Permata Bank Gandeng Bangkok Bank, Bidik Peluang Bisnis ASEAN

Program Bangkok Bank dan perusahaan berkode saham BNLI tersebut, bertujuan untuk meningkatkan perdagangan dua arah, investasi, serta perluasan rantai pasok antara Thailand dan Indonesia hingga kawasan ASEAN.

Business matching ini mempertemukan para nasabah Bangkok Bank dari Thailand dengan calon mitra usaha Indonesia yang berada dalam jaringan nasabah Permata Bank.

Bagi Permata Bank, pertemuan tersebut diarahkan demi membuka peluang kemitraan investasi, penguatan rantai pasok, hingga akses pasar Indonesia.

Inisiatif ini berlangsung ketika Indonesia dan Thailand tengah mendorong peningkatan nilai perdagangan bilateral dari sekitar USD19,5 miliar pada 2025 menjadi USD23 miliar pada 2030.

Adapun kerja sama kedua negara mencakup sejumlah sektor, yaitu ketahanan pangan, rantai nilai halal, energi, ekonomi digital, logistik, serta rantai pasok regional.

Jika dirupiahkan, target nilai perdagangan Thailand dan Indonesia pada 2030 sekitar Rp411,05 triliun (kurs 1 USD = Rp17.871 per 2 Oktober 2026).

Menurut Presiden Bangkok Bank, Chartsiri Sophonpanich, Thailand dan Indonesia merupakan mitra dengan hubungan perdagangan yang baik.

Hubungan ini disebut terus berkembang dan membuka peluang kerja sama di berbagai bidang, mulai dari pertanian, produk halal, perikanan berkelanjutan, dan energi hijau hingga pengembangan ekosistem terintegrasi untuk kendaraan listrik, serta papan sirkuit cetak.

“Dengan mempertemukan pelaku usaha secara langsung dengan mitra lokal Permata Bank, kami membantu nasabah memahami pasar, terhubung dengan mitra kredibel, dan membangun bisnis yang mengubah peluang regional menjadi nilai jangka panjang bagi perusahaan, masyarakat, serta perekonomian Thailand dan Indonesia,” ucapnya dal keterangan resmi dikutip, Jumat, 2 Oktober 2026.

Sementara itu, Duta BesarRepublik Indonesia untuk Kerajaan Thailand, Hari Prabowo menyatakan  penguatan hubungan bisnis kedua negara dinilai berorientasi pada transaksi perdagangan sekaligus pembentukan kemitraan di sepanjang rantai nilai.

“Kami memandangnya lebih dari sekedar transaksi jual-beli.

Indonesia dan Thailand memiliki kekuatan yang saling melengkapi, dan kini saatnya untuk mewujudkan kekuatan tersebut menjadi kemitraan nyata, yang memberikan nilai nyata, sekaligus memperkuat rantai nilai ASEAN,” jelasnya.

Dubes Kerajaan Thailand untuk Indonesia, Prapan Disyatat menyebut,   inisiatif Bangkok Bank dan Permata Bank bakal melengkapi Peta Jalan Kemitraan Strategis Thailand-Indonesia 2026-2030 yang telah disepakati kedua negara.

Ia menyebut Thailand dan Indonesia sebagai mitra dagang dengan potensi kerja sama yang masih dapat dikembangkan.

Sehingga, program business matching ini menjadi sarana bagi perusahaan Thailand untuk terhubung langsung dengan mitra di Indonesia.

Direktur Utama Permata Bank, Meliza M. Rusli menambahkan, Indonesia masih menjadi salah satu tujuan bagi pelaku usaha yang ingin memperluas bisnis di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, Permata Bank melihat peluang untuk mendukung perusahaan Indonesia berekspansi ke Thailand dan pasar regional.

“Kami melihat peluang yang signifikan dalam mendukung lebih banyak lagi perusahaan Indonesia untuk berekspansi ke Thailand dan kawasan Asia Tenggara.

