Pelemahan terjadi setelah pertempuran di Timur Tengahkembali pecah.
Diketahui, AS dan Iran sebenarnya hampir mencapai kesepakatan untuk mengakhiri pertempuran. Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan konflik kembali terjadi setelah AS dianggap melanggar gencatan sejata selama sebulan.
“Sementara AS mengatakan serangannya adalah balasan setelah tembakan Iran pada hari Kamis terhadap kapal angkatan lautnya yang melintas melalui selat tersebut,” ujar dia dalam keterangannya kepada media.
Ibrahim memandang kondisi ini bisa mengancam harapan pembukaan kembali Selat Hormuz, yang merupakan jalur transit minyak dan gas utama.
Sementara itu militer Iran mengatakan AS telah menargetkan sebuah kapal tanker minyak Iran dan kapal lain serta daerah sipil di selat dan di daratan.
“Terlepas dari pertempuran yang kembali terjadi, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada wartawan pada hari Kamis bahwa gencatan senjata masih berlaku,” jelas Ibrahim.
Ibrahim menyebut fokus pasar saat ini memantau data ketenagakerjaan AS untuk bulan April 2026, yang akan dirilis malam nanti pukul 19.30 WIB.
Menurutnya, para ekonom memperkirakan peningkatan 62.000 pekerjaan untuk bulan April 2026, sementara Tingkat Pengangguran diproyeksikan tetap stabil di 4,3 persen.
“Laporan ini mungkin akan menentukan langkah selanjutnya Federal Reserveterkait kebijakan suku bunga,” ungkapnya.
Adapun untuk perdagangan Senin pekan depan, 11 Mei 2026, Ibrahim memprediksi mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp17.380- Rp17.430.