Keputusan tersebut disampaikan manajemen dalam Public Expose 2025 yang digelar di Jakarta pada 20 Mei 2026.
Direktur XLSMART Antony Susilo, mengatakan perusahaan tidak dapat membagikan dividen karena masih mencatat rugi bersih pada tahun buku 2025 sesuai ketentuan Undang Undang Perseroan Terbatas Indonesia.
“Untuk tahun keuangan 2025, XLSMART masih mencatat kerugian, oleh karena itu Perseroan memutuskan untuk tidak mendistribusikan dividen pada RUPS tahun ini,” ujar Antony dalam sesi tanya jawab Public Expose.
Meski tidak membagikan dividen, manajemen menegaskan kondisi rugi tersebut lebih banyak dipengaruhi biaya integrasi merger yang bersifat satu kali atau one off.
Perusahaan juga mencatat percepatan depresiasi perangkat jaringan yang sudah tidak digunakan pasca pengembalian spektrum 900 MHz.
Sempat Ambruk Tajam
Tidak hanya merugi pasca merger, saham EXCL juga sempat ambruk tajam. Tekanan terbesar terjadi pada perdagangan 21 Mei 2026.
Saham EXCL jatuh 8,59 persen atau turun 250 poin ke level Rp2.660.
Nilai transaksi saat itu mencapai Rp37,49 miliar dengan volume perdagangan 135,72 ribu lot dan frekuensi transaksi 4,66 ribu kali. Harga saham sempat dibuka tinggi di Rp2.910 sebelum akhirnya ditutup di titik terendah hariannya.
Tekanan jual cukup besar setelah pasar mencerna dampak merger dan keputusan tidak adanya pembagian dividen. Trader jangka pendek terlihat melakukan pengurangan posisi setelah saham gagal bertahan di area psikologis Rp2.900.
Menariknya, di tengah tekanan harga tersebut asing justru masih mencatat net foreign buy Rp7,09 miliar. Nilai pembelian asing mencapai Rp21,46 miliar sementara penjualan asing berada di Rp14,38 miliar.
Pola itu cukup penting dibaca pasar. Ketika harga jatuh tajam tetapi asing masih melakukan pembelian bersih, pelaku pasar biasanya mulai menduga adanya akumulasi bertahap di area bawah.
Tekanan sebenarnya sudah mulai muncul sejak 18 Mei 2026. Pada hari itu EXCL turun 2,97 persen ke level Rp2.940.
Koreksi berlanjut pada 19 Mei 2026 ketika saham turun lagi ke Rp2.930. Pelemahan masih relatif terbatas, tetapi arah pergerakan mulai menunjukkan distribusi perlahan setelah saham gagal menjaga momentum penguatan sebelumnya.
Pada 20 Mei 2026, saham kembali melemah ke level Rp2.910. Hari tersebut menjadi satu satunya sesi dalam sepekan terakhir ketika asing mencatat net sell meski relatif kecil yakni Rp1,04 miliar.
Kondisi mulai berubah drastis sehari setelahnya ketika saham longsor ke Rp2.660.
Asing Masuk saat Harga Turun
Salah satu bagian paling menarik dari pergerakan EXCL justru terlihat dari pola transaksi asing. Dalam lima hari perdagangan terakhir, investor asing secara total masih membukukan akumulasi bersih.
Pada 18 Mei 2026, net foreign buy mencapai Rp4,18 miliar. Angka itu meningkat menjadi Rp1,57 miliar pada 19 Mei 2026 sebelum sempat berubah menjadi net sell kecil sehari kemudian.
Ketika saham jatuh tajam pada 21 Mei 2026, asing kembali masuk dengan pembelian bersih Rp7,09 miliar. Puncaknya terjadi pada 22 Mei 2026 ketika EXCL melonjak 3,38 persen ke level Rp2.750 dan asing mencatat net buy Rp14,50 miliar.
Nilai pembelian asing pada hari tersebut mencapai Rp25,56 miliar. Sementara penjualan asing tercatat Rp11,06 miliar.
Pola tersebut memperlihatkan investor asing masih aktif membaca peluang jangka menengah EXCL pasca merger.
Pasar tampaknya mulai membedakan antara kerugian akuntansi akibat integrasi dan kemampuan operasional perusahaan menghasilkan arus kas.
Dalam Public Expose, manajemen memang menjelaskan kerugian perusahaan lebih banyak berasal dari biaya integrasi merger dan depresiasi non tunai.
“Apabila dinormalisasi terhadap item tersebut, Perseroan masih membukukan laba operasional yang positif,” kata Antony Susilo.
Pernyataan tersebut kemungkinan menjadi salah satu faktor yang membantu meredakan tekanan pasar. Investor mulai membaca bahwa rugi bersih perusahaan belum tentu mencerminkan pelemahan fundamental operasional secara penuh.
Rebound EXCL Ubah Sentimen Pasar
Setelah jatuh ke Rp2.660 pada 21 Mei 2026, saham EXCL langsung memantul cepat sehari berikutnya. Saham naik 90 poin atau 3,38 persen ke level Rp2.750.
Kenaikan itu menjadi sinyal bahwa area bawah Rp2.600 mulai menarik minat beli baru. Harga bahkan sempat menyentuh level tertinggi Rp2.780 pada perdagangan 22 Mei 2026.
Momentum rebound berlanjut pada perdagangan hari ini, Senin, 25 Mei 2026. EXCL dibuka di level Rp2.720 sebelum akhirnya melonjak ke Rp2.840.
Kenaikan intraday tersebut membuat saham mencatat penguatan 3,27 persen. Harga bergerak dalam rentang Rp2.700 hingga Rp2.840 dengan rata rata transaksi di area Rp2.763.
Meski nilai transaksi hari ini masih relatif kecil yakni Rp10,15 miliar, arah rebound mulai memberi sinyal bahwa tekanan jual besar kemungkinan mulai mereda sementara.
Pasar mulai memperhatikan apakah EXCL mampu kembali menembus area psikologis Rp2.900. Area tersebut sebelumnya menjadi titik distribusi kuat sebelum saham mengalami koreksi tajam.
Jika saham mampu bertahan di atas Rp2.800 dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya, peluang penguatan lanjutan menuju area Rp2.900 hingga Rp3.000 mulai terbuka kembali.
Sebaliknya, jika volume perdagangan kembali melemah dan asing mulai melakukan distribusi, rebound yang terjadi bisa berubah menjadi sekadar technical rebound jangka pendek.
Disclaimer:
Berita atau informasi yang Anda baca membahas emiten atau saham tertentu berdasarkan data yang tersedia dari keterbukaan informasi PT Bursa Efek Indonesia dan sumber lain yang dapat dipercaya. Konten ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Selalu lakukan riset mandiri dan konsultasikan keputusan investasi Anda dengan penasihat keuangan profesional. Pastikan Anda memahami risiko dari setiap keputusan investasi yang diambil.