Senjata Dagang China Ambyar, LOGINK yang Digadang Kuasai Data Pelabuhan Dunia Gulung Tikar

Houthi Hantam Riyadh, Fasilitas Aramco Jadi Sasaran Balas Dendam ke SaudiHarga Minyak Jadi Rem Kenaikan PTKP, Seberapa Besar Ruang Stimulus Pemerintah?

Kementerian Kelautan dan Perikanan Korea Selatan serta Kementerian Transportasi Jepang mengatakan data yang dibagikan hanya mencakup waktu kedatangan dan keberangkatan kapal serta informasi bongkar muat. Detail mengenai isi kargo tidak ikut dibuka.

LOGINK Mulai Hilang

Setelah itu, LOGINK perlahan mundur dari panggung internasional. Keanggotaan LOGINK di IPCSA berakhir pada 2024 setelah platform tersebut berhenti membayar iuran keanggotaan, menurut sumber yang mengetahui persoalan tersebut.

Situs web LOGINK juga ikut menghilang sekitar periode yang sama. Arsip terakhir yang tersedia melalui Wayback Machine tercatat pada Juni 2024.

Manajer Umum IPCSA Inga Morton membenarkan LOGINK sudah bukan lagi anggota asosiasi tersebut. Ia juga mengatakan proyek pertukaran data internasional yang diikuti LOGINK kini “ditangguhkan dan tidak aktif”.

Kerja sama dengan Korea Selatan dan Jepang yang sebelumnya menjadi proyek internasional utama LOGINK juga ikut tersendat. Ketiga negara sempat menggelar pertemuan rutin sejak layanan tersebut diluncurkan.

Namun China tiba-tiba membatalkan agenda yang seharusnya berlangsung pada Maret 2024 dengan alasan “keadaan internal”, menurut Kementerian Kelautan Korea Selatan.

Setelah itu, tidak ada lagi pertemuan. Akses Tokyo terhadap data LOGINK melalui layanan tersebut juga terhenti tanpa pemberitahuan.

Seorang pejabat Kementerian Transportasi Jepang mengatakan kepada Reuters pada Agustus bahwa akses Jepang sudah terputus lebih dari setahun sebelumnya dan pemerintah Jepang tidak lagi dapat menghubungi mitranya di China.

Upaya LOGINK menembus Eropa juga tidak menghasilkan banyak cerita.

Ana Rita Rosa, juru bicara otoritas yang mengelola Pelabuhan Sines di Portugal, mengatakan kepada Reuters bahwa nota kesepahaman yang ditandatangani dengan LOGINK pada 2017 untuk menjajaki pertukaran data tidak menghasilkan perkembangan berarti.

Nasib serupa terjadi di Portbase, sistem digital yang menopang Pelabuhan Rotterdam, pelabuhan terbesar di Eropa. Portbase mengatakan nota kesepahaman dengan LOGINK pada 2019 tidak pernah berkembang melampaui tahap penjajakan.

Sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan pertanyaan dari pemerintah Belanda pada awal 2022 ikut mendorong Portbase untuk tidak melanjutkan kerja sama dengan platform China tersebut.

Rosa dan Portbase tidak bersedia menjelaskan apakah tekanan diplomatik Amerika Serikat ikut memengaruhi keputusan mereka. Kementerian Luar Negeri Belanda juga memilih bungkam.

Kalau cerita LOGINK di luar negeri sudah cukup pahit, persoalan di kandang sendiri ternyata tidak kalah menarik.

Perusahaan komersial yang berada di balik pusat operasional LOGINK di Wenzhou sejak Januari 2024 menghadapi sedikitnya 39 gugatan di pengadilan.

Nilai total perkara tersebut mencapai sekitar USD1,3 juta atau sekitar Rp23,27 miliar dengan kurs Rp17.900 per USD.

Data tersebut berasal dari dokumen perkara yang tercatat di Qichacha, penyedia data perusahaan di China..Sebagian perkara berkaitan dengan sengketa ketenagakerjaan.

Sebagian lainnya tampak berhubungan dengan tagihan utilitas yang belum dibayar.

Salah satu penggugatnya adalah anak usaha China Mobile. Perusahaan telekomunikasi tersebut menggugat LOGINK pada Oktober 2025 dalam perkara yang disebut sebagai sengketa kontrak penyediaan layanan.

Pengadilan kemudian memerintahkan LOGINK membayar China Mobile. Namun, dokumen perkara tidak menunjukkan apakah pembayaran tersebut benar-benar telah dilakukan.

Belum selesai dengan perkara tagihan, LOGINK juga tampaknya sedang menghadapi ancaman pengusiran dari gedung kantornya.

Pada Mei lalu, seorang hakim memimpin perkara sengketa sewa properti yang diajukan terhadap LOGINK oleh pengembang milik negara yang mengelola kawasan industri tempat pusat operasional perusahaan itu berada.

China Mobile dan perusahaan pengembang tersebut tidak memberikan tanggapan ketika dimintai keterangan.

Ketika Reuters kembali mendatangi gedung LOGINK di Wenzhou yang berada di tepi sungai di pinggiran kota, aktivitas perusahaan nyaris tidak terlihat.

Tidak ada hiruk-pikuk perusahaan teknologi yang sedang menyiapkan senjata digital untuk menguasai perdagangan dunia.

Yang tersisa justru meja dan kursi berdebu. Di dinding dekat ruangan tersebut memang masih terpampang slogan Partai Komunis China.

Isinya terdengar ironis jika melihat kondisi kantor LOGINK hari ini, yakni ambisi China untuk “memanfaatkan rantai pasok global” pada 2035.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.