Ketiban Berkah Era AI, Intip Jurus DCII dan POWR Menjaring Cuan di Lapangan

Berdasarkan riset terbaru Stockbit usai melakukan peninjauan lapanganbersama tim investor relations PT Cikarang Listrindo Tbkdan PT DCI Indonesia Tbkpertengahan September 2026, ekosistem data center nasional kini tengah bersiap menyambut lonjakan kapasitas listrik berskala gigawatt.

Berdasarkan publikasi keterbukaan informasi bursa, DCII saat ini sedang menggarap tambahan kapasitas sebesar 120 Megawattdi data center H1 Cibitung.

Mengacu pada Laporan Keuangan Konsolidasian Semester I-2026yang diunggah di Bursa Efek Indonesia, progres konstruksi gedung JK6 berkapasitas 36 MW telah mencapai 80 persen.

Sementara itu, pembangunan gedung JK7 dan JK8 masih berada pada tahap fondasi dengan progres masing-masing sebesar 2,48 persen (realisasi investasi Rp90 miliar) dan 2,82 persen (realisasi investasi Rp23 miliar).

Investment Analyst Stockbit, Theodorus Melvin, mengungkapkan bahwa mayoritas penyewabaru DCII ke depan diproyeksikan berasal dari ekosistem AI yang memanfaatkan teknologi Graphics Processing Unitgenerasi termutakhir.

“Manajemen menyampaikan bahwa mayoritas tenant DCII ke depan berasal dari klien yang berhubungan dengan AI dan akan menggunakan teknologi GPU tercanggih,” ujar Theodorus Melvin.

Dari sisi permintaan pasar, DCII mengutip riset Structure Research yang memproyeksikan kapasitas kolokasi nasional akan melesat hingga 2 Gigawattpada 2028, naik berlipat ganda dari estimasi tahun 2025 yang sebesar ~380 MW.

Pendorong utamanya berasal dari hyperscalers asal Tiongkok serta neocloud global seperti Firmus dan CoreWeave yang mengonfirmasi ekspansi ke Indonesia.

Keunggulan Indonesia terletak pada ketersediaan tarif listrik yang kompetitif dibandingkan Malaysia dan Thailand, serta dukungan keandalan operator data center domestik.

Guna mempertahankan dominasi pasar, DCII terus memacu pembangunan data center sesuai kontrak dan tengah menjajaki akuisisi lahan baru. Dalam struktur beban usaha, komponen listrik menjadi biaya terbesar.

Mengacu Laporan Keuangan 1H26 DCII, beban listrik mencatatkan nilai Rp303 miliar atau menyumbang 37 persen dari total beban pokok pendapatan.

Pandangan Analis Stockbit Terhadap Prospek Operasional POWR

Kesiapan pasokan listrik untuk mendukung ekspansi data center tersebut tecermin dari laju operasional hariandi control room PLTGU Jababeka milik POWR.

Theodorus Melvin menegaskan bahwa pemulihan volume penjualan listrik POWR pada semester II-2026berjalan sesuai dengan perkiraan.

“Saat site visit, kami melihat run rate terkini di control room masih sejalan dengan pemulihan volume yang kami perkirakan untuk 2H26, sehingga kami tetap optimistis bahwa estimasi kami terkait volume penjualan listrik POWR pada 2026 dapat tercapai,” tutur Theodorus.

Dari sisi pasokan gas, volume yang diterima POWR dari lapangan Akasia Bagus tercatat mencapai 3–4 MMSCFD dari total kontrak 6,18 MMSCFD.

Sementara tambahan alokasi gas dari pipa Cisem 2 masih menunggu penetapan transmission fee oleh BPH Migas.

Terkait kapasitas, unit pembangkit baru 4×12,5 MW memasuki tahap pengujiandan dijadwalkan serah terima pada Oktober 2026, yang akan meningkatkan kapasitas terpasang POWR dari 1.144 MW menjadi 1.194 MW.

Adapun ekspansi pembangkit 300 MW untuk periode 2029–2030 masih dalam tahap negosiasi intensif dengan target keputusan awal 2027, mengingat durasi pemesananturbin gas global mencapai 1–2 tahun.

