Indeks acuan pasar modal Indonesia tersebut dibuka menguat di posisi 6.055,16, melompat dari level penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di angka 6.036,89.
Laju penguatan indeks terus berlanjut hingga menyentuh level tertinggi harian di posisi 6.085,45 pada awal transaksi pagi.
Berdasarkan data statistik bursa pada grafik perdagangan harian, IHSG mencatatkan penguatan sebesar 42,22 poin atau melonjak 0,70 persen hingga parkir di posisi 6.079,11.
Pergerakan indeks sempat mengalami penyesuaian teknis ke level terendah di posisi 6.050,44 pasca-lonjakan awal.
Kendati demikian, aksi beli selektif yang dilakukan para pelaku pasar modal berhasil menahan laju penurunan sehingga indeks berbalik menguatmendekati area tertinggi harian.
Aktivitas transaksi di pasar reguler tercatat cukup dinamis pada awal perdagangan pagi ini. Volume perdagangan harian berhasil menembus 101,88 juta lot saham, dengan estimasi akumulasi volume total mencapai 102,49 juta lot.
Sementara itu, nilai transaksi harian bursa tercatat mencapai Rp1.802,39 miliar atau sekitar Rp1,80 triliun pada papan perdagangan utama.
Seiring derasnya arus transaksi pemodal lokal maupun asing, nilai transaksi bursa terus bergerak menanjak hingga menyentuh angka Rp1.813,90 miliarPenguatan IHSG pada pembukaan perdagangan hari ini ditopang oleh masuknya arus modal pada saham-saham berkapitalisasi pasar besar
Analis Ungkap Deretan Saham Pilihan untuk Hadapi IHSG yang Rawan Tertekan
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG pada pekan ini 5 sampai 9 Oktober 2026 diproyeksikan berada di area yang sangat menentukan, yakni menguji rentang support psikologis 6.000 hingga potensi penguatan menuju batas resistance terdekat di level 6.184 sampai 6.200.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, menjelaskan, secara struktur teknikal tren jangka pendek IHSG masih berada dalam fase bearish setelah gagal mempertahankan kisaran area 6.700.
Kondisi tersebut membentuk pola lower high dan lower low hingga memaksa indeks kembali menguji level psikologis 6.000.
Kendati demikian, penutupan indeks di level 6.036,89 atau menguat 0,46 persen setelah sempat merosot ke level terendah 5.979,98 menandakan adanya sinyal respons beli yang cukup kuat dari pelaku pasar.
“Level 6.000 merupakan level kunci sekaligus psychological support. Menariknya, IHSG sempat menembus ke bawah level tersebut secara intraday hingga 5.979,98 tetapi kembali ditutup di atasnya.
Ini memberikan sinyal bahwa breakdown 6.000 belum terkonfirmasi. Selama indeks mampu bertahan di area 6.000, peluang terjadinya technical rebound masih terbuka,” kata Imam dalam riset Senin, 5 Oktober 2026.
Imam menambahkan, dalam analisis pergerakan harga atau price action, kondisi perlawanan beli di area support seperti ini kerap menjadi fase awal pembentukan bottom jangka pendek.
Namun, pembalikan arah tren yang lebih solid baru akan terkonfirmasi jika IHSG mampu merebut kembali batas resistance teratasnya.
“Resistance pertama yang menurut saya paling penting adalah 6.184 – 6.200. Level 6.184 pada chart merupakan resistance pertama dan secara teknikal menjadi semacam confirmation level.
Selama IHSG masih berada di bawah area tersebut, kenaikan dari 6.000 masih lebih tepat dianggap sebagai technical rebound, bukan perubahan tren.
Jika indeks berhasil menembus 6.184 dan mampu bertahan di atasnya, struktur jangka pendek mulai membaik karena IHSG berhasil mengambil kembali area breakdown sebelumnya,” ujar Imam.
Merespons dinamika dan arah pergerakan pasar modal tersebut, IPOT mencermati sejumlah saham serta instrumen pasar keuangan yang dinilai memiliki katalis fundamental dan sentimen positif untuk dicermati sepanjang pekan ini.
Saham pertama yang patut dicermati adalah PT Petrosea Tbk atau PTRO.
Pergerakan harga saham emiten ini diprediksi berada di kisaran Rp5.125 per saham, dengan batas penurunan paling tinggi diperkirakan tertahan di bawah level Rp4.800 per saham dan potensi penguatan paling tinggi dapat mencapai Rp5.775 per saham.
Katalis utama PTRO bersumber dari langkah akuisisi 100 persen saham PT Sejahtera Terminal Logistik atau STL senilai Rp880 juta melalui dua anak usahanya.
Ekspansi di bidang jasa kepelabuhanan ini akan diintegrasikan ke dalam lini Logistics and Support Services untuk memperkuat integrasi rantai nilai dan rantai pasok di luar bisnis utama kontraktor pertambangan.
Selanjutnya, saham PT Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA juga masuk dalam jajaran yang perlu dipantau.
Harga saham MDKA diprediksi berada di kisaran Rp2.850 per saham, dengan risiko penurunan paling tinggi diperkirakan berlanjut apabila menembus di bawah level Rp2.740 per saham dan peluang kenaikan paling tinggi diproyeksikan menuju Rp3.070 per saham.
Pendorong utama pergerakan MDKA berasal dari proyek Pani Gold Mine yang telah melakukan penuangan emas pertama atau first gold pour pada 14 Februari 2026.
Pada tahun pertama, produksi Pani ditargetkan mampu mencapai 110.000 hingga 115.000 ounces emas, ditambah adanya kepastian alokasi penjualan emas kepada PT Aneka Tambang Tbk hingga 3 ton per tahun.
Sementara itu, saham PT Bukit Asam Tbk atau PTBA turut menjadi sorotan berkat pemulihan kinerja operasional dan lonjakan laba bersih.
Pergerakan harga saham PTBA diprediksi berada di kisaran titik pemicu penguatan atau breakout, dengan estimasi batas penurunan paling tinggi dijaga di bawah level Rp3.120 per saham dan potensi penguatan paling tinggi menyasar kisaran Rp3.390 per saham.
Kinerja keuangan PTBA ditopang oleh perolehan pendapatan semester pertama tahun 2026 sebesar Rp22.03 triliun atau naik 8 persen secara tahunan, sementara laba bersih melonjak 218 persen menjadi Rp2.65 triliun.
Kenaikan kinerja ini didukung peningkatan volume produksi kuartal II sebesar 94 persen secara kuartalan serta pertumbuhan porsi penjualan ekspor hingga mencapai 49 persen dari total volume penjualan 21.10 juta ton.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.