KOSPI Melesat 0,85 Persen dan ASX Tertekan, Konflik Timur Tengah Guncang Investor
Eskalasi militer AS-Iran dan serangan Houthi guncang pasar Asia, pelaku pasar bersiap hadapi kejutan volatilitas minyak dan saham.
Ketegangan di Timur Tengah memicu volatilitas pasar saham Asia-Pasifik. Simak pergerakan indeks acuan, ancaman krisis energi, dan peta kekuatan bursa selengkapnya di sini.
Ancaman gangguan pasokan energi dan potensi perang terbuka membuat investor di kawasan regional mengambil sikap waspada penuh.
Indeks acuan Korea Selatan, Kospi, sempat melesat 0,85 persen di awal sesi, didampingi indeks saham berkapitalisasi kecil Kosdaq yang menguat 0,43 persen.
Namun sebaliknya, indeks acuan Australia, S&P/ASX 200, langsung terlempar ke zona merah dengan koreksi 0,49 persen.
Sementara itu, pasar keuangan Jepang memilih absen dari gejolak pekan ini sehubungan dengan libur nasional.
Sebelumnya, pergerakan kontrak berjangkasudah memberi sinyal merah bahwa pasar Asia-Pasifik berisiko dibuka melemah secara luas akibat eskalasi militer di Timur Tengah sepanjang akhir pekan.
Kontrak berjangka Indeks Hang Seng Hong Kong berada di level 24.678, terkikis tipis dibandingkan posisi penutupan terakhir indeks di level 24.750,78.
Sementara itu, kontrak berjangka S&P/ASX 200 Australia berada di level 8.711, tergerus dari posisi penutupan sebelumnya di level 8.731,20.
Berikut ringkasan pergerakan sejumlah indeks utama Asia-Pasifik:
- S&P/ASX 200: 8.716,90 (-0,16 persen / -14,30 poin)
- Hang Seng Index: 24.750,78 (Tidak berubah / 0,00 persen)
- KOSPI Index: 6.967,60 (+1,06 persen / +73,37 poin)
- Nikkei 225 Index: 65.018,95 (+1,38 persen / +882,70 poin)
- NIFTY 50: 23.346,40 (Tidak berubah / 0,00 persen)
- Shanghai Composite: 3.911,75 (-0,00 persen / -0,119 poin)
Peta risiko global mendadak memanas setelah Arab Saudi dihantam serangan rudal dan drone gelombang baru oleh kelompok Houthi yang didukung Iran pada Sabtu lalu.
Merespons potensi perang yang kian meluas, Departemen Luar Negeri Amerika Serikatlangsung merilis peringatan perjalanan bagi warganya agar mempertimbangkan kembali rencana kunjungan ke Timur Tengah.
Saling lempar ancaman balasan antara Washington dan Teheran kini membayangi pasar keuangan dunia, sekaligus meningkatkan risiko lonjakan harga komoditas minyak mentah global.
Futures Wall Street Merangkak Naik Ditengah Sinyal Hawkish The Fed dan Isu Geopolitik
Kontrak berjangkaindeks saham Amerika Serikat merangkak naik secara terbatas pada perdagangan Minggu malam, 20 September 2026 waktu setempat, usai Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan tren penurunan selama tiga pekan beruntun.
Pergerakan tipis di zona hijau ini terjadi saat pelaku pasar di Wall Street berupaya mencerna kombinasi tekanan dari pernyataan bernada hawkish Pimpinan Federal Reserve Kevin Warsh, lonjakan imbal hasilobligasi pemerintah, hingga eskalasi konflik geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan data perdagangan bursa berjangka AS, kontrak futures yang terikat dengan Indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan sebesar 129 poin atau menguat sekitar 0,25 persen.
Pengetatan teknis di pasar berjangka ini juga ikuti oleh kontrak futures Indeks S&P 500 yang naik tipis 0,23 persen, serta kontrak futures Indeks Nasdaq-100 berbasis saham teknologi yang merangkak naik 0,27 persen.
Pergerakan positif tersebut menunjukkan konsolidasi awal setelah pada sesi pembukaan perdagangan awal pekan, kontrak futures Dow Jones sempat bergerak sangat tipis dengan kenaikan terbatas 28 poin atau 0,05 persen, sementara S&P 500 futures dan Nasdaq-100 futures masing-masing hanya menguat 0,09 persen dan 0,05 persen.
Ketegangan Timur Tengah Menahan Laju Pemulihan Indeks Global
Penguatan terbatas pada pasar berjangka Wall Street membayang di tengah eskalasi permusuhan yang mendadak meningkat di kawasan Timur Tengah sepanjang akhir pekan.
Kelompok Houthi yang disokong Iran mengonfirmasi bahwa mereka telah meluncurkan serangkaian serangan yang melibatkan rudal dan pesawat nirawakke wilayah Arab Saudi pada Sabtu.
Menyusul insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri Serikat secara resmi merilis peringatan perjalanan yang meminta warga negaranya untuk mempertimbangkan kembali rencana perjalanan ke wilayah Timur Tengah, seiring berbalas ancaman antara otoritas AS dan Iran terkait potensi dimulainya kembali aksi militer.
Eskalasi konflik geopolitik yang berisiko mengganggu pasokan energi global ini menahan harga minyak mentah dunia tetap bertengger nyaman di atas level psikologis USD100 per barel.
Pada penutupan perdagangan akhir pekan, harga minyak mentah acuan AS jenis West Texas Intermediateuntuk kontrak berjangka terdepresiasi 1,58 persen hingga berada di posisi USD100,30 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah patokan global jenis Brent terkoreksi 0,91 persen dan ditutup pada level USD103,87 per barel.
Kondisi pasar energi yang terus memanas ini menjadi perhatian serius para investor karena berpotensi menahan laju penurunan inflasi global.
Di luar isu keamanan energi, fokus pelaku pasar internasional pada pekan ini juga tertuju pada rencana pertemuan puncakantara Presiden Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut dijadwalkan membahas berbagai isu ekonomi substantif, mulai dari penyesuaian tarif perdagangan, amankan pasokan komoditas mineral kritis, hingga regulasi pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence).
Sebagai langkah persiapan menjelang agenda diplomasi ekonomi tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar pertemuan khusus dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng guna memetakan poin-poin krusial dalam negosiasi kedua negara.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.