Atas temuan tersebut, Stockbit mempertahankan pandangan positif terhadap saham POWR.

Theodorus Melvin menilai tambahan kapasitas 120 MW dari DCII akan mendongkrak kapasitas data center H1 Cibitung—yang pasokan listriknya disuplai oleh POWR—naik lebih dari 2,5 kali lipat dari 75 MW menjadi mendekati 200 MW.

“Kami mempertahankan pandangan positif terhadap POWR. Optimisme kami didasarkan oleh informasi tambahan kapasitas 120 MW dari DCII.

Kami menilai asumsi pertumbuhan data center kami untuk 2–3 tahun mendatang di level ~24 persen cenderung konservatif dan menyisakan ruang upside,” pungkas Theodorus Melvin.

DCI IndonesiaCatat Lonjakan Kinerja Operasional dan Keuangan

Mengacu pada Laporan Keuangan Konsolidasian Unaudited PT DCI Indonesia Tbkper 30 Juni 2026 yang diunggah di Bursa Efek Indonesia, perseroan mencatatkan lonjakan kinerja operasional maupun keuangan secara signifikan.

Pendapatan lini usaha DCII melesat 24,15 persen secara tahunanmenjadi Rp872,41 miliar pada semester I-2026, dibandingkan perolehan semester I-2025 yang sebesar Rp702,70 miliar.

Kenaikan pendapatan tersebut beriringan dengan beban pokok pendapatan yang tercatat sebesar Rp321,12 miliar, di mana komponen biaya listrik mendominasi dengan kontribusi mencapai Rp303 miliar atau setara 37 persen dari total beban pokok.

Berkat efisiensi operasional yang terjaga, laba bersih perusahaan berhasil tumbuh 28,62 persenmencapai Rp381,25 miliar pada semester I-2026, naik tajam dari perolehan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp296,42 miliar.

Pertumbuhan laba ini sekaligus mendongkrak laba per saham (Earnings Per Share/EPS) DCII menjadi Rp160 per saham dari posisi sebelumnya Rp124 per saham.

Dari sisi struktur neraca, total aset perseroan membengkak menjadi Rp4,12 triliun per 30 Juni 2026, didukung posisi kas dan setara kas yang sangat tebal di angka Rp512,30 miliar.

Sementara itu, total liabilitas perseroan berada di posisi Rp1,65 triliun dan total ekuitas menguat menjadi Rp2,47 triliun.

POWR Bukukan Penjualan Bersih Tumbuh 3,82 Persen

Berdasarkan Laporan Keuangan Konsolidasian PT Cikarang Listrindo TbkSemester I-2026 di BEI serta publikasi resmi Investor Relations perseroan, POWR berhasil membukukan penjualan bersihsebesar USD281,45 juta (sekitar Rp4,58 triliun dengan asumsi kurs konversi Rp16.300 per dolar AS).

Angka ini tumbuh 3,82 persendibandingkan perolehan semester I-2025 sebesar USD271,09 juta.

Penjualan listrik ke sektor industri menjadi penopang utama pendapatan dengan kontribusi sebesar USD242,10 juta, sedangkan penjualan listrik ke PT PLNmenyumbang USD39,35 juta.

Laba usahaperseroan pun melesat 8,12 persenmenjadi USD52,18 juta pada semester I-2026 dari posisi USD48,26 juta pada semester I-2025.

Perolehan laba bersih tahun berjalan tercatat stabil di level USD38,72 juta (sekitar Rp631,13 miliar), bersaing ketat dengan realisasi semester I-2025 sebesar USD38,15 juta, sehingga laba per saham (Earnings Per Share/EPS) bertahan kokoh di posisi USD0,0025 per saham atau setara Rp40,05 per saham.

Kemampuan perseroan menjaga profitabilitas tecermin dari marjin EBITDAyang berada di level tinggi sebesar 28,40 persen.

Per 30 Juni 2026, total aset POWR mencapai USD1,34 miliar (sekitar Rp21,84 triliun) dengan saldo kas kuat sebesar USD284,15 juta.

Struktur permodalan perseroan juga sangat sehat dengan rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) yang terjaga konservatif di level 0,82 kali, ditopang oleh total ekuitas tebal mencapai USD735,80 juta.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.