Dengan memadukan kekuatan jaringan regional Bangkok Bank dengan keahlian lokal Permata Bank, kami dapat memperkuat konektivitas lintas batas, memfasilitasi peningkatan perdagangan dan investasi, serta mendukung nasabah kami dalam mengembangkan usahanya di kawasan ini,” paparnya.

Dalam rangkaian Bangkok Bank Indonesia Exclusive Trip, pelaku usaha Thailand juga mengikuti seminar di Kedutaan Besar Kerajaan Thailand di Jakarta, sesi jejaring bisnis, paparan mengenai pasar Indonesia, hingga kunjungan lapangan.

Kegiatan tersebut dinilai dapat memberi gambaran mengenai kondisi ekonomi Indonesia, regulasi, budaya bisnis, serta peluang pasar bagi perusahaan Thailand yang ingin berekspansi di Indonesia.

Program ini menjadi salah satu rangkaian kerja sama Bangkok Bank dan Permata Bank sepanjang 2026.

Pada Juli lalu, kedua bank menyelenggarakan Indonesia Investment & Trade Forum 2026 bertema Driving Growth and Creating Opportunities: Unlocking the Thailand & Indonesia Trade Corridor.

Laba Permata Bank Naik 16,6 Persen, Kredit Tembus Rp161 Triliun

PT Bank Permata Tbk selama kuartal pertama 2026 membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 16,6 persen secara tahunan

Laba bersih Permata Bank ditopang oleh kenaikan pendapatan non-bunga sebesar 11,9 persen YoY. Selain itu hingga akhir Maret 2026, penyaluran kredit Permata Bank dinyatakan tumbuh sebesar 2,8 persen YoY menjadi Rp161 triliun.

Kinerja ini didorong oleh segmen korporasi yang naik 6,5 persen YoY menjadi Rp98,2 triliun, serta segmen komersial yang meningkat 1,8 persen YoY menjadi Rp19,7 triliun.

Meliza M. Rusli mengatakan  konsistensi strategi bisnis diklaim menjadi kunci ketahanan kinerja perseroan berkode saham BNLI tersebut.

“Kinerja Permata Bank pada kuartal pertama 2026 mencerminkan ketahanan dan disiplin kami dalam menjalankan strategi bisnis.

Didukung oleh permodalan dan likuiditas yang kuat, serta pertumbuhan kredit yang selektif, kami terus menjaga kinerja bank dalam menghadapi dinamika pasar sekaligus mendukung kebutuhan nasabah dan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan,” ujarnya lewat keterangan resmi beberapa waktu lalu.

Meliza menambahkan, Permata Bank akan terus mengembangkan talenta sumber daya manusia, optimalisasi kapabilitas digital, serta memperluas kemitraan strategis.

Sementara dari sisi fundamental, likuiditas dan permodalan Permata Bank diakui tetap kuat. Loan-to-Deposit Ratiotercatat 87,1 persen, naik dari 83,2 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Sedangkan untuk rasio likuiditas,  berada jauh di atas ketentuan regulator dengan Liquidity Coverage Ratiomencapai 267,4 persen dan Net Stable Funding Ratiosebesar 122,9 persen.

Optimalisasi neraca juga mendorong peningkatan dana murahmenjadi 65,5 persen, dari sebelumnya 58,6 persen pada kuartal I 2025.

Lebih lanjut, Rasio kredit bermasalahgross Permata Bank saat ini  berada di level 2,2 persen, sementara Loan at Risksebesar 6,4 persen.

Bank juga membentuk pencadangan secara konservatif dengan NPL coverage mencapai 355,7 persen dan LAR coverage 120,6 persen.

Permata Bank turut menangani kredit bermasalah melalui restrukturisasi, litigasi, hingga penjualan aset untuk menjaga stabilitas portofolio.

Dari sisi permodalan, rasio Capital Adequacy Ratiomencapai 33,9 persen dan Common Equity Tier 1sebesar 25,9 persen.

Level ini menempatkan Permata Bank sebagai salah satu bank dengan permodalan terkuat di kelompok bank besar nasional, sekaligus membuka ruang ekspansi ke depan.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.