Tak Hanya Filipina, WTON Jajaki Peluang Bisnis di Sejumlah Negara ASEAN

Soal Proyek LNG Alaska, WTON Masih Tunggu Pematangan DesainIntip Detail Rumah WHOME WIKA Betondi Danantara Housing Expo 2026

Pendapatan usaha WTON pada semester I tercatat sebesar Rp1,48 triliun, menyusut dari posisi periode sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp1,56 triliun.

Komposisi pendapatan Wika Beton masih didominasi oleh segmen produk putar masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi 47,91 persen.

Selanjutnya, segmen produk nonputar menyumbang 34,44 persen, konstruksi 13,27 persen, dan jasa sebesar 4,37 persen.

Dalam keterangannya, manajemen WIKA Beton menyebut pertumbuhan kinerja didukung oleh sejumlah langkah efisiensi operasional.

Di antaranya melalui divestasi aset nonproduktif, optimalisasi sistem digital berbasis enterprise resource planning, serta penguatan tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance/GCG).

Langkah efisiensi tersebut tercermin pada penekanan beban pokok pendapatan yang menciut menjadi Rp1,38 triliun dari sebelumnya Rp1,47 triliun.

Alhasil, WTON mengantongi laba kotor sebesar Rp98,39 miliar, menanjak dari edisi sama tahun lalu senilai Rp90,82 miliar.

Penurunan juga terjadi pada pos jumlah beban usaha yang berkurang menjadi Rp71,29 miliar dari Rp77,43 miliar. Rinciannya, beban umum dan administrasi susut menjadi Rp68,64 miliar dari Rp76,35 miliar.

Sebaliknya, beban pengembangan bisnis membengkak menjadi Rp2,35 miliar dari Rp819,13 juta, serta beban pemasaran naik tipis menjadi Rp292,03 juta dari Rp259,30 juta.

Berkat pangkasan biaya operasional tersebut, laba usaha WTON melonjak signifikan menjadi Rp27,09 miliar dibanding Rp13,38 miliar pada semester I 2025.

Namun, laju kenaikan laba tertahan oleh pembengkakan beban lain-lain yang melonjak menjadi Rp24,90 miliar dari sebelumnya Rp5,46 miliar.

Setelah dikurangi beban pajak penghasilan yang sebesar Rp2,19 miliar (turun dari Rp7,92 miliar), laba bersih tahun berjalan perseroan tercatat sebesar Rp1,02 miliar.

Dari sisi neraca dan kesehatan keuangan, WIKA Beton mencatat current ratio sebesar 130,95 persen.

Sementara itu, rasio utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) membaik turun menjadi 71,52 persen dari posisi 81,75 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Penurunan rasio ini menunjukkan tingkat leverage perusahaan yang semakin sehat, meski DER masih berada di atas level 70 persen.

Hingga akhir Juni 2026, jumlah aset WTON melesat menjadi Rp6,31 triliun dibandingkan Rp6,29 triliun pada akhir tahun 2025. Total ekuitas perseroan juga meningkat menjadi Rp2,63 triliun dari posisi akhir tahun lalu sebesar Rp2,60 triliun.

Sekretaris Perusahaan WIKA Beton, Ignatius Harry, mengatakan disiplin dalam pengelolaan keuangan menjadi salah satu faktor yang menopang kinerja perusahaan.

“Kestabilan operasional dan keuangan yang tercapai saat ini menunjukkan langkah WIKA Beton sudah cukup efektif.

Fokus Perusahaan saat ini adalah menjaga ritme tersebut demi mewujudkan penciptaan nilai tambah bagi para pemangku kepentingan dan masyarakat,” kata Harry dalam keterangan tertulis Kamis, 30 Juli 2026.

Memasuki semester II 2026, WIKA Beton menyatakan akan melanjutkan transformasi bisnis sebagai bagian dari ekosistem Danantara dan badan usaha milik negaraPerseroan menyebut berbagai inisiatif tersebut diarahkan untuk mendukung keberlanjutan usaha dan memperkuat kinerja keuangan pada jangka panjang.

Disclaimer

Seluruh informasi yang disajikan dalam artikel ini bertujuan untuk menambah wawasan dan referensi pembaca mengenai pasar modal, ekonomi, bisnis, dan investasi.

Informasi, opini, maupun analisis yang dimuat tidak dapat dijadikan sebagai ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual instrumen investasi tertentu.

Setiap keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab masing-masing pembaca. tidak bertanggung jawab atas segala bentuk kerugian maupun konsekuensi yang timbul dari penggunaan informasi dalam artikel ini.