengalami penaikan.,” ujar dia dalam keterangannya hari ini.

Untuk perdagangan Jumat, 11 September 2026, Nafan memperkirakan IHSG bearish to-neutral dengan volatilitas tinggi sebab tekan indeks lebih banyak berasal dari faktor eksternal, meskipun sebenarnya masih dapat mempertahankan struktur bullish-nya.

Untuk support IHSG hari ini, Nafan menetapkan indeks berada di level 6.528 hingga 6.472. Sementara area resistance berada di 6.658 dan 6.713.

Dari sisi global, Nafan menuturkan  para pelaku investor fokus terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.

Ia bilang, tekanan utama berasal dari kombinasi inflasi produsen yang masih tinggi, lonjakan harga minyak mentah, serta kenaikan imbal hasil US Treasury.

“Data PPI AS Agustus tercatat naik 0,4 persen secara bulanan dan 5,4 persen secara tahunan. Level inflasi tahunan yang tinggi ini membuat investor kembali mengkhawatirkan bahwa tekanan harga belum cukup mereda,” jelasnya.

Nafan menambabkan bahwa implikasinya terhadap kebijakan The Fed cukup penting.

Para pelaku pasar kini memperkirakan probabilitas kenaikan Fed Rate pada pertemuan 16 September meningkat hingga sekitar 70 persen–72 persen, dibandingkan sekitar 60-an persen sebelum data PPI keluar.

“Artinya, data inflasi tersebut mengarah kepada ekspektasi market terhadap arah kebijakan moneter yang lebih ketat.

Para pelaku investor juga menunggu data CPI AS pada 11 September 2026, karena CPI akan menjadi konfirmasi yang lebih penting apakah tekanan inflasi benar-benar kembali menguat atau hanya bersifat sementara akibat kenaikan energi” ungkap dia.

Nafan menilai kenaikan ekspektasi suku bunga tersebut kemudian tercermin pada lonjakan yield Treasury, dengan yield US Treasury 10 tahun naik 2,56 persen menjadi 4,961 persen, sementara yield US Treasury 30 tahun naik 1,51 persen menjadi 5,366 persen dan mencapai level tertinggi dalam hampir dua dekade.

Menurutnya, kondisi ini memberikan tekanan terhadap valuasi saham karena risk-free rate yang lebih tinggi membuat valuasi ekuitas menjadi relatif kurang menarik.

“Selain itu, biaya pembiayaan perusahaan dan konsumen ikut meningkat sehingga berpotensi menekan investasi, konsumsi, serta pertumbuhan laba korporasi,” kata Nafan.

Dari sisi komoditas, WTI naik 8,20 persen ke level USD103,93 per barel. Menurut Nafan, ini merupakan sentimen negatif tambahan bagi pasar saham karena kenaikan harga energi berpotensi kembali mendorong inflasi konsumen.

Kondisi ini, kata dia, menjadi semakin sensitif karena lonjakan harga minyak dipicu oleh eskalasi konflik di Timur Tengah dan gangguan terhadap jalur pasokan minyak global.

“Brent bahkan sempat menembus USD108,60 per barel. Dengan demikian, tekanan inflasi menjadi lebih persisten akibat kenaikan harga energi yang kemudian meningkatkan biaya transportasi, produksi, dan konsumsi,” terangnya.

Berpindah ke Eropa, terjadi pergeseran ECB ke arah kebijakan moneter yang lebih hawkish akibat tekanan inflasi yang kembali meningkat.

Nafan menyebut, ECB menaikkan key deposit rate sebesar 25 basis poin dari 2,25 persen menjadi 2,50 persen, sesuai ekspektasi pasar dan menjadi kenaikan kedua pada 2026.

Ia melihat langkah ini terutama dipicu oleh lonjakan harga energi akibat eskalasi konflik AS-Iran dan gangguan terhadap pasokan melalui kawasan Timur Tengah.

“Bahkan Inflasi zona euro telah mencapai 3,3 persen pada Agustus, jauh di atas target ECB sebesar 2 persen.

Christine Lagarde menegaskan bahwa ECB tetap menggunakan pendekatan data dependent dan mengambil keputusan dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya, sehingga tidak memberikan forward guidance mengenai besaran atau waktu kenaikan berikutnya,” tuturnya.

Para pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan lanjutan pada Oktober hampir 50:50, sementara probabilitas setidaknya satu kenaikan tambahan hingga Desember cukup tinggi.

“Artinya, pasar mulai memasukkan kemungkinan bahwa suku bunga ECB dapat bergerak lebih tinggi apabila tekanan inflasi energi terus bertahan,” ujarnya.

Dari sisi domestik, Nafan memandang saat ini para pelaku investor perlu mewaspadai rupiah dan risiko fiskal.

Ia mencatat rupiah terdepresiasi sekitar 0,21 persen ke Rp17.547/USD, membatasi ruang bagi BI untuk melakukan pengelonggaran kebijakan moneterdalam waktu dekat.

Adapun, lanjut Nafan, kenaikan harga minyak di atas USD100 per barel dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap beban fiskal karena Indonesia merupakan net importer minyak.

“Jika harga minyak tinggi bertahan lama, tekanan terhadap subsidi atau kompensasi energi dan neraca perdagangan dapat meningkat.

Meskipun demikian, kenaikan harga komoditas global memberikan dampak positif terbatas bagi emiten berbasis energi dan pertambangan (miners & energy exporters), yang menjadi cushion agar IHSG tidak terkoreksi terlalu dalam,” pungkasnya.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.