Sentimen pengetatan kebijakan moneter global, pergerakan nilai tukar rupiah, hingga ketidakpastian seputar arah kebijakan suku bunga acuan membayangi pergerakan pasar saham Indonesia.
Berdasarkan analisis Phintraco Sekuritas, IHSG berpotensi menghadapi tekanan terutama pada saham-saham berkapitalisasi besarPhintraco Sekuritas memetakan area support terdekat berada di rentang 6.431–6.419, dengan pivotal support penentu di level 6.377–6.370, dan support selanjutnya di level 6.290.
Sementara itu, level resistance terdekat berada di 6.452, dengan major resistance pada rentang 6.511–6.523 hingga 6.552–6.591.
Analis Phintraco Sekuritas, Desy Erawati, menggarisbawahi bahwa pergerakan indeks hari ini akan sangat dipengaruhi oleh kecermatan investor terhadap kondisi eksternal dan perbankan domestik.
“IHSG berpotensi bergerak volatile dan sideways dengan tekanan pada big caps selama investor mencermati arah kebijakan Bank Indonesia dan global rate backdrop,” kata Desy Erawati dalam riset terbarunya, Senin, 21 September 2026.
Sejalan dengan pandangan tersebut, MNC Sekuritas mencatat bahwa IHSG sebelumnya terkoreksi 0,33 persen ke level 6.441 yang disertai munculnya tekanan jual. Secara mingguan, indeks tergerus 1,53 persen.
Technical Analyst MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan bahwa pola pergerakan teknikal IHSG saat ini masih dibayangi oleh fase gelombang koreksi.
“Worst case, saat ini diperkirakan IHSG masih berada pada bagian dari wave iv dari wavepada label hitam sehingga IHSG masih rawan menguji kembali 6.290–6.370.
Namun, selama IHSG masih mampu berada di atas 6.370 maka masih terdapat peluang IHSG menguat ke rentang 6.541–6.581,” ujar Herditya Wicaksana.
Sentimen Moneter Global dan Isu Klasifikasi Pasar Warnai Pergerakan
Pasar keuangan domestik saat ini dipengaruhi oleh dinamika moneter global dan keputusan lembaga indeks internasional.
Dari mancanegara, Federal Reservemempertahankan Fed Funds Rate pada kisaran 3,75 persen hingga 4,00 persen, di mana pelaku pasar masih terus mencermati arah kebijakan acuan ke depan.
Di Asia, Bank of Japanmenaikkan policy rate sebesar 25 bps menjadi 1,25 persen yang merupakan level tertinggi dalam 31 tahun terakhir, sehingga memicu pelemahan yen dan meningkatkan perhatian pasar terhadap potensi risiko pembongkaran posisi carry trade serta arus modal global.
Sementara itu, Bank Sentral Chinamemilih menahan suku bunga acuan Loan Prime Ratetenor 1 tahun dan 5 tahun selama 16 bulan berturut-turut, menandakan ruang pendorong stimulasi moneter di Tiongkok masih terbatas.
Dari dalam negeri, lembaga penyedia indeks MSCI memperpanjang masa peninjauanklasifikasi pasar Indonesia hingga November 2026.
Meski demikian, valuasi IHSG saat ini dinilai telah relatif rendahsehingga sebagian besar risiko pasar dianggap sudah tercermin pada harga saham saat iniSelain itu, MSCI tengah menggelar konsultasi terkait perubahan metodologi Capped Indexes dengan batas akhir tanggapan pada 30 September 2026 dan pengumuman hasil paling lambat 30 Oktober 2026.
Di sisi lain, FTSE Russell juga memutuskan menahan penyesuaiansaham Indonesia hingga periode Desember 2026.
Meskipun dibayangi penjualan bersih investor asing, nilai tukar rupiah yang berada di posisi Rp17.758 per dolar AS, serta tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury 10Y di level 4,996 persen dan US30Y di level 5,327 persen), pasar domestik mendapat penopang likuiditas dari kebijakan pemerintah.
Penempatan dana Saldo Anggaran Lebihsekitar Rp299 triliun di Bank Himbara hingga Juli 2027 menjadi salah satu pendorong utama likuiditas perbankan nasional, di samping fokus pemerintah pada ketahanan pangan, energi, serta percepatan program hilirisasi.
Rangkaian Agenda Ekonomi dan Rekomendasi Saham Pilihan
Para investor mengantisipasi sejumlah agenda ekonomi penting dalam tiga hingga lima hari ke depan.
Pada pekan ini, perhatian utama tertuju pada Rapat Dewan GubernurBank Indonesia yang berlangsung pada 22–23 September 2026 untuk mendengarkan pengumuman BI Rate.
Selain itu, bursa juga mencatatkan agenda korporasi seperti pelaksanaan RUPSLB PT Jawa Satu Regas Tbkdan RUPSLB PT Solusi Sinergi Digital Tbk, jadwal Cum HMETD PT Fortune Indonesia Tbkdengan rasio 100:46235, estimasi Cum Right Issue PT Asuransi Harta Aman Pratama Tbk, hingga jadwal Cum Dividend PT Mitrabara Adiperdana Tbk
Menghadapi pergerakan pasar yang cenderung terkonsolidasi ini, Desy Erawati merekomendasikan investor untuk tetap disiplin dalam mengeksekusi strategi transaksi di pasar reguler.
“Strategi utama saat ini adalah Selective Buy on Weakness.
Fokus transaksi investor sebaiknya diarahkan pada saham-saham perbankan besardengan mencermati dinamika foreign flow, pergerakan rupiah, yield obligasi, dan sinyal BI Rate,” tutur Desy Erawati.
Secara teknikal, Herditya Wicaksana merilis empat saham pilihanyang dapat dicermati investor untuk perdagangan hari ini:
- PT Bank Central Asia Tbk
- Rekomendasi: Trading Buy di area 6.100–6.275
- Target Harga: 6.475, 6.575
- Batasan Risiko (Stop Loss): Di bawah 6.050
“BBCA terkoreksi 0,79 persen ke 6.300 dan didominasi oleh tekanan jual yang cenderung meningkat di bawah MA60. Saat ini, kami memperkirakan posisi BBCA sedang berada di akhir wavedari wave ,” jelas Herditya.
- PT Buana Lintas Lautan Tbk
- Rekomendasi: Buy on Weakness di area 370–388
- Target Harga: 412, 440
- Batasan Risiko (Stop Loss): Di bawah 364
Sementara BULL bergerak flat ke 390 dan disertai dengan munculnya volume pembelian. Kami memperkirakan, posisi BULL saat ini sedang berada di akhir wave C dari wave
- PT Kalbe Farma Tbk
- Rekomendasi: Buy on Weakness di area 710–735
- Target Harga: 785, 810
- Batasan Risiko (Stop Loss): Di bawah 690
“KLBF terkoreksi 1,94 persen ke 760 dan disertai dengan munculnya tekanan jual, namun koreksinya sempat tertahan oleh MA60. Kami perkirakan, posisi KLBF sedang berada pada bagian dari wave Y dari wave,” ungkap Herditya.
- PT Telkom IndonesiaTbk
- Rekomendasi: Buy on Weakness di area 2.440–2.520
- Target Harga: 2.620, 2.720
- Batasan Risiko (Stop Loss): Di bawah 2.420
Adapun TLKM terkoreksi 1,16 persen ke 2.560 dan masih didominasi oleh tekanan jual yang cenderung meningkat. Kami memperkirakan, posisi TLKM saat ini sedang berada pada bagian dari wave c dari wave
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.