IHSG Tutup 2025 di Level 8.646, BEI Catat 24 Rekor All Time High

Pada penutupan sesi terakhir tahun ini, IHSG berakhir di level 8.646,94, naik 2,68 poin atau setara 0,03 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Sepanjang perdagangan, indeks sempat bergerak fluktuatif di kisaran 8.584 hingga 8.663 seiring aksi ambil untung dan penyesuaian portofolio menjelang tutup buku akhir tahun.

Data perdagangan menunjukkan aktivitas transaksi masih relatif aktif. Total volume transaksi di seluruh pasar mencapai sekitar 395,48 juta lot dengan nilai perdagangan sebesar Rp20,62 triliun dan frekuensi transaksi sekitar 2,61 juta kali.

Dari sisi pergerakan saham, sejumlah emiten mencatatkan lonjakan signifikan dan masuk dalam daftar top gainers.

Saham PT Chitose International Tbkdari sektor barang konsumsi mencatat kenaikan tertinggi dengan melonjak 34,81 persen ke level 244.

Saham PT PP Presisi Tbkdari sektor infrastruktur dan konstruksi turut menguat 25,36 persen ke posisi 173, seiring sentimen positif pada saham-saham konstruksi.

Selanjutnya, saham PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbkdi sektor infrastruktur naik 24,73 persen ke level 464, sementara PT Polychem Indonesia Tbkdari sektor industri dasar menguat 21,55 persen ke level 220.

Saham PT Golden Flower Tbkdari sektor perdagangan juga mencatat penguatan 19,90 persen ke posisi 18.825.

Di sisi lain, tekanan jual masih membayangi sejumlah saham yang masuk jajaran top losers. Saham PT Ulima Nitra Tbkdari sektor industri turun 14,83 persen ke level 356.

Saham PT Mustika Ratu Tbkdari sektor barang konsumsi melemah 14,78 persen ke posisi 490.

Berikutnya, PT Pudjiadi Prestige Tbkdari sektor properti turun 14,29 persen ke level 570, disusul PT Optima Prima Metal Sinergi Tbkdari sektor industri dasar yang melemah 13,46 persen ke posisi 135.

Saham PT Eka Sari Lorena Transport Tbkdari sektor transportasi juga terkoreksi 11,63 persen ke level 304.

Secara sektoral, kinerja pasar saham di akhir tahun menunjukkan pergerakan yang bervariasi.

Sektor siklikal menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,03 persen, disusul sektor infrastruktur yang menguat 2,04 persen dan sektor keuangan yang naik 0,97 persen.

Sektor properti turut mencatatkan kenaikan 0,36 persen, sementara sektor non-siklikal naik 0,51 persen.

Sebaliknya, tekanan terlihat pada sektor kesehatan yang turun 1,53 persen, sektor industri dasar melemah 1,17 persen, sektor teknologi terkoreksi 0,98 persen, serta sektor energi yang turun 0,19 persen.

Sektor transportasi dan logistik juga ditutup melemah 0,11 persen.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman, menyampaikan bahwa pemulihan pasar modal sepanjang 2025 tidak hanya tercermin dari pergerakan indeks, tetapi juga dari penguatan fundamental pasar secara menyeluruh.

“Sepanjang 2025, pasar modal Indonesia berhasil bangkit dari fase pemulihan hingga mencetak rekor demi rekor.

Ini tercermin dari 24 kali all time high IHSG dan kapitalisasi pasar tertinggi sepanjang sejarah,” ujar Iman dalam sambutannya di Main Hall BEI, Selasa, 30 Desember 2025 sore.

Iman mengatakan penguatan pasar modal juga terlihat dari pertumbuhan jumlah investor.

Hingga akhir 2025, jumlah investor pasar modal Indonesia telah menembus lebih dari 20 juta investor, dengan rata-rata sekitar 901 ribu investor aktif bertransaksi setiap bulan.

Capaian ini mencerminkan meningkatnya partisipasi masyarakat serta kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.

Dari sisi pencatatan, sepanjang 2025 terdapat 26 perusahaan baru yang mencatatkan saham di BEI, dengan enam di antaranya merupakan lighthouse IPO.

Meskipun jumlah IPO saham lebih rendah dibandingkan tahun sebelumnya, total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp18,1 triliun, meningkat 27 persen dibandingkan tahun 2024.

Iman menegaskan bahwa BEI terus memastikan keandalan infrastruktur dan sistem perdagangan di tengah dinamika pasar yang fluktuatif.

Kebijakan adaptif dan pengawasan ketat tetap dijalankan, bersamaan dengan upaya mendorong inovasi produk pasar modal.

“Kami memastikan sistem perdagangan tetap andal, dengan kebijakan yang adaptif dan pengawasan yang diperkuat, sekaligus membuka ruang inovasi produk untuk menjawab kebutuhan pasar,” kata Iman.

Sepanjang 2025, BEI bersama regulator dan pemangku kepentingan pasar modal telah menerapkan sejumlah kebijakan strategis, antara lain penyesuaian trading halt, auto rejection bawah, non-cancellation period, penerbitan waran restrukturisasi tipe put, serta penguatan pengawasan transaksi.

Selain itu, pengembangan produk turut dilakukan melalui kehadiran liquidity provider saham dan rencana kontrak berjangka indeks asing.

Hari ini merupakan hari terakhir perdagangan saham di 2025. Perdagangan akan dibuka lagi nanti 2 Januari 2026.