MBMA Dibuka Stagnan: Free Float Menyusut, Bandar Jaga Harga?

Pergerakan datar tersebut muncul setelah saham emiten nikel grup Merdeka itu mengalami volatilitas tinggi sepanjang sepekan terakhir.

Pelaku pasar juga mulai menyoroti perubahan struktur kepemilikan saham setelah free float perusahaan turun menjadi 26,73 persen per April 2026.

Data perusahaan menunjukkan persentase free float MBMA turun tipis dari sebelumnya 26,77 persen. Pada saat yang sama, perusahaan mencatat kepemilikan saham treasuri sebanyak 22,54 juta lembar.

Kepemilikan pengendali PT Merdeka Energi Nusantara tetap berada di level 50,04 persen. Jumlah investor dengan Single Investor Identification atau SID justru meningkat menjadi 58.672 investor.

Perubahan free float, meski relatif kecil, tetap menjadi perhatian pasar karena berkaitan langsung dengan likuiditas saham di pasar reguler.

Semakin kecil porsi saham publik yang aktif beredar, semakin sensitif pula pergerakan harga terhadap transaksi dana besar.

Reli Cepat Berubah jadi Arena Adu Trading

Pergerakan MBMA sepanjang sepekan terakhir memperlihatkan pola yang sangat agresif. Saham ini sempat ditutup di level Rp540 pada 18 Mei 2026 sebelum akhirnya mengalami tekanan bertahap hingga turun ke Rp440 pada 21 Mei 2026.

Pada 19 Mei 2026, MBMA terkoreksi 11,85 persen atau turun 64 poin ke level Rp476. Nilai transaksi mencapai Rp351,02 miliar dengan volume perdagangan 7,22 juta lot dan frekuensi 34,06 ribu kali.

Meski harga anjlok tajam pada hari tersebut, arus dana asing justru masih menunjukkan net foreign buy sebesar Rp99,94 miliar. Nilai pembelian asing mencapai Rp159,30 miliar sementara penjualan asing tercatat Rp59,36 miliar.

Tekanan kembali berlanjut pada 20 Mei 2026. Saham MBMA turun 3,36 persen ke level Rp460 meski asing masih mencatat net buy Rp76,76 miliar.

Kondisi mulai berubah pada 21 Mei 2026 ketika tekanan jual mulai mereda. Saham memang masih terkoreksi 4,35 persen ke level Rp440, tetapi net foreign kembali positif Rp8,65 miliar.

Puncak pembalikan terjadi pada 22 Mei 2026. MBMA melonjak 9,55 persen atau naik 42 poin ke level Rp482.

Nilai transaksi pada hari itu mencapai Rp280,08 miliar dengan volume perdagangan 6,04 juta lot dan frekuensi 27,07 ribu kali. Menariknya, kenaikan harga justru terjadi ketika asing mencatat net sell tipis Rp8,28 miliar.

Pola ini menunjukkan adanya pergeseran kekuatan transaksi dari dominasi asing menuju aktivitas trader domestik jangka pendek.

Ketika harga mampu bangkit meski asing melakukan distribusi tipis, pasar biasanya mulai mencurigai adanya penjagaan harga oleh pelaku tertentu.

Free Float Menyusut 

Penurunan free float MBMA memang hanya bergerak tipis dari 26,77 persen menjadi 26,73 persen.

Meski demikian, perubahan kecil seperti ini tetap diperhatikan serius oleh pelaku pasar karena menyangkut ketersediaan saham publik yang bisa diperdagangkan secara aktif.

MBMA sendiri masih berada di atas batas minimum free float Bursa Efek Indonesia. Meski begitu, penurunan bertahap tetap mulai dicermati karena dapat memengaruhi persepsi likuiditas jangka panjang.

Kenaikan jumlah investor SID menjadi 58.672 investor menunjukkan basis pemegang saham MBMA masih bertambah.

Fakta tersebut memberi gambaran bahwa minat investor ritel terhadap saham nikel dan ekosistem baterai kendaraan listrik masih cukup tinggi.

Pasar juga melihat MBMA sebagai bagian dari rantai industri hilirisasi nikel nasional yang masih menjadi tema besar pemerintahan Prabowo Subianto.

Sentimen tersebut membuat saham grup Merdeka sering kembali aktif ketika isu kendaraan listrik dan hilirisasi mineral kembali menguat.

Asing Sempat Borong Besar Saat Harga Runtuh

Salah satu data yang paling menarik dari pergerakan MBMA pekan lalu ialah pola transaksi asing yang justru agresif ketika harga mengalami tekanan tajam.

Pada 18 Mei 2026, saat saham turun 7,69 persen ke level Rp540, asing mencatat net buy Rp44,47 miliar.

Kondisi itu berlanjut sehari kemudian ketika saham jatuh lebih dalam tetapi asing malah meningkatkan pembelian bersih hingga Rp99,94 miliar.

Meski begitu, sinyal tersebut belum otomatis berarti tren naik akan langsung berlanjut. Dalam beberapa kasus, saham justru bergerak liar terlebih dahulu sebelum arah utama benar benar terbentuk.

MBMA kini berada dalam fase yang cukup sensitif. Harga berhasil memantul dari area Rp440 menuju Rp482, tetapi volatilitas perdagangan masih tinggi.

Rentang pergerakan harian juga masih lebar. Pada perdagangan 22 Mei 2026, saham bergerak dari level terendah Rp408 hingga menyentuh Rp484 sebelum akhirnya ditutup di Rp482.

Spread seperti itu menunjukkan aktivitas trading jangka pendek masih sangat dominan. Trader cepat biasanya memanfaatkan momentum volatilitas tinggi untuk mengambil profit harian.

Area Rp470 Penentu Arah Jangka Pendek

Pelaku pasar saat ini mulai fokus pada area Rp470 sebagai batas penting jangka pendek MBMA. Level tersebut menjadi area stop loss yang mulai banyak diperhatikan trader.

Jika harga bertahan di atas Rp470, peluang penguatan menuju target Rp500 hingga Rp520 masih terbuka. Area tersebut menjadi resistance terdekat setelah saham berhasil rebound dari tekanan pekan lalu.

Kondisi berbeda akan muncul jika MBMA kembali jatuh di bawah Rp470. Tekanan jual kemungkinan bisa meningkat karena sebagian trader jangka pendek mulai keluar untuk mengamankan profit cepat hasil rebound sebelumnya.

Perdagangan hari ini diperkirakan masih akan bergerak cukup fluktuatif. Pembukaan stagnan di Rp482 menunjukkan pasar masih menunggu arah baru setelah lonjakan tajam pada akhir pekan lalu.

Volume transaksi menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan. Jika kenaikan harga tidak diikuti penguatan volume dan frekuensi transaksi, pasar biasanya membaca rebound hanya bersifat teknikal sementara.

Sebaliknya, jika volume kembali meningkat disertai antrean bid yang tebal, peluang penguatan menuju Rp500 bisa kembali terbuka. Trader jangka pendek umumnya mulai agresif masuk ketika saham mampu bertahan di atas area psikologis penting.

Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.