Pipeline IPO BEI Tetap Tujuh Perusahaan, Healthcare Masih Mendominasi

Jumlah tersebut sama dengan posisi awal tahun, tetapi komposisi sektor dan skala aset perusahaan dalam pipeline mengalami perubahan.

“Hingga saat ini, terdapat 7 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI,” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI Saidu Solihin dalam pengumuman tertulis yang dikutip Ahad, 30 Agustus 2026.

Pipeline merupakan daftar perusahaan yang sedang menjalani proses persiapan untuk mencatatkan saham di BEI.

Perusahaan yang masuk dalam pipeline belum berarti telah melakukan IPO karena masih harus menyelesaikan sejumlah tahapan sebelum sahamnya dapat tercatat dan diperdagangkan di bursa.

Pada awal 2026, tepatnya hingga 15 Januari, BEI juga mencatat 7 perusahaan dalam pipeline IPO. Saat itu, mayoritas perusahaan memiliki aset skala besar.

Sebanyak 5 perusahaan memiliki aset di atas Rp250 miliar, 1 perusahaan memiliki aset antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, dan 1 perusahaan memiliki aset di bawah Rp50 miliar.

Dari sisi sektor, pipeline pada awal tahun terdiri dari 2 perusahaan sektor financials serta masing-masing 1 perusahaan dari sektor basic materials, energy, industrials, technology, dan transportation & logistic.

Memasuki akhir Agustus, jumlah perusahaan dalam pipeline tetap 7. Namun, komposisinya berubah dengan sektor healthcare menjadi yang paling dominan.

Dari 7 perusahaan tersebut, 4 perusahaan berasal dari sektor healthcare atau kesehatan. Jumlah itu setara dengan 57,1 persen dari total pipeline.

Kemudian, masing-masing 1 perusahaan berasal dari sektor consumer non-cyclicals, energy, dan industrials. Masing-masing sektor tersebut memiliki porsi 14,3 persen.

Perubahan juga terlihat dari skala aset. Dari 7 perusahaan yang masih berada dalam pipeline, sebanyak 2 perusahaan memiliki aset skala kecil, 2 perusahaan aset skala menengah, dan 3 perusahaan aset skala besar.

Klasifikasi tersebut mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017.

Perusahaan dengan aset skala kecil memiliki aset di bawah Rp50 miliar, perusahaan dengan aset skala menengah memiliki aset antara Rp50 miliar sampai Rp250 miliar, sedangkan perusahaan dengan aset skala besar memiliki aset di atas Rp250 miliar.

Perusahaan yang Sudah Melantai di 2026

Sementara itu, sepanjang 2026 hingga 28 Agustus, BEI telah mencatat 7 perusahaan yang melantai di bursa dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.

Ketujuh perusahaan tersebut adalah PT BSA Logistics Indonesia Tbk, PT Nitrasanata Dharma Tbk, PT Niramas Utama Tbk, PT Bach Multi Global Tbk, PT Prodia Diagnostic Line Tbk, PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk, dan PT Esa Medika Mandiri Tbk

Setelah 7 perusahaan tersebut, PT Swayasa Prakarsa Tbktelah memiliki jadwal penawaran umum. Perseroan dijadwalkan melaksanakan penawaran umum pada 2–8 September 2026 dan mencatatkan saham di BEI pada 10 September 2026.

Pipeline EBUS

Selain pencatatan saham, BEI mencatat aktivitas penerbitan efek bersifat utang dan sukuk atau EBUS.

Hingga 28 Agustus 2026, telah diterbitkan 122 emisi dari 62 penerbit EBUS dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp112 triliun.

Sementara itu, terdapat 14 emisi dari 9 penerbit EBUS yang masih berada dalam pipeline.

Pipeline EBUS tersebut terdiri dari 2 perusahaan sektor basic materials, 3 perusahaan sektor energy, 1 perusahaan sektor financials, 1 perusahaan sektor industrials, dan 2 perusahaan sektor infrastructures.

Tidak terdapat pipeline EBUS dari sektor consumer cyclicals, consumer non-cyclicals, healthcare, properties & real estate, technology, serta transportation & logistic.

EBUS merupakan efek bersifat utang dan sukuk yang diterbitkan untuk menghimpun dana melalui pasar modal.

Berbeda dengan saham yang memberikan kepemilikan terhadap perusahaan, EBUS berkaitan dengan kewajiban penerbit untuk memenuhi pembayaran kepada pemegang efek sesuai ketentuan penerbitannya.

Rights Issue

Untuk aksi korporasi rights issue, hingga 28 Agustus 2026 terdapat 15 perusahaan tercatat yang telah menerbitkan rights issue dengan total nilai Rp15,85 triliun.

Rights issue merupakan aksi korporasi berupa penerbitan saham baru yang memberikan hak terlebih dahulu kepada pemegang saham lama untuk membeli saham tersebut sesuai ketentuan yang ditetapkan perusahaan.

Selain 15 perusahaan yang telah menerbitkan rights issue, masih terdapat 1 perusahaan tercatat dalam pipeline rights issue BEI. Perusahaan tersebut berasal dari sektor properties & real estate.

Dengan demikian, hingga 28 Agustus 2026, jumlah perusahaan dalam pipeline pencatatan saham BEI masih 7 perusahaan, sama seperti posisi awal tahun.

Namun, komposisinya berubah, dengan sektor healthcare menjadi yang paling dominan, yakni 4 perusahaan atau 57,1 persen dari total pipeline.

Pada saat yang sama, BEI telah mencatat 7 perusahaan baru yang melantai di bursa dengan total dana dihimpun Rp2,16 triliun.

Di pasar EBUS, terdapat 14 emisi dari 9 penerbit yang berada dalam pipeline, sedangkan pipeline rights issue tersisa 1 perusahaan dari sektor properties & real estate.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.