Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyebut kontribusi investasi hilirisasi telah mencapai 30 persen dari total investasi, naik dari sekitar 25 persen dalam dua tahun terakhir.
Lompatan kontribusi hilirisasi tersebut berjalan seiring dengan lonjakan realisasi modal nasional yang terus mencatatkan tren positif.
Rosan mengungkapkan bahwa realisasi investasi pada semester pertama 2026 ini secara keseluruhan berhasil menyentuh angka Rp1.010,6 triliun.
Capaian tersebut tumbuh sebesar 7,2 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Arus modal jumbo yang masuk ke Indonesia tersebut memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja nasional.
“Investasi di semester pertama 2026 ini alhamdulillah mencapai realisasi investasi Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen dan menyerap lebih dari 1,4 juta orang,” kata Rosan saat memaparkan capaian investasi di hadapan Presiden, pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Dari total nilai modal yang masuk, sektor pengolahan dan peningkatan nilai tambah komoditas menjadi motor utama penggerak.
“Dari total investasi tersebut, angka hilirisasi meningkat, Bapak. Dalam dua tahun terakhir ini yang tadinya kontribusi hilirisasi 25 persen sudah mencapai 30 persen dari total investasi yang masuk,” tegas Rosan.
Pergeseran porsi penanaman modal ini juga dibarengi dengan perubahan peta sebaran investasi yang makin merata ke seluruh pelosok Nusantara.
Pemerintah mencatat bahwa mayoritas investasi berbasis hilirisasi kini tidak lagi berpusat di Pulau Jawa.
“Lebih dari 75 persen terealisasinya di luar Jawa. Dari hilirisasi dan kita melihat hilirisasi ini akan terus meningkat ke depannya,” paparnya.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan, realisasi investasi hilirisasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional.
Dari nilai tersebut, sektor mineral masih menjadi penopang utama dengan kontribusi Rp206,5 triliun atau sekitar 68,8 persen.
Besarnya porsi tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi masih sangat bertumpu pada pengolahan sumber daya mineral. Namun, pemerintah mulai menyiapkan ekspansi ke komoditas dan sektor lain.
Untuk mengembangkan 28 komoditas hilirisasi yang tersebar di delapan sektor, pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi mencapai USD618 miliar.
Investasi tersebut ditargetkan mampu mendorong nilai ekspor Indonesia hingga USD857 miliar sekaligus menciptakan nilai tambah USD235,9 miliar.
Untuk menopang laju hilirisasi, kesiapan pasokan energi menjadi prioritas utama pemerintah di berbagai pusat pengolahan industri.
Rosan mencontohkan, kapasitas pasokan listrik yang terbangun di dua pusat industri hilirisasi raksasa, yakni kawasan Weda Bay dan Morowali.
Total kapasitas daya di kedua pusat industri pengolahan nikel tersebut kini telah melampaui kebutuhan listrik satu negara tetangga.
“Listrik di sini yang sudah terpasang dan yang dibangun sudah lebih 7,1 GW. Nah, kalau kita tambahkan dengan yang ada di Morowali, itu kurang lebih tambah 8,8 GW, jadi 15,9 GW.
Ini jauh lebih besar daripada seluruh pemakaian total listrik di Singapura, 13,1 GW,” beber Rosan.
Selain memasok kawasan industri, pelaku usaha hilirisasi juga mulai merambah ke sektor energi terbarukan di kawasan pemukiman masyarakat.
Grup Tsingshan tercatat telah menyumbangkan pembangkit listrik tenaga suryasebesar 2 GW di wilayah Kabupaten Sumenep, tepatnya di Pulau Gili Labak dan Pulau Raas Kecil.
Satu unit PLTS di Pulau Gili Labak telah beroperasi penuh, sedangkan fasilitas serupa di Pulau Raas Kecil telah mencapai progres pengerjaan 75 persen.
Inisiatif tersebut disiapkan untuk memperkuat partisipasi pelaku usaha dalam mendukung agenda besar pemerintah menuju era energi bersih.
Selain mineral dan energi, arah hilirisasi juga mulai diperluas ke industri berbasis teknologi.
Rosan sebelumnya menyebut proyek hilirisasi ke depan tidak hanya berkutat pada komoditas tambang, tetapi juga mulai menyasar infrastruktur digital, kecerdasan buatan atau AI, energi bersih, dan manufaktur maju.
Pergeseran tersebut menunjukkan bahwa agenda hilirisasi pemerintah mulai bergerak dari sekadar meningkatkan nilai tambah komoditas menjadi membangun rantai industri dengan teknologi yang lebih tinggi.
Ekspansi tersebut berpotensi memperluas basis investasi Indonesia, sekaligus meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur energi, kawasan industri, teknologi, dan sumber daya manusia.
Bagi investor, arah ini menunjukkan bahwa peluang hilirisasi ke depan tidak hanya berada pada sektor pertambangan, tetapi juga pada rantai industri pendukung dan teknologi.
“Mereka siap dan sudah bicara dengan Danantara untuk berpartisipasi aktif untuk program 100 GW solar panel yang segera akan kita bicarakan dengan Pak Menko Hilirisasi,” ujarnya.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.