Inflasi dan Bunga Tinggi Tekan Pasar Otomotif Nasional

Tekanan inflasi, suku bunga tinggi, serta kenaikan biaya hidup membuat keputusan pembelian mobil semakin tertunda, meskipun insentif kendaraan listrik terus digulirkan pemerintah.

Pengamat otomotif Yannes Martinus Pasaribu menilai pelemahan penjualan mobil sangat berkaitan dengan menyusutnya daya beli kelas menengah.

Data menunjukkan kelas menengah Indonesia menyusut 16,6 persen dari 57,33 juta jiwa pada 2019 menjadi 47,85 juta jiwa pada 2024.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasar otomotif, mengingat sekitar 80 persen pembelian mobil nasional masih bergantung pada pembiayaan kredit. Saat suku bunga tinggi, cicilan kendaraan menjadi semakin berat bagi konsumen.

Tekanan paling besar dirasakan segmen entry level. Yannes mencontohkan penurunan penjualan Low Cost Green Caryang tercatat turun 28,7 persen secara tahunan.

“Penjualan LCGC turun 28,7 persen yoy karena harga naik jauh dari sekitar Rp80 juta di 2013 jadi Rp138-200 jutaan saat ini,” kata dia.

Padahal, secara struktur pasar, kendaraan bermesin pembakaran internalmasih mendominasi penjualan nasional. Data berbasis GAIKINDO menunjukkan pada 2024 penjualan mobil ICE mencapai 762.495 unit dari total wholesales 865.723 unit.

Sementara penjualan Battery Electric Vehiclebaru mencapai 43.188 unit atau sekitar 4,99 persen dari total pasar.

Kondisi ini menegaskan bahwa segmen kendaraan konvensional, khususnya entry level, masih menjadi penopang utama volume industri otomotif.

Di sisi lain, pergeseran teknologi juga menambah tekanan. Kompetisi dari EV murah asal Tiongkok, depresiasi rupiah yang meningkatkan biaya komponen impor, serta ketidakpastian kebijakan fiskal membuat konsumen cenderung bersikap menunggu.

“Di luar itu, ada faktor tambahan seperti kompetisi EV murah dari Tiongkok, depresiasi rupiah yg membuat komponen impor tambah mahal, ketidakpastian kebijakan yg membuat orang wait-and-see,” ujar Yannes.

Beban biaya kepemilikan kendaraan juga semakin berat akibat kombinasi harga BBM, depresiasi kendaraan, pajak kendaraan bermotor, opsen pajak daerah, biaya perawatan, suku cadang, hingga bunga kredit.

Tekanan berlapis ini membuat pasar semakin sensitif terhadap perubahan harga dan kebijakan.

Data GAIKINDO mencatat total wholesales mobil nasional pada 2024 sebesar 865.723 unit. Namun pada Januari–November 2025, penjualan turun 9,6 persen menjadi 710.084 unit dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Penurunan ini memperkuat sinyal bahwa pelemahan pasar tidak semata persoalan transisi teknologi, melainkan berkaitan erat dengan daya beli dan struktur pembiayaan konsumen.

Dalam konteks tersebut, Yannes menilai menjaga keberlangsungan segmen entry level menjadi krusial agar ekosistem industri tetap bertahan di tengah agenda transisi menuju kendaraan listrik.

“Ini penting untuk memulihkan daya beli middle class melalui relaksasi kredit dan pengendalian inflasi agar sinkronisasi antara ambisi industrialisasi EV dan realitas kemampuan pasar dapat terjaga tanpa mengorbankan volume sales kendaraan ICE entry level konvensional yang masih menjadi tulang punggung ekosistem manufaktur otomotif kita,” ujarnya.