Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan kondisi tersebut membuat pemerintah perlu memperbesar permintaan dalam negeri melalui pengembangan kapasitas pembangkit tenaga surya hingga 100 GWp.
Airlangga membeberkan bahwa industri panel surya di Indonesia sebenarnya mengalami lonjakan produksi yang sangat pesat, dengan kapasitas mendekati 11 Gigawatt peak
Ia menyebut, ekspor panel surya Indonesia ke pasar Amerika Serikat bahkan sempat tumbuh melonjak lebih dari 100 persen dalam waktu satu tahun terakhir.
“Dampaknya langsung terasa. Indonesia dikenakan bea masuk untuk solar panel sebesar 104 persen oleh Amerika Serikat.
Dengan demikian, dipastikan kita tidak bisa lagi mengekspor solar panel ke Amerika,” ungkap Airlangga, Selasa, 6 Oktober 2026.
Menanggapi hal ini, presiden mendorong pengalihan fokus pasar secara radikal ke dalam negeri.
Pemerintah menyiapkan agenda ekspansi energi terbarukan berskala masif dengan memasang target kapasitas Pembangkit Listrik Tenaga Suryahingga 100 GWp.
“Bapak Presiden mendorong agar kita meningkatkan domestic demand dengan agenda mendorong 100 GW peak solar panel. Ini diperkirakan berasal dari integrasi renewable energy, solar panel, beserta battery energy storage system,” jelasnya.
Pengembangan jaringan PLTS 100 GWp dan sistem penyimpanan bateraitersebut diproyeksikan menyerap pasokan modul panel surya buatan pabrik-pabrik lokal.
Langkah ini diklaim mampu memperkuat sinergi ekosistem baterai kendaraan listrik dan penyimpanan energi nasional yang berbasis pada komoditas nikel.
Politisi Partai Golkar itu menegaskan bahwa penguatan pasar domestik merupakan strategi paling rasional di tengah tingginya gelombang proteksionisme perdagangan internasional.
Menurutnya, pemerintah berkomitmen untuk memastikan seluruh rantai pasok energi bersih dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri secara mandiri.
“Kita harus mengamankan seluruh mata rantai industri nasional, mulai dari bahan baku, teknologi, hingga penyerapan pasarnya.
Dengan memperkuat permintaan dalam negeri, kita tidak hanya menyelamatkan industri panel surya lokal, tetapi juga mempercepat transisi energi hijau secara mandiri,” kata Airlangga.
Optimalisasi Megaproyek PLTS 100 Gigawatt
Sebelumnya, Pemerintah telah secara resmi mengeksekusi megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Suryaberkapasitas total 100 Gigawattdengan nilai investasi fantastis mencapai 73 miliar dolar AS atau setara Rp1.140 triliun lebih.
Proyek strategis ini diklaim mampu memangkas alokasi subsidi energi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negarasecara signifikan setiap tahunnya.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa eksekusi program PLTS 100 GW ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto guna memanfaatkan keunggulan komparatif energi terbarukan Indonesia sekaligus memotong beban pengeluaran negara.
“Perlu kami laporkan atas perintah Bapak Presiden kepada kami sejak satu tahun lalu adalah bagaimana kita mengelola energi kita dengan memanfaatkan keunggulan komparatif.
Hari ini tanggal 25 Agustus, bertepatan 11 hari setelah Bapak Presiden menyampaikan pidato, kita mempercepat mengeksekusi implementasi 100 GW di bawah program PLTS dengan total investasi 73 miliar dolar AS atau setara dengan Rp1.140 triliun lebih,” ujar Bahlil saat Launching dan groundbreaking program PLTS 100 GWp.
Bahlil memaparkan bahwa dengan bergulirnya megaproyek energi bersih ini, pemerintah memproyeksikan efisiensi belanja subsidi energi skala besar yang selama ini menguras kas negara.
“Dari bentang pekerjaan ini, kita bisa melakukan efisiensi terhadap subsidi setiap tahun sebesar Rp73,9 triliun. Selain itu, proyek ini bisa menciptakan lapangan pekerjaan kurang lebih sekitar 5,52 juta lapangan kerja,” terangnya.
Guna mengawali proyek raksasa tersebut, pemerintah secara resmi melakukan peletakan batu pertamauntuk tahap awal berkapasitas 5,3 GW, termasuk alokasi khusus untuk Pulau Bali berkapasitas 1.000 Megawatt
“Untuk di hari yang kita laksanakan ini, kita groundbreaking sebesar 5,3 GW dan untuk di Bali adalah 1.000 MW ditambah battery storage.
Saya tidak tahu kenapa angkanya 5,3, tapi saya tahu bahwa 5 tambah 3 hasilnya nanti Bapak Presiden sendiri yang bisa menjelaskan,” canda Bahlil.
Khusus untuk wilayah Bali, penetapan proyek PLTS berkapasitas 1.000 MW yang dilengkapi dengan sistem penyimpanan baterai ini ditujukan untuk memangkas ketergantungan wilayah pariwisata tersebut dari Pembangkit Listrik Tenaga Diesel
Penghentian operasional PLTD di Bali dinilai selaras dengan kampanye pariwisata hijausekaligus menghemat konsumsi bahan bakar fosil secara masif.
“Khusus untuk Bali, dengan kita memakai 1.000 MW itu mampu melakukan efisiensi 0,6 juta kiloliter solar.
Selama ini ternyata Bali masih pakai PLTD, jadi tidak heran kemudian kalau ini kita lakukan di Bali karena kampanyenya adalah green energy,” tegas Bahlil.
Secara nasional, Bahlil menyebut masih terdapat sekitar 12,6 GW kapasitas pembangkit listrik di seluruh Indonesia yang menggantungkan pasokan energinya dari bahan bakar solar.
Penggunaan solar pada pembangkit listrik tersebut menyerap volume BBM dalam jumlah yang sangat besar, sehingga memicu ketergantungan pada keran impor BBM jenis diesel.
“Rata-rata kita targetkan total listrik yang ada di Indonesia masih ada 12,6 GW yang memakai solar.
Dari 12,6 GW itu mengonsumsi minyak kita kurang lebih 231 sampai 250 ribu barel per hariJadi kalau ini mampu kita lakukan, maka penurunan terhadap impor BBM kita di posisi solar akan turun dan semuanya akan kita memakai energi nasional,” jelasnya.
Selain dampak efisiensi anggaran dan penekanan impor, megaproyek PLTS 100 GW ini ditargetkan menyumbang kontribusi besar bagi agenda dekarbonisasi dan perdagangan karbon global.
“Selain daripada itu, kalau ini mampu kita implementasikan semuanya, penurunan emisi sebesar 140 juta ton CO2 per tahun dengan nilai ekonomi karbon sebesar Rp6,31 triliun,” urai Bahlil.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.