Antara Bayar Utang dan Ekspansi: Menakar Efektivitas Rights Issue BUVAHEAL Ekspansi di Bali, Andalkan IGD
Seberapa Mahal Ekspansi BUVA?
Setelah rangkaian ekspansi dan penambahan aset berjalan, perhatian berikutnya bergeser ke satu hal yang lebih sederhana, yakni berapa besar modal yang harus disiapkan BUVA untuk mengejar pertumbuhan tersebut, dan seberapa cepat modal itu bisa kembali menjadi laba?
Pertanyaan itu penting karena struktur keuangan BUVA memang berubah cukup besar dalam setahun terakhir. Pada 2025, perseroan menghimpun tambahan modal sekitar Rp604 miliar.
Dalam laporan perubahan ekuitas, tambahan modal disetor tercatat Rp603,99 miliar, sementara modal saham bertambah Rp201,33 miliar.
Dana tersebut datang ketika BUVA sedang memperluas bisnisnya, termasuk melalui akuisisi BPP yang kemudian membuat arus kas investasi perseroan meningkat.
Namun, kemampuan ekspansi tersebut belum sepenuhnya tercermin pada laba operasional.
Pendapatan 2025 memang naik 5,72 persen menjadi Rp375,58 miliar, tetapi lonjakan laba bersih menjadi Rp195,15 miliar banyak dipengaruhi keuntungan pembelian dengan diskon dari akuisisi BPP sebesar Rp120,58 miliar, serta laba dari entitas asosiasi.
Angka itu membuat pembacaan terhadap laba BUVA perlu lebih hati-hati.
Jika keuntungan yang berasal dari transaksi akuisisi dan kontribusi non-operasional ikut dihitung sebagai dasar valuasi, kemampuan bisnis hotel yang sebenarnya akan terlihat lebih kuat daripada kondisi operasionalnya.
Perkembangan pada 2026 memberikan gambaran berbeda. Untuk empat bulan pertama, BUVA mencatat rugi bersih Rp5,66 miliar.
BUVA menjelaskan bahwa perbandingan tersebut terlihat sangat buruk karena periode pembanding pada 2025 memperoleh tambahan laba dari entitas asosiasi sebesar Rp76,11 miliar, yang terutama berasal dari penjualan aset.
Di sisi neraca, posisi BUVA relatif lebih ringan dibanding sebelumnya. Per 31 Maret 2026, total ekuitas tercatat Rp2,04 triliun, sementara total liabilitas sekitar Rp553,59 miliar.
Rasio liabilitas terhadap ekuitas juga masih berada di sekitar 26,57 persen pada akhir April 2026 berdasarkan dokumen perseroan.
Meski begitu, kebutuhan modal BUVA belum selesai. Perseroan menyiapkan PMHMETD II dengan menerbitkan 6,154 miliar saham baru pada harga Rp250 per saham.
Nilai emisinya mencapai sekitar Rp1,54 triliun. Setiap pemegang empat saham lama memperoleh satu HMETD, sementara pemegang saham yang tidak menggunakan haknya menghadapi dilusi maksimum 20 persen.
Penggunaan dana ini memperlihatkan arah strategi BUVA dengan lebih jelas. Sekitar Rp417,8 miliar digunakan untuk mempercepat pembayaran pokok utang.
Sebagian dana lainnya dialokasikan untuk pengembangan kawasan Uluwatu Estate dan proyek pengembangan properti.
Dengan begitu, rights issue kedua tidak hanya berfungsi sebagai modal ekspansi, tetapi juga sebagai alat untuk mengurangi beban pembiayaan.
Dengan kata lain, sebagian dana baru akan digunakan untuk membuat neraca lebih longgar, sementara sisanya dipakai untuk memperbesar kapasitas bisnis. Ini berbeda dengan ekspansi yang seluruhnya ditopang utang.
Tetapi konsekuensinya modal yang dibutuhkan BUVA terus membesar sebelum aset-aset baru tersebut menghasilkan pendapatan dalam skala yang sepadan.
Pasar sudah memberikan harga yang cukup tinggi untuk cerita tersebut. Pada penutupan 28 Agustus 2026, saham BUVA berada di Rp725.
Secara teknikal, BUVA belum memberikan konfirmasi bahwa tren penurunan telah berakhir. Harga masih berhadapan dengan MA20 dan MA50 di kisaran Rp725–Rp735, kemudian MA100 di sekitar Rp745.
Selama level-level tersebut belum ditembus dengan meyakinkan, ruang kenaikan BUVA masih lebih tepat dibaca sebagai fase pemulihan awal ketimbang pembalikan tren.
Dengan jumlah saham sebelum PMHMETD II sebanyak 24,617 miliar lembar, kapitalisasi pasar BUVA saat ini berada di kisaran Rp17,8 triliun. Sebagai pembanding, StockAnalysis mencatat market cap sekitar Rp18,09 triliun pada 27 Agustus 2026.
Di titik ini, valuasi BUVA menjadi bagian yang paling sulit diabaikan. Data Bareksa pada 28 Agustus mencatat PER sekitar 18,97 kali dan PBV 9,89 kali.
PBV yang mendekati 10 kali menunjukkan bahwa pasar memberikan premi sangat besar terhadap nilai buku perseroan.
Premi tersebut tentu punya alasan.
Investor tidak hanya membeli kinerja hotel BUVA yang sudah berjalan, tetapi juga menaruh harga pada ekspansi properti, pengembangan kawasan, dan kemampuan manajemen mengubah aset tersebut menjadi sumber pendapatan baru.
Masalahnya, sebagian aset tersebut masih berada dalam tahap pengembangan sehingga manfaat ekonominya belum seluruhnya masuk ke laporan laba rugi.
Bahkan akuisisi BPP sendiri memperlihatkan jeda antara modal yang dikeluarkan dan pendapatan yang dihasilkan.
Dalam laporan keuangan, aset neto BPP yang diakuisisi mencapai Rp475,31 miliar dan sebagian besarnya berupa properti dalam pembangunan. Harga perolehannya Rp536,23 miliar dengan arus kas keluar Rp535,57 miliar.
Jeda itulah yang akan menentukan apakah valuasi BUVA saat ini masuk akal. Jika proyek-proyek tersebut berhasil meningkatkan kapasitas pendapatan dan laba secara signifikan, premi valuasi bisa mendapatkan pembenaran dari pertumbuhan kinerja.
Sebaliknya, jika pembangunan berjalan lebih lambat atau tingkat pengembalian aset tidak cukup tinggi, harga saham akan menghadapi tekanan karena ekspektasi yang sudah terlanjur besar.
Ada satu persoalan lain yang juga patut diperhatikan. BUVA masih memiliki defisit saldo laba.
Laporan keuangan mencatat defisit tidak ditentukan penggunaannya sekitar Rp1,25 triliun per 31 Maret 2026. Perseroan menyatakan belum dapat membagikan dividen dalam waktu dekat sampai saldo laba berubah menjadi positif.
Karena itu, cerita BUVA untuk beberapa tahun ke depan lebih tepat dibaca sebagai cerita transformasi aset menjadi laba. Modal sudah dihimpun, aset bertambah, utang hendak ditekan, dan proyek baru disiapkan.
Tantangannya sekarang seberapa cepat seluruh investasi tersebut menghasilkan arus pendapatan dan laba yang mampu mengejar valuasi pasar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.