Dimulai dengan pelaksanaan hak jual saham bagi pemegang saham yang menolak merger, hingga penyelesaian penggabungan entitas anak usaha.
Pasar bukan hanya sedang menghitung besaran dividen Rp270 per saham yang akan diterima, tetapi sedang mencoba memahami dampak jangka panjang dari langkah restrukturisasi yang dilakukan perseroan.
Dari sisi dividen, SMAR tergolong cukup royal. Perseroan menyiapkan dana sekitar Rp775,49 miliar atau setara Rp270 per saham yang akan dibayarkan pada 18 Juni 2026.
Dengan cum date jatuh pada 4 Juni, seharusnya saham memiliki daya tarik tambahan bagi investor yang berburu dividen.
Namun yang menarik, perhatian pasar tampaknya tidak hanya tertuju pada pembagian laba tersebut.
Pada saat yang hampir bersamaan, SMAR juga membuka kesempatan bagi pemegang saham yang tidak menyetujui aksi merger untuk menjual saham mereka kepada perseroan dengan harga Rp5.265 per saham.
Harga ini berada di atas penutupan perdagangan terakhir yang berada di level Rp4.750.
Selisih tersebut menciptakan semacam “jangkar valuasi” di benak investor.
Ketika pasar mengetahui ada harga referensi Rp5.265 dalam aksi pembelian kembali saham, maka secara psikologis area tersebut menjadi patokan untuk menilai apakah harga pasar saat ini sudah terlalu murah atau masih memiliki ruang kenaikan.
Di sisi lain, merger yang dilakukan sebenarnya tidak mengubah struktur kepemilikan maupun kendali perusahaan. Perseroan hanya menggabungkan PT Perusahaan Perkebunan Panigoran, anak usaha yang dimiliki 100 persen, ke dalam tubuh SMAR.
Secara ekonomi, transaksi ini tidak menciptakan perpindahan aset ke pihak luar. Namun langkah tersebut menunjukkan upaya penyederhanaan struktur usaha yang biasanya dilakukan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan administrasi.
Meski begitu, respons pasar sejauh ini masih terbilang hati-hati.
Pada perdagangan 3 Juni 2026, sehari menjelang cum date, saham SMAR ditutup di level Rp4.750 atau turun 2,46 persen dari penutupan sebelumnya.
Sepanjang perdagangan, saham sempat menyentuh level tertinggi Rp4.930 sebelum akhirnya melemah hingga mendekati area Rp4.650.
Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar belum sepenuhnya larut dalam euforia dividen maupun aksi korporasi yang dilakukan perseroan.
Gambaran serupa terlihat dari orderbook. Di sisi bid, antrean beli terbesar terkonsentrasi pada area Rp4.650 hingga Rp4.700.
Sementara di sisi offer, antrean jual relatif tipis tetapi tersebar merata hingga area Rp4.900.
Menariknya, posisi harga saat ini masih berada sekitar 10 persen di bawah harga penawaran buyback sebesar Rp5.265 per saham.
Artinya, pasar masih memberikan diskon terhadap valuasi yang secara implisit ditawarkan perseroan kepada pemegang saham yang memilih keluar dari skema merger.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.