Pergeseran ini diperkirakan terjadi dalam beberapa tahun ke depan.
Pengamat otomotif, Yannes Martinus Pasaribu menyebut bahwa dalam rentang 2026 hingga 2030, kendaraan listrik tidak lagi diposisikan sebagai produk premium berbasis teknologi, melainkan sebagai pilihan kendaraan sehari-hari yang bersaing langsung dengan mobil bensin.
Ia menambahkan, jika baterai ion natrium diproduksi secara luas dan digunakan oleh berbagai merek, maka lanskap otomotif Indonesia akan mengalami perubahan mendasar.
“Jika benar CATL akan meluncurkan secara massif tahun 2026 kepada banyak brand kendaraan, maka lanskap otomotif Indonesia akan mengalami pergeseran fundamental,” ujarnya.
Menurut Yannes, dalam fase tersebut, daya tarik kendaraan listrik tidak lagi ditentukan oleh kemewahan fitur, tetapi oleh kekuatan ekonomi yang ditawarkan.
“Perkembangan EV di Indonesia tidak lagi ditentukan oleh kemewahan atau kecanggihan fitur, melainkan oleh kekuatan ekonomi murni yang dibawa oleh teknologi baterai ini,” tuturnya.
Ia menilai kombinasi harga awal yang mendekati mobil bensin dan biaya operasional yang rendah akan mendorong perubahan besar dalam pasar otomotif nasional.