Rupiah Diprediksi Volatil, Dolar AS Bergerak Terbatas

Pergerakan rupiah akan dipengaruhi oleh sentimen global, terutama perkembangan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, harga minyak, serta pidato Chairman Federal Reserve Kevin Warsh dalam Simposium Jackson Hole.

Pada penutupan Kamis, 27Agustus 2026, rupiah di pasar spot melemah 0,11 persen ke level Rp17.744 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi JISDOR Bank Indonesia berada di level Rp17.762 per dolar AS.

Untuk perdagangan hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS.

Dengan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.744, rentang tersebut menunjukkan potensi pergerakan yang cukup lebar di tengah sikap investor yang cenderung menunggu perkembangan global.

Dolar AS Bergerak Terbatas

Di pasar global, dolar AS bergerak relatif mendatar setelah sejumlah data ekonomi Amerika Serikat dirilis. Indeks Dolar AS atau DXY naik tipis 0,05 persen menjadi 99,18.

DXY mengukur pergerakan dolar AS terhadap enam mata uang utama. Secara mingguan, dolar AS tercatat menguat 0,35 persen, setelah pada pekan sebelumnya melemah 0,83 persen.

Pelemahan dolar pada pekan sebelumnya terjadi setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyampaikan rencana Departemen Keuangan menggandakan nilai pembelian kembali obligasi pemerintah AS berjangka panjang setiap kuartal.

Kebijakan tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi memengaruhi kondisi pasar obligasi dan sinyal mengenai biaya pinjaman pemerintah AS.

Perubahan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi ekspektasi terhadap pergerakan dolar.

Saat ini, perhatian investor kembali tertuju pada Federal Reserve. Kevin Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato dalam Simposium Jackson Hole pada Jumat waktu Amerika Serikat.

Pasar akan mencari petunjuk mengenai bagaimana The Fed melihat kenaikan imbal hasil US Treasury, terutama kemungkinan bahwa kenaikan yield obligasi dapat menjalankan sebagian fungsi pengetatan kebijakan moneter.

Investor juga mencermati apakah Warsh akan memberikan petunjuk mengenai kebijakan suku bunga menjelang pertemuan The Fed pada September.

Data Ekonomi AS Belum Banyak Menggerakkan Dolar

Sejumlah data ekonomi yang dirilis Kamis belum memberikan dorongan besar terhadap dolar AS.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun untuk pekan kedua berturut-turut menjadi 203.000 secara penyesuaian musiman. Angka tersebut berada di bawah estimasi ekonom yang disurvei Reuters sebesar 208.000.

Data tersebut menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif kuat. Namun, respons dolar terhadap data tersebut terbatas karena perhatian pasar lebih besar tertuju pada inflasi dan kebijakan The Fed.

Data lain dari Biro Sensus AS menunjukkan defisit perdagangan barang melebar menjadi USD118,8 miliar pada Juli, dari USD101,4 miliar pada Juni. Angka tersebut menjadi defisit perdagangan barang terbesar sejak Maret 2025.

Sementara itu, data inflasi yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan kenaikan harga di Amerika Serikat lebih tinggi dari perkiraan sepanjang Juli.

Perkembangan tersebut meningkatkan ekspektasi bahwa suku bunga dapat bertahan pada level restriktif hingga akhir tahun.

Namun, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga pada pertemuan September kembali turun. Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, peluang kenaikan suku bunga setidaknya 25 basis poin berada di 35,9 persen pada Kamis.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar masih belum memiliki kepastian mengenai arah kebijakan The Fed dalam waktu dekat.

Pidato Warsh Jadi Penentu Berikutnya

Pidato Kevin Warsh menjadi agenda utama yang diperhatikan pasar valuta asing. Sejumlah pelaku pasar memperkirakan Warsh tidak akan memberikan panduan spesifik mengenai arah kebijakan moneter.

Selain Warsh, tiga pejabat The Fed juga menyampaikan kekhawatiran mengenai prospek inflasi ketika konferensi Jackson Hole dimulai.

Mereka adalah Presiden Federal Reserve Bank of Kansas City Jeffrey Schmid, Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack, dan Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Austan Goolsbee.

Pernyataan para pejabat tersebut menjadi bagian dari perkembangan yang akan diperhatikan investor menjelang keputusan suku bunga berikutnya.

Pergerakan dolar juga menunjukkan pola musiman yang diperhatikan pasar. Analis BNY Geoff Yu mencatat bahwa dalam tiga tahun terakhir, dolar cenderung mengalami aksi jual menjelang hingga akhir Agustus.

Namun, menurutnya, pidato Chairman The Fed lebih menentukan besarnya pergerakan dolar dibandingkan arahnya.

Rupiah Menghadapi Tekanan Eksternal

Bagi rupiah, stabilnya dolar AS belum berarti tekanan eksternal hilang. Harga minyak Brent yang kembali naik hingga sekitar USD89,70 per barel menjadi faktor lain yang perlu diperhatikan.

Kenaikan harga minyak dapat meningkatkan perhatian terhadap inflasi energi dan kebutuhan impor, terutama bagi negara yang masih bergantung pada impor minyak.

Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang.

Selain itu, DXY yang bertahan di sekitar level 99 menunjukkan dolar AS masih berada pada posisi yang relatif kuat terhadap sejumlah mata uang utama. Kondisi tersebut dapat membatasi ruang penguatan rupiah.

Namun, terdapat faktor domestik yang dapat menahan tekanan terhadap rupiah. Situasi politik dalam negeri disebut mulai lebih kondusif setelah aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Kamis berakhir tertib dan damai.

Bagaimana Mata Uang Utama Lainnya?

Pergerakan mata uang utama juga menunjukkan respons terbatas terhadap perkembangan kebijakan moneter.

Terhadap yen Jepang, dolar AS menguat 0,09 persen menjadi 159,45.

Pergerakan tersebut terjadi setelah Wakil Gubernur Bank of Japan Ryozo Himino mengatakan kenaikan suku bunga yang dilakukan tepat waktu dapat membantu mencegah lonjakan inflasi yang berpotensi memaksa bank sentral melakukan pengetatan secara tiba-tiba.

Namun, Himino tidak memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga Jepang akan segera dilakukan.

Sementara itu, poundsterling melemah 0,06 persen menjadi USD1,3585 setelah investor mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Bank of England pada tahun ini. Euro juga melemah tipis 0,03 persen menjadi USD1,1646.

Proyeksi Rupiah 28 Agustus 2026

Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, rupiah pada perdagangan Jumat diperkirakan bergerak volatil dalam rentang Rp17.700–Rp17.800 per dolar AS.

Area tersebut mencakup posisi rupiah saat penutupan kemarin di Rp17.744. Faktor global menjadi perhatian utama karena investor menunggu pidato Warsh dan perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed.

Di sisi lain, kondisi politik domestik yang lebih kondusif dapat menjadi faktor penahan tekanan terhadap rupiah.

Dengan demikian, perdagangan rupiah hari ini akan berlangsung di tengah dolar AS yang relatif stabil, tetapi pasar masih menghadapi ketidakpastian mengenai arah suku bunga Amerika Serikat.

Pergerakan DXY, yield US Treasury, harga minyak, serta isi pidato Kevin Warsh menjadi sejumlah faktor yang akan dicermati pelaku pasar.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.