Laba Maybank Indonesia (BNII) Turun 20 Persen, Apa yang Sedang Terjadi?

Penurunan tersebut terjadi di tengah meningkatnya volatilitas pasar global dan melemahnya pendapatan non-bunga bank.

Maybank Indonesia mencatat laba sebelum pajak (profit before tax/PBT) sebesar Rp397 miliar pada tiga bulan pertama 2026.

Presiden Direktur Maybank Indonesia Steffano Ridwan mengatakan kondisi geopolitik global dan volatilitas pasar memberi tekanan terhadap kinerja bank pada awal tahun ini.

“Dalam kondisi ini, kami menyesuaikan ekspektasi dan fokus memanfaatkan peluang pertumbuhan pada segmen ritel dan non-ritel, korporasi termasuk Perbankan Syariah di tengah ketidakpastian yang berlangsung di sepanjang kuartal,” ujar Steffano dalam keterangan resmi dikutip, Sabtu, 30 Mei 2026.

Secara operasional, pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BNII masih tumbuh 2,1 persen menjadi Rp1,81 triliun.

Pertumbuhan tersebut ditopang penurunan beban bunga dan membaiknya struktur pendanaan bank, dengan rasio current account savings accountnaik menjadi 61,2 persen dari sebelumnya 53 persen.

Namun pertumbuhan pendapatan bunga belum mampu menahan tekanan dari pendapatan non-bunga.

Pendapatan non-bunga (non-interest income/NOII) turun 29,6 persen menjadi Rp402 miliar akibat melemahnya aktivitas transaksi pasar, khususnya bisnis Global Markets.

Maybank Indonesia mencatat pendapatan terkait aktivitas Global Markets turun menjadi Rp20 miliar dari sebelumnya Rp107 miliar.

Tekanan tersebut muncul ketika volatilitas pasar meningkat akibat gejolak geopolitik global dan fluktuasi pasar keuangan.

Selain itu, pendapatan non-Global Markets juga turun 17,6 persen menjadi Rp382 miliar. Penurunan terjadi seiring melemahnya pendapatan recovery, meski fee dari bisnis Premier Wealth masih tumbuh 20 persen secara tahunan.

Secara keseluruhan, gross operating incometurun menjadi Rp2,22 triliun dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp2,35 triliun. Di sisi lain, beban operasional naik 4,5 persen akibat kenaikan biaya tenaga kerja dan administrasi.

Laba operasional sebelum pencadangan (pre-provision operating profit/PPOP) tercatat sebesar Rp523 miliar.

Meski demikian, beban pencadangan justru turun 47,9 persen menjadi Rp123 miliar, mencerminkan kualitas aset yang membaik dan penerapan manajemen risiko yang lebih pruden.

Kondisi itu terlihat dari rasio non-performing loangross yang membaik menjadi 2,3 persen dari sebelumnya 2,4 persen. Sementara NPL net turun menjadi 1,4 persen dari 1,5 persen.

Artinya, penurunan laba Maybank Indonesia bukan berasal dari lonjakan kredit bermasalah, melainkan lebih dipicu perlambatan pendapatan transaksi pasar dan pendapatan operasional non-bunga.

Dari sisi penyaluran kredit, total kredit BNII relatif stabil di level Rp121,99 triliun.

Segmen Community Financial Servicesjustru tumbuh 5,4 persen menjadi Rp88,33 triliun, ditopang pertumbuhan kredit bisnis komersial, UKM, otomotif, kartu kredit, dan kredit tanpa agunan.

Kredit segmen korporasi Global Banking turun 12,4 persen akibat re-balancing portofolio.

Meski demikian, Maybank menyebut kredit korporasi besar dan transaksi Shariah Restricted Investment Accountmulai meningkat dan akan dibukukan pada kuartal berikutnya.

Di tengah tekanan laba, kondisi likuiditas dan permodalan BNII masih tergolong kuat.

Rasio loan to deposit ratioberada di level 85,5 persen, sedangkan liquidity coverage ratiomencapai 146,2 persen dan net stable funding ratiosebesar 112,4 persen.

Permodalan bank juga tetap solid dengan rasio capital adequacy ratiosebesar 26,3 persen dan rasio common equity tier 1sebesar 25,2 persen.

Salah satu penopang pertumbuhan BNII justru datang dari lini syariah. Pembiayaan syariah tumbuh 10,4 persen menjadi Rp32,23 triliun, sementara laba sebelum pajak perbankan syariah melonjak 52,1 persen menjadi Rp226 miliar.

Presiden Komisaris Maybank Indonesia Dato’ Sri Khairussaleh Ramli mengatakan tekanan pasar pada kuartal pertama 2026 membuat bank fokus memperkuat fundamental bisnis inti.

“Dari segi arah bisnis, kami meyakini langkah memperkuat fundamental merupakan hal yang tepat sejalan dengan arah strategis ROAR30 yang telah kami canangkan di Maybank Group,” ujar Khairussaleh.

Anak usaha BNII juga menunjukkan hasil beragam. PT Maybank Indonesia Finance mencatat kenaikan laba sebelum pajak 24,6 persen menjadi Rp177 miliar dengan kualitas aset tetap terjaga.

Sementara PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbkmencatat laba sebelum pajak turun 58,1 persen menjadi Rp33 miliar akibat peningkatan pencadangan.