Iran Bombardir Kapal Tanker dan Pangkalan AS saat Harga Minyak Makin Dekat USD100

PLTP Gunung Ungaran 55 MW Belum Dibor, PLN Masih Kaji Dampak ke Sumber AirThe Fed Terjepit Desakan Trump dan Data Tenaga Kerja AS, Akankah Suku Bunga Naik?

Pangkalan udara Arab Saudi di Khamis Mushait menjadi salah satu sasaran. Fasilitas milik perusahaan minyak negara Saudi juga dilaporkan menjadi target serangan di Abha, Najran, dan Jazan.

Otoritas Saudi menyatakan kebakaran terjadi di sejumlah lokasi dan perempuan serta anak-anak termasuk korban luka.

Serangan Houthi tersebut menambah tekanan terhadap jalur perdagangan energi yang sudah terganggu di sisi lain Semenanjung Arab.

Kelompok yang menguasai sebagian besar wilayah berpenduduk di Yaman, termasuk ibu kota Sanaa, sebelumnya juga kerap mengganggu pelayaran di sekitar Laut Merah.

Arab Saudi sendiri telah memimpin koalisi Arab yang memerangi Houthi di Yaman selama lebih dari satu dekade.

Konflik tersebut sempat mereda dalam beberapa tahun terakhir, tetapi gencatan senjata kembali runtuh setelah perang yang lebih luas di kawasan Teluk meletus.

Perang kali ini perlahan berubah menjadi adu ketahanan ekonomi antara Washington dan Teheran. Kedua negara sama-sama menggunakan tekanan terhadap jalur perdagangan dan energi dengan harapan lawannya lebih dulu menyerah.

Washington berusaha menjaga aliran minyak ke pasar dunia dengan mengarahkan kapal-kapal melewati Selat Hormuz. Di sisi lain, AS juga menjalankan blokade untuk memotong ekspor minyak Iran.

Komando Pusat AS mengatakan lima kapal tanker yang dihancurkan pada Selasa merupakan bagian dari jaringan bayangan yang digunakan untuk membiayai Garda Revolusi Iran serta kelompok-kelompok sekutunya di kawasan.

Iran selama bertahun-tahun mendukung jaringan yang disebutnya sebagai “Poros Perlawanan”. Jaringan tersebut mencakup Hamas di Palestina, Hizbullah di Lebanon, kelompok milisi Syiah di Irak, serta Houthi di Yaman.

Dengan serangan yang kini merambah kapal tanker, pangkalan militer, fasilitas minyak, dan jalur pelayaran, perang AS-Iran mulai menunjukkan konsekuensi yang jauh lebih luas dari sekadar adu rudal.

Selat Hormuz menjadi titik tekan utama, sementara pasar minyak harus bersiap menghadapi satu pertanyaan yang jauh lebih mahal, seberapa lama pasokan energi dunia bisa bertahan jika jalur tersebut terus dicekik.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.