InfraNexia Incar Pasar di Luar Telkom Group, Open Access Didorong

Saat ini, kontribusi pelanggan eksternal baru berada di kisaran 10-15 persen dari pendapatan InfraNexia.

Direktur Wholesale and International Service Telkom, Budi Satria Dharma Purba, mengatakan pelanggan eksternal memang mulai masuk ke bisnis InfraNexia.

Namun, Telkomsel dan IndiHome masih menjadi anchor tenant utama dengan kontribusi terbesar.

“Dari sisi komersial, saat ini kontribusi pelanggan eksternal berada dalam kisaran 10-15 persen dari pendapatan Infranexia,” kata Budi dalam Public Expose Live 2026, Senin, 7 September 2026.

Posisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar pendapatan InfraNexia masih berasal dari pelanggan yang berada dalam ekosistem Telkom Group.

Perseroan menargetkan porsi pelanggan eksternal meningkat lebih dari dua kali lipat dari posisi saat ini.

“Ke depan kami menargetkan kontribusi tersebut semakin meningkat dengan harapan bisa berkontribusi sekitar 25-30 persen,” ujar Budi.

Budi mengatakan, Telkomsel dan IndiHome tetap menjadi anchor tenant dengan kontribusi terbesar bagi InfraNexia.

Dengan demikian, meskipun bisnis fiber telah ditempatkan dalam entitas tersendiri, basis permintaan InfraNexia masih sangat ditopang oleh kebutuhan jaringan dari Telkom Group.

“Sementara Telkomsel dan IndiHome tetap menjadi anchor tenant utama dengan kontribusi terbesar untuk Infranexia,” katanya.

Untuk memperbesar kontribusi dari luar grup, InfraNexia akan mengembangkan model open access network. Skema tersebut memungkinkan jaringan fiber InfraNexia dimanfaatkan oleh lebih banyak pihak di luar Telkom Group.

“Peningkatan pendapatan eksternal akan dilakukan melalui model open access network,” kata Budi.

Menurut dia, skema tersebut ditujukan untuk meningkatkan utilisasi aset fiber melalui layanan kepada internet service provider, operator jaringan, serta pelanggan eksternal lainnya.

“Sehingga Infranexia dapat meningkatkan utilisasi aset fiber-nya dengan melayani ISP, operator jaringan, dan pelanggan eksternal lainnya,” ujarnya.

Pengembangan basis pelanggan eksternal tersebut menjadi salah satu agenda penting InfraNexia karena porsi pelanggan dari luar Telkom Group saat ini masih berada di level 10-15 persen. Sementara target yang ditetapkan mencapai 25-30 persen.

Kapan Pemisahan Aset Fiber InfraNexia Rampung?

Di sisi lain, proses pembentukan InfraNexia sendiri belum sepenuhnya selesai. Budi mengatakan tahap kedua transaksi masih berjalan dan ditargetkan rampung sekitar akhir September hingga awal Oktober 2026.

“Pelaksanaan tahap kedua Infranexia masih berjalan dengan target penyelesaian sekitar akhir September hingga awal Oktober 2026,” kata Budi.

Jadwal penyelesaian tahap kedua mengalami sedikit pergeseran. Menurut Budi, perubahan tersebut terjadi karena terdapat pekerjaan tambahan setelah restatement laporan keuangan full year 2025 serta penyelesaian dokumentasi transaksi.

“Jadwal mengalami sedikit pergeseran karena adanya pekerjaan tambahan setelah restatement laporan keuangan full year 2025 serta penyelesaian dokumentasi transaksi,” ujarnya.

Sebelumnya, fase pertama pembentukan FiberCo telah diselesaikan pada Desember 2025. Tahap tersebut mencakup pengalihan lebih dari 50 persen aset fiber terpilih Telkom dengan nilai transaksi sekitar Rp35,8 triliun.

Saat ini, fase kedua mencakup pengalihan sisa aset, kontrak, serta sumber daya operasional yang diperlukan. Penyelesaian tahap tersebut masih menunggu proses dan persetujuan yang diperlukan.

“Fase 2 masih berlangsung, mencakup pengalihan sisa aset, kontrak, serta sumber daya operasional dengan target penyelesaian sekitar akhir September hingga awal Oktober 2026 sesuai dengan proses dan persetujuan yang diperlukan,” kata Budi.

Di sisi komersial, InfraNexia sudah menjalankan kegiatan usaha dan membangun kemitraan dengan sejumlah pelanggan eksternal, termasuk operator telekomunikasi, ISP, dan penyedia akses jaringan.

“Secara operasional, Infranexia telah menjalankan kegiatan komersial dan membangun kemitraan dengan pelanggan eksternal, termasuk operator telekomunikasi, ISP, dan penyedia akses jaringan,” ujarnya.

Namun, Telkom Group masih menjadi sumber anchor demand bagi perusahaan tersebut. Telkomsel disebut sebagai salah satu pelanggan utama InfraNexia.

“Telkom Group tetap menjadi sumber anchor demand dengan Telkomsel sebagai salah satu pelanggan utama,” kata Budi.

Menurut Budi, keberadaan Telkomsel sebagai pelanggan utama memberikan basis pendapatan bagi InfraNexia sekaligus mendukung pengembangan bisnis kepada pelanggan eksternal.

Dengan demikian, tantangan InfraNexia setelah pemisahan aset fiber bukan hanya menyelesaikan tahap kedua transaksi, tetapi juga memperbesar porsi pendapatan yang berasal dari pelanggan di luar Telkom Group.

Dari posisi saat ini, kontribusi pelanggan eksternal baru 10-15 persen, sementara targetnya 25-30 persen. Di saat yang sama, Telkomsel dan IndiHome masih menjadi anchor tenant dengan kontribusi terbesar.

Selain InfraNexia, Telkom juga tengah mengkaji kemungkinan konsolidasi aset fiber milik BUMN lain. Rencana tersebut masih berada dalam tahap kajian dan pembahasan bersama para pemangku kepentingan.

Sementara itu, Direktur Utama Telkom Dian Siswarini mengatakan belum ada entitas maupun aset yang dapat disampaikan kepada publik terkait rencana konsolidasi tersebut.

“Karena itu, terkait entitas maupun aset yang akan dikonsolidasikan belum dapat kami disclose atau sampaikan pada saat ini,” kata Dian.

Artinya, belum ada kepastian mengenai aset fiber BUMN mana yang akan masuk ke dalam skema konsolidasi tersebut.

Bagi investor, perkembangan InfraNexia selanjutnya akan bergantung pada dua hal utama, yakni penyelesaian fase kedua transaksi dan kemampuan perusahaan memperbesar basis pelanggan eksternal.

Target peningkatan kontribusi eksternal menjadi 25-30 persen masih cukup jauh dari posisi saat ini yang baru 10-15 persen.

Sementara itu, ketergantungan terhadap Telkomsel dan IndiHome sebagai anchor tenant masih menjadi karakter utama bisnis InfraNexia pada tahap saat ini.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.