Suahasil menyebut pembahasan kinerja APBN September tahun ini akan dilakukan dalam waktu dekat, dengan penerimaan pajak menjadi salah satu perhatiannya.
Suahasil mengatakan, pembahasan APBN September 2026 akan dilakukan setelah angka atau data yang dibutuhkan tuntas dihimpun pihaknya.
“By the way, besok saya berencana, kalau bisa hari ini atau besok paling lama kita membicarakan mengenai APBN tutup bulan September.
Dan dalam waktu yang tidak terlalu lama, kita sampaikan kepada media karena media tetap menunggu APBN kita,” ujar Suahasil dalam pelantikan pejabat Kemenkeu di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta dalam siaran video, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia menegaskan penerimaan pajak menjadi bagian penting dalam evaluasi kinerja APBN September.
Karena itu, Suahasil mengaku mulai melihat perkembangan angka penerimaan tersebut sebagai bagian dari persiapan penyampaian kinerja fiskal kepada publik.
“Dan pajak adalah bagian yang sangat penting dari APBN kita, karena itu saya mulai lihat angkanya dan nanti kita mulai susun narasi publik untuk angka-angka akhir September tersebut,” katanya.
Data Kemenkeu menunjukkan hingga akhir Agustus 2026, pendapatan negara telah mencapai Rp2.055,6 triliun atau 65,2 persen dari target APBN.
Dari jumlah tersebut, penerimaan pajak tercatat Rp1.409 triliun atau 59,8 persen dari target dalam APBN 2026.
Sedangkan penerimaan kepabeanan dan cukai mencapai Rp210,2 triliun atau 62,6 persen. Untuk Penerimaan Negara Bukan Pajak, hingga akhir Agustus 2026 mencapai Rp435,1 triliun atau 94,8 persen dari target.
Terkait belanja negara, pemerintah telah merealisasikan Rp2.295,7 triliun hingga 31 Agustus 2026 atau 59,7 persen dari pagu belanja negara.
Realisasi tersebut membuat APBN mencatat defisit Rp240,1 triliun atau 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto
Selain itu menurut data tersebut, keseimbangan primer masih mencatat surplus sebesar Rp154 triliun.
Dalam postur APBN 2026, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp3.147,7 triliun dan belanja negara Rp3.786,5 triliun. Dengan demikian, defisit anggaran dirancang sebesar Rp638,8 triliun atau 2,48 persen terhadap PDB.
Selain mengevaluasi APBN berjalan, Suahasil meminta seluruh jajaran Kemenkeu mulai mempersiapkan pelaksanaan APBN 2027 yang telah disetujui Dewan Perwakilan RakyatIa menekankan penyelesaian target APBN 2026 merupakan tanggung jawab seluruh unit kerja, baik di pusat maupun daerah.
“Secara umum, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan kepada Saudara-saudara semua bahwa kita harus segera menyelesaikan seluruh target-target 2026, APBN 2026, dan pada saat yang bersamaan mempersiapkan pelaksanaan APBN 2027 yang telah ditetapkan oleh DPR, dan sebentar lagi moga-moga menjadi undang-undang,” ujar Suahasil.
Ia juga meminta jajaran Kemenkeu memperkuat konsolidasi untuk memastikan seluruh target fiskal tahun ini dapat dicapai, mulai dari penerimaan negara, belanja hingga pembiayaan.
“Segera konsolidasi, dilanjutkan konsolidasi di tempatnya masing-masing di berbagai macam unit di pusat maupun di daerah, dan saya ingin memastikan bahwa target-target yang kita miliki dapat kita tuntaskan, baik target penerimaan, target untuk belanja negara, maupun target-target pembiayaan kita,” pungkasnya.
Suahasil Bicara APBN September dan Kondisi Ekonomi RI
Sebelumnya pada awal Oktober, Suahasil Nazara sempat menyampaikan beberapa kinerja dalam APBN September 2026. Ia menyebut, pihaknya tengah menghitung berbagai data yang diperlukan dalam laporan APBN KiTa periode tersebut.
“APBN KiTa saya usahakan sekaligus ini mengasih instruksi kepada semua, segera difinalkan dan kemudian kita segera menyampaikan kepada media APBN akhir September ini segera.
Kalau bisa sebelum tanggal 11,” ujarnya di kantor Kementerian Keuangan, Kamis, 1 Oktober 2026.
“Oh next week, nah udah dijanjikan next week. Sabar sampai kita finalkan angkanya, nanti kami sampaikan ke media,” lanjut Suahasil.
Meski APBN KiTa disebut belum final, Menkeu sudah menginformasikan beberapa capaian keuangan negara. Suahasil menyatakan, Purchasing Managers’ Indexmanufaktur Indonesia kembali ke zona ekspansif.
“Hari ini ada beberapa angka yang keluar yang cukup membesarkan hati. Pertama adalah PMI, angka PMI kita akhir September tercatat menjadi 52 dan ini berarti kembali ke zona ekspansif,” sebut Suahasil.
Sementara hingga akhir Agustus lalu, PMI manufaktur Indonesia tercatat di level 49,8 atau berada di zona kontraksi. Sebelumnya pada Juli 2026, PMI manufaktur nasional berada pada level 50,2.
Capaian PMI manufaktur pada September 2026 tersebut, dianggap sebagai perbaikan ekonomi oleh Suahasil. “Setelah bulan sebelumnya itu di 49, jadi ini tanda perekonomian kita bergerak,” katanya.
Lebih lanjut, Bendahara Negara tersebut juga mengumumkan tingkat inflasi Indonesia sampai akhir September 2026 di posisi 3,28 persen. Menurutnya, inflasi tersebut juga menunjukkan kondisi ekonomi yang tetap bergerak dan masih terjaga.
Sementara pada Agustus lalu, tingkat inflasi secara tahunan menurut data Badan Pusat Statistikmencapai 3,19 persen atau 0,21 persen secara bulanan.
“Inflasi juga keluar angka yang cukup baik, 3,28 persen yang berarti bahwa gerak ekonomi terjadi.
3,28 persen itu ada di dalam range 2,5 persen plus minus 1, jadi perekonomiannya terjaga, inflasi terjaga, malah inflasinya ini kita harapkan nanti memberikan sinyal kepada dunia usaha untuk melanjutkan proses produksi,” jelasnya.
Suahasil menyebut, skor PMI manufaktur beserta inflasi tersebut diharapkan sesuai dengan target pertumbuhan ekonomi. Pemerintah sendiri menargetkan pertumbuhan ekonomi 2026 sebesar 6 persen.
Sementara pada Semester I 2026, pertumbuhan ekonomi domestik tercatat sebesar 5,45 persen dan 5,29 persen pada Triwulan II tahun ini.
“Bersama-sama dengan PMI melanjutkan proses produksi, memproduksi barang dan jasa yang lebih banyak, menumbuhkan ekonomi,” ucap Suahasil.
Selain itu, Suahasil juga menginformasikan bahwa trade balance atau neraca perdagangan nasional hingga akhir September 2026 membukukan raihan positif dengan surplus USD3,5 miliar.
“Kita juga lihat statistik lain yaitu trade balance yang juga positif di 3,5 billion USD. Jadi ini juga angka yang baik, kembali ke teritori positif,” pungkasnya.
Sebagai informasi, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari sampai Agustus 2026 mencatat surplus kumulatif sebesar USD7,5 miliar. Khusus Agustus tahun ini, secara bulanan angkanya sebesar USD3,55 miliar.
Disclaimer
Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.
Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.
Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.