Hal ini ia sampaikan saat menjadi narasumber pada acara “Sarasehan 100 Ekonom Indonesia: Berlayar di Tengah Gelombang Global, Menjaga Daya Tahan Ekonomi Nasional” yang diselenggarakan pada Kamis, 3 September 2026 di Jakarta.
Dalam kesempatan tersebut, Purbaya menerangkan bahwa hingga akhir Juli 2026, penerimaan perpajakan menunjukkan kinerja positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada saat yang sama, defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negarahingga akhir Juli 2026 tercatat sekitar 0,9 persen. Hal ini menunjukkan ruang fiskal yang masih cukup kuat untuk mengantisipasi berbagai dinamika perekonomian ke depan.
“Tax collection sampai dengan akhir Juli tahun ini tumbuhnya hampir 30 persen dibanding tahun lalu. Jadi penerimaan kita kuat.
Ruang fiskal juga masih terbuka lebar, cukup kuat. Kalau kita lihat defisit sampai akhir Juli baru 0,9 persen defisitnya,” ungkap Menkeu dalam keterangannya dikutip, Jumat, 4 September 2026.
Lebih lanjut Purbaya menjelaskan, penguatan penerimaan tersebut berhasil dilakukan tanpa menaikkan tarif maupun mengenakan jenis pajak baru.
Alih-alih, pemerintah memilih untuk mengoptimalkan penerimaan melalui perbaikan sistem dan peningkatan kinerja.
“Memang penerimaan kita di atas perkiraan semula, dan itu terjadi tanpa kenaikan tax rate. Tarif pajaknya tidak naik, tidak ada pajak baru.
Saya cukup perbaiki saja kinerja pegawaiPajak. Sekarang pajak sudah lebih baik kinerjanya, Bea Cukai juga sama.
Makanya, saya bisa dapat angka penerimaan yang tinggi,” jelasnya.
Selain itu, Purbaya membeberkan implementasi Coretax juga telah memberikan kontribusi positif terhadap peningkatan penerimaan.
Meskipun sempat menghadapi berbagai kendala pada tahap awal implementasi, penyempurnaan yang terus dilakukan memungkinkan sistem dapat berjalan semakin baik.
Dari sisi belanja, kata Purbaya, pemerintah terus memastikan agar APBN digunakan secara efektif untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat.
Dia bilang, pemerintah akan mengendalikan belanja yang tidak diperlukan dan mengalihkannya untuk belanja yang lebih produktif.
Pada saat yang sama, APBN juga tetap menjalankan fungsi sebagai shock absorber, termasuk melalui subsidi untuk meredam dampak kenaikan harga minyak dunia.
“Kita kendalikan belanja-belanja yang tidak perlu dan kita arahkan untuk belanja yang produktif.
Sementara itu, daya beli masyarakat tetap kita jaga, termasuk dengan menyerap dampak kenaikan harga minyak dunia melalui subsidi,” tutur Purbaya.
Selain itu, efisiensi juga akan diterapkan pada pelaksanaan berbagai program prioritas pemerintah.
Pada program Makan Bergizi Gratis, misalnya, pemerintah terus mendorong peningkatan efisiensi melalui perbaikan tata kelola dan pemanfaatan teknologi.
Pihaknya pun turut dilibatkan dalam mendukung pengawasan pelaksanaan program tersebut melalui pemantauan Satuan Pelayanan Pemenuhan GiziSementara itu, untuk mendukung Koperasi Desa Merah Putih, pemerintah telah menyediakan anggaran sebesar Rp40 triliun untuk pembayaran cicilan dan bunga.
“Untuk KDMP kita sudah sediakan uang Rp40 triliun, sudah siap dari awal tahun itu, untuk membayar cicilan dan bunganya.
Jadi September ini akan jatuh tempo, saya pastikan uangnya siap untuk dibayar sehingga perbankan tidak goncang,” ungkapnya.
Dengan penerimaan yang kuat dan belanja yang terkendali tersebut, Menkeu meyakini APBN dapat dijaga tetap sehat dan responsif untuk mengantisipasi berbagai ketidakpastian sekaligus menjaga daya beli masyarakat, mendukung program prioritas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Purbaya Bidik Ekonomi Enam Persen, Investasi dan Migas Jadi Andalan
Sebelumnya diberitakan, Purbaya menyatakan target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga enam persen pada 2027 dapat dicapai melalui strategi penguatan investasi, stabilitas ekonomi makro, peningkatan produksi minyak dan gas bumi, serta reformasi fiskal.
Strategi tersebut dilakukan agar percepatan ekonomi nasional tidak mengganggu kesehatan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara
Purbaya mengatakan, perkembangan ekonomi dan kinerja fiskal sepanjang 2026 merupakan pijakan dalam menyusun arsitektur Rancangan APBN2027.
“Dengan mencermati perkembangan ekonomi terkini serta prospek ke depan, arah kebijakan ekonomi dan fiskal tahun 2027 dirancang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi sekaligus mempercepat peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujar Menkeu dalam keterangan resmi, Selasa, 1 September 2026.
Target pertumbuhan 6 persen tersebut tidak hanya mengandalkan kebijakan fiskal, tapi juga melalui koordinasi dengan Bank Indonesia, sektor keuangan, dunia usaha, dan pemerintah daerah.
“Diperlukan sinergi dan kolaborasi yang kuat antara kebijakan fiskal, moneter, sektor keuangan, dan dunia usaha sehingga masing-masing instrumen dapat bekerja secara optimal, proporsional, dan saling menguatkan,” ucap Purbaya.
Pemerintah juga menempatkan stabilitas ekonomi makro sebagai fondasi utama untuk mengejar pertumbuhan yang lebih tinggi.
Pengendalian inflasi menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, konsumsi, serta iklim investasi.
Selain itu, pemerintah akan menjaga kondisi suku bunga tetap kompetitif untuk memperluas akses pembiayaan dan mendorong dunia usaha meningkatkan investasi.
Pada saat yang sama, pemerintah turut membidik sektor strategis yang dapat memperkuat sumber pertumbuhan sekaligus ketahanan ekonomi, seperti di sektor minyak dan gas
Dalam hal ini, pemerintah bakal mengaktifkan sumur yang sebelumnya tidak aktif, percepatan pengembangan cadangan migas, pemanfaatan teknologi, serta penguatan pengawasan untuk meningkatkan efisiensi operasi.
Dari sisi investasi, pemerintah berencana memperbaiki iklim usaha hulu migas melalui peningkatan kepastian usaha, pemberian insentif fiskal, dan penyederhanaan regulasi.
Langkah tersebut demi meningkatkan produksi migas nasional dan mengurangi tekanan terhadap ketahanan energi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.