Pemegang obligasi sepakat menyetujui usulan restrukturisasi Obligasi III Tahap IV Tahun 2019, termasuk perpanjangan jangka waktu pelunasan
Perusahaan dengan kode saham WSKT mendapat hasil positif dari RUPO ini memperbesar peluang Otoritas Jasa Keuangandan Bursa Efek Indonesiauntuk membuka kembali perdagangan saham WSKT.
Diketahui, perdagangan saham perseroan telah dibekukanoleh BEI sejak 8 Mei 2023 akibat penundaan pembayaran pokok dan bunga obligasi yang jatuh tempo.
Saat ini harga saham WSKT tertahan di level Rp202 per lembar.
Dalam rentang lima tahun terakhir, pergerakan saham emiten BUMN konstruksi ini tercatat merosot hingga 71,94 persen atau menyusut 518 poin, dari titik tertingginya di level Rp946 hingga sempat menyentuh level terendah di Rp195 per lembar.
Direktur Keuangan Waskita Karya, Wiwi Suprihatno, menjelaskan persetujuan RUPO ini melengkapi kesepakatan restrukturisasi perbankan Master Restructuring Agreementyang sebelumnya telah disetujui oleh 21 bank pendorong.
“Langkah ini komitmen kami melanjutkan penguatan struktur keuangan berlandaskan transparansi dan tata kelola yang baik,” ujar Wiwi dalam keterangan tertulis, Jumat, 4 September 2026.
Persetujuan tersebut sekaligus menuntaskan salah satu bagian yang sebelumnya masih menjadi pekerjaan rumah dalam restrukturisasi kewajiban Waskita Karya.
Adapun satu kewajiban yang saat itu belum memperoleh persetujuan restrukturisasi adalah Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019.
Obligasi tersebut memiliki nilai pokok sebesar Rp1,36 triliun dengan tingkat bunga 9,75 persen per tahun.
Persetujuan pemegang obligasi pada RUPO 3 September 2026 menjadi perkembangan penting karena penyelesaian seri tersebut melengkapi rangkaian restrukturisasi yang telah berjalan sebelumnya.
Dengan demikian, ruang perseroan untuk menata kembali kewajiban keuangan menjadi semakin terbuka.
Restrukturisasi tersebut menjadi bagian dari upaya Waskita keluar dari tekanan keuangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun.
Perseroan sebelumnya menghadapi persoalan likuiditas setelah mengalami penundaan pembayaran pokok dan bunga sejumlah kewajiban, yang kemudian turut berdampak pada perdagangan saham WSKT di Bursa Efek Indonesia.
Setelah memperoleh persetujuan dari pemegang obligasi, fokus Waskita selanjutnya tidak hanya menyelesaikan kewajiban berdasarkan skema baru, tetapi juga menjaga kinerja operasional agar menghasilkan arus kas yang mendukung proses penyehatan.
Perbaikan tersebut menjadi penting agar restrukturisasi utang tidak berhenti pada perubahan jadwal pembayaran, melainkan diikuti dengan penguatan kondisi keuangan perseroan.
Pemangkasan Utang dan Kinerja Operasional
Sejak akhir 2023, perseroan telah mencatat penurunan total utang sebesar 20,8 persen, dari semula Rp84 triliun menjadi Rp66,5 triliun.
Selain utang pokok, Waskita menekan kewajiban pembayaran tertunggakkepada mitra vendor hingga 97,1 persen.
Tunggakan yang pada 2022 mencapai Rp2,13 triliun kini tersisa Rp48 miliar per semester I-2026. Sementara utang pajak past due dinyatakan lunas 100 persen sejak 2024.
“Kami konsisten memenuhi kewajiban yang tersisa sebagai bentuk tanggung jawab terhadap mitra usaha yang mendukung pengerjaan proyek-proyek kami,” kata Wiwi.
Secara operasional, pendapatan usaha Waskita pada semester I-2026 melesat 58,49 persen secara tahunan atau year on yearmenjadi Rp4,92 triliun, dibandingkan Rp3,1 triliun pada periode sama tahun lalu.
Pertumbuhan ini disokong oleh pengerjaan proyek Sekolah Rakyatserta jaringan irigasi Kementerian Pekerjaan Umum
Selektif Pilih Proyek
Hingga Juni 2026, Waskita meraup Nilai Kontrak Barusebesar Rp5,1 triliun. Porsi terbesar didominasi proyek konektivitas atau jalan sebesar 45,6 persen dan infrastruktur air sebesar 21,7 persen.
Beberapa proyek strategis yang sedang digarap antara lain pembangunan bendungan, rumah sakit, LRT Jakarta Fase 1B, hingga proyek internasional Bandara Presidente Nicolau Lobato di Timor Leste.
Menghindari risiko berulang, Wiwi menegaskan bahwa Waskita kini beralih menjadi kontraktor murni dan membatasi model bisnis investasi jangka panjang.
“Kami menghindari proyek turnkey maupun investasi. Perseroan berfokus pada proyek berskema pembayaran bulananserta memiliki uang muka,” tegasnya.
Menatap strategi jangka panjang, perusahaan ini juga tengah berkoordinasi dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantarauntuk optimalisasi aset jalan tol dan konsolidasi BUMN sektor konstruksi.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.