Tingginya inflasi AS, meledaknya harga energi, serta perubahan ekspektasi terhadap arah kebijakan suku bunga, menjadi kombinasi hebat untuk memukul mundur gerak pasar modal Eropa.
Pada perdagangan Jumat, 11 September 2026, saham-saham Eropa sebenarnya bergerak menguat. Indeks saham Eropa naik 0,5 persen menjadi 639,1 poin.
Namun, penguatan tersebut belum mampu menghapus tekanan sepanjang pekan.
Indeks acuan Eropa tetap mencatat penurunan mingguan terdalam sejak awal Juli, setelah sebelumnya ditutup pada level terendah dalam dua bulan pada Kamis, 10 Septeber 2026.
Inflasi dan Harga Energi Mencekik
Pergerakan pasar kali ini tidak terlepas dari perkembangan inflasi dan harga energi. Di Amerika Serikat, data terbaru menunjukkan Indeks Harga Konsumenmeningkat 0,4 persen pada Agustus, setelah hanya naik 0,1 persen pada Juli.
Sementara itu, inflasi inti atau Core CPI tercatat meningkat 2,4 persen secara tahunan, setelah naik 2,5 persen pada Juli.
Data tersebut kemudian mengubah ekspektasi pelaku pasar terhadap kebijakan Federal Reserve.
Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin meningkat menjadi sekitar 86-87 persen, dari sekitar 72 persen sehari sebelumnya.
Perubahan ekspektasi itu segera tercermin di pasar obligasi dan valuta asing. Imbal hasil Treasury AS bertenor dua tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, naik 7,75 basis poin menjadi 4,63 persen.
Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun turun setelah sebelumnya mendekati 5 persen.
Di pasar valuta asing, dolar AS juga menguat. Euro melemah 0,13 persen menjadi USD1,15950, sedangkan dolar menguat 0,47 persen terhadap franc Swiss menjadi 0,817.
Penguatan terhadap franc Swiss tersebut menempatkan dolar di jalur kenaikan mingguan ketiga secara berturut-turut.
Pergerakan dolar ini berlangsung ketika pasar meningkatkan perhatian terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS.
Inflasi yang masih menjadi perhatian membuat ekspektasi terhadap suku bunga menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan arah mata uang dan imbal hasil obligasi.
Namun, tekanan terhadap pasar tidak hanya datang dari Amerika Serikat. Harga minyak kembali menjadi perhatian setelah konflik di Timur Tengah mendorong harga energi naik tajam.
Harga minyak mentah Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak pertengahan Mei sebelum kemudian turun lebih dari 3 persen pada perdagangan Jumat.
Kontrak berjangka Brent ditutup turun 2,81 persen menjadi USD104,61 per barel. Meski turun dalam perdagangan harian, Brent masih berada di atas USD100 per barel dan mencatat kenaikan sekitar 8 persen sepanjang pekan.
Harga energi tersebut menjadi persoalan penting bagi pasar Eropa.
Kawasan zona euro sangat bergantung pada bahan bakar, sehingga kenaikan harga minyak dapat meningkatkan tekanan terhadap biaya energi sekaligus memperumit upaya bank sentral dalam menjaga inflasi.
ECB Naikkan Suku Bunga
Kondisi semakin menjadi perhatian setelah Bank Sentral Eropamenaikkan suku bunga pada Kamis dan memperingatkan bahwa inflasi dapat bertahan lebih tinggi dalam waktu yang lebih lama.
Kenaikan harga energi akibat konflik berkepanjangan di Timur Tengah membuat prospek inflasi kembali menjadi perhatian investor.
Situasi itu menjelaskan mengapa penguatan saham Eropa pada Jumat belum serta-merta menunjukkan perubahan arah pasar secara keseluruhan.
Investor masih menghadapi kombinasi antara suku bunga yang lebih tinggi, harga energi yang meningkat, serta kekhawatiran terhadap pertumbuhan ekonomi.
Tekanan tersebut juga tidak terjadi secara merata di seluruh sektor. Pada perdagangan Jumat, sektor telekomunikasi dan perbankan justru memimpin penguatan dengan kenaikan masing-masing 1,5 persem.
Bursa saham Prancis juga melonjak 0,8 persen, meskipun negara tersebut masih menghadapi persoalan terkait pertumbuhan ekonomi dan kondisi keuangan publik.
Menteri Keuangan Prancis Roland Lescure mengatakan Prancis berisiko gagal mencapai target pengurangan defisit tahun ini setelah pemerintah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi.
Perkembangan tersebut menambah perhatian terhadap kondisi fiskal negara tersebut.
Sementara itu, pasar obligasi global juga menghadapi tekanan. Kenaikan harga energi membuat investor memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Akibatnya, pasar obligasi global menuju salah satu kinerja mingguan terburuk sejak dimulainya perang Iran, berdasarkan data yang diberikan.
Di tengah tekanan tersebut, yen Jepang justru menguat. Yen naik 0,45 persen menjadi 153,69 per dolar AS dan berada di jalur mencatat kenaikan mingguan kedua berturut-turut.
Penguatan yen berlangsung ketika pasar memperkirakan Bank of Japan berpotensi menaikkan suku bunga pada pekan berikutnya.
Data inflasi grosir Jepang yang tetap tinggi pada Agustus turut memperkuat perhatian terhadap kemungkinan perubahan kebijakan tersebut. Euro sendiri melemah 0,59 persen terhadap yen menjadi 178,22.
Dengan demikian, pergerakan pasar global saat ini memperlihatkan hubungan yang erat antara inflasi, harga minyak, suku bunga, obligasi, dan nilai tukar.
Kenaikan harga energi meningkatkan perhatian terhadap inflasi, sementara data inflasi AS mendorong perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Pada saat yang sama, tingginya imbal hasil obligasi dan ketidakpastian mengenai arah suku bunga menjadi faktor yang memengaruhi sentimen terhadap saham.
Di Eropa, persoalan tersebut diperkuat oleh tingginya harga energi dan kekhawatiran terhadap pertumbuhan serta kondisi fiskal.
Karena itu, penguatan saham Eropa pada Jumat perlu dilihat dalam konteks yang lebih luas. Pasar memang mampu rebound pada perdagangan harian, tetapi secara mingguan tekanan masih terlihat.
Sementara dolar AS menguat dan harga minyak tetap berada di atas USD100 per barel, investor masih menghadapi lingkungan pasar yang dibentuk oleh inflasi dan ekspektasi kebijakan moneter yang berubah cepat.